Antara Abu Al-Bukhturi dan Pemboikotan Keluarga Rasulullah SAW

Antara Abu Al-Bukhturi dan Pemboikotan Keluarga Rasulullah SAW

MUSTANIR.com – Pada suatu hari, Abu Jahal berjumpa dengan Hakim bin Hizam -keponakan Khadijah istri Rasulullah- yang diam-diam sedang bersama budaknya mengangkut gandum ke suatu tempat. Abu Jahal tahu ke mana mereka akan membawa gandum itu. Yakni ke tempat isolasi Bani hasyim yang sedang mengalami pemboikotan oleh masyarakat Quraisy Makkah. Iapun menghadanngnya dan melarang perbuatan Hakim sambil mengancamnya. Kebetulan lewatlah Abu AL-Bukhturi bin Hisyam lalu ia mendatangi mereka. “Apa masalahmu dengannya?” Tanya Abu Al-Buhkturi. “Dia mau mengantarkan makanan kepada Bani Hasyim,” jawab Abu Jahal. Abu Al-Bukhturi lantas menukas, “makanan ini awalnya milik bibinya, bibinya telah mengirimkan kepadanya. Lalu mengapa engkau melarangnya untuk mengembalikan makanan ini pada bibinya? Biarkanlah dia pergi.”

Karena Abu Jahal tidak mau menerima saran Abu Al-Bukhturi sedangkan di sisi lain Abu Al-Bukhturi telah muak dengan sikap Abu Jahal yang semena-mena kepada Rasulullah, kaum muslimin dan Bani Hasyim maka terjadilah duel antara keduanya. Namun ternyata Abu Al-Bukhturi lebih perkasa daripada Abu Jahal. Pada sebuah kesempatan, dipungutnya sepotong tulang rahang unta di tanah dan dipukulkannya ke arah kepala Abu Jahal. Abu Jahal terhuyung, kepalanya mengucurkan darah. Namun Abu Al-Bukhturi tak memberinya kesempatan. Abu Al-Bukhturi lalu menginjak Abu Jahal yang sudah tak berdaya.

********

Jika kita menganalisa, sumber perselisihan antara Abu Jahal dengan Abu Al-Bukhturi adalah kebijakan Abu Jahal dan para pemimpin Quraisy untuk memboikot Rasulullah dan para pengikutnya beserta Bani Hasyim yang melindunginya. Kejadian ini terekam dengan jelas dalam Sirah Ibnu Hisyam. Abu Al-Bukhturi bukanlah seorang muslim, dia hanyalah salah satu warga Makkah dan saudagar seperti Abu Jahal. Dia juga bukanlah anggota keluarga Rasulullah dari Bani Hasyim. Namun hati kecilnya terusik melihat penderitaan Bani Hasyim dan kaum muslimin. Pemboikotan telah membuat mereka tak memiliki akses sosio-ekonomi sehingga mereka mengalami kelaparan dan penderitaan yang luar biasa. Mungkin awalnya Abu Al-Bukhturi tak peduli, namun ketika hati kecilnya masih menyisakan sebuah ruang untuk kata “keadilan” maka ia terdorong untuk melakukan pembelaan. Kelak di kemudian hari, Abu Al-Bukhturi menjadi salah seorang motor dihapuskannya naskah pemboikotan terhadap Bani Hasyim. Maka berakhirlah pemboikotan itu, meskipun Abu Al-Bukhturi tetap dalam kekafirannya.

Begitulah, di setiap masa, pasti ada saja orang baik yang di dalam hatinya meyakini cita-cita keadilan dan rasa kemanusiaan. Ketika para pejuang Syariah dan Khilafah Islam suatua ketika harus mengalami “pemboikotan,” ketika kekejaman dan ketidak adilan terhadap mereka sudah di luar batas peri kemanusiaan, maka akan muncul Abu Al-Bukhturi-Abu Al-Bukhturi baru yang tampil menyuarakan keadilan bagi para pejuang Syariah dan Khilafah. Mereka mungkin bukan bagian dari kelompok pejuang Syariah-Khilafah awalnya, namun mereka akan membela para pejuang Syariah dan Khilafah bahkan walau harus mengambil resiko bagi diri mereka sendiri.

Maka bagi para pejuang, seharusnya mereka tetap istiqamah. Tak mungkin seorang Abu Al-Bukhturi muncul tiba-tiba dari langit. Tak mungkin tindakannya itu tak memiliki latar lain. Pasti telah banyak penggalan episode yang telah dilalui oleh Abu Al-Bukhturi dalam berinteraksi dengan Rasulullah, kaum muslimin dan Islam. Meskipun di satu sisi dia tak mau menerima apa yang dibawa oleh Rasulullah, namun di sisi lain ia salut dan kagum akan konsistensi dan kesabaran Rasulullah dan para sahabatnya. Ia merasa tidak pantas Rasulullah beserta para pendukung dan pembelanya diperlakukan tidak manusiawi. Itulah hasil dari dakwah, tidak ada yang bisa menyangka dan menebaknya. Pertolongan itu semata dari Allah. Maka di manakah Abu Al-Bukhturi saat ini? Dia ada dan bersama kita saat ini, sedang memperhatikan kita dengan seksama. Maka istiqamah dan bersabarlah [].

Judul Asli : Kisah Abu Al-Bukhturi
Oleh: Muhammad Faisal (HTI Bima)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories