Beberapa Shalat yang Dianjurkan Dikerjakan Secara Ringkas

MUSTANIR.net – Shalat adalah ibadah yang agung dalam Islam. Shalat adalah tiang agama, pembeda antara iman dan kufur. Shalat juga adalah amalan yang akan dihisab pertama kali di hari kiamat. Maka asalnya, shalat itu semestinya dikerjakan dengan tenang. Bahkan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengancam orang yang shalatnya terlalu cepat sehingga tidak tuma’ninah. Beliau Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:

أسوأ الناس سرقة الذي يسرق من صلاته“. قالوا: يا رسول الله! وكيف يسرق من صلاته؟ قال: لا يُتمّ ركوعها وسجودها

“Pencuri yang paling bejat adalah orang yang mencuri dalam shalatnya”. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana mencuri dalam shalat itu?”. Beliau menjawab: “Yaitu dengan tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya” (HR. Ibnu Hibban no. 1888, dihasankan Al Albani dalam Ashl Sifat Shalat Nabi, 2/644).

Namun ada beberapa shalat yang disyariatkan dikerjakan dengan ringan dan ringkas, tidak berlama-lama. Yaitu beberapa shalat berikut ini:

1.Shalat sunnah thawaf
Dalam hadits Jabir bin Abdillah radhiallahu’anhu, ia mengatakan:

فَجَعَلَ المَقَامَ بيْنَهُ وبيْنَ البَيْتِ كانَ يَقْرَأُ في الرَّكْعَتَيْنِ {قُلْ هو اللَّهُ أَحَدٌ} وَ{قُلْ يا أَيُّهَا الكَافِرُونَ}

“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam (setelah thawaf) beliau menjadikan maqam ibrahim ada di antara beliau dan Ka’bah. Kemudian dalam shalat tersebut beliau membaca surat Qulhuwallahu ahad dan Qul yaa ayyuhal kafirun” (HR. Muslim no. 1218).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan:

واعلم أن المشروع في هاتين الركعتين : التخفيف ، وأن يقرأ فيهما ( قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ ) ، و ( قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ) وأنه ليس قبلهما دعاء ، وليس بعدهما دعاء

Ketahuilah bahwa yang disyariatkan dalam mengerjakan dua rakaat setelah thawaf adalah denagn takhfif (ringkas). Dan membaca Qul yaa ayyuhal kafirun dan Qulhuwallahu ahad. Dan tidak ada sebelumnya tidak ada doa, demikian juga setelahnya tidak ada doa” (Majmu’ Al Fatawa Ibnu Al Utsaimin, 24/463-464).

2.Shalat sunnah fajar (qobliyah subuh)
Dari Aisyah radhiallahu’anha, ia berkata:

كانَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ بيْنَ النِّدَاءِ والإِقَامَةِ مِن صَلَاةِ الصُّبْحِ

“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam biasanya shalat dua rakaat yang ringan antara adzan dan iqamah shalat subuh” (HR. Bukhari no. 619, Muslim no. 738).

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu’anhuma, beliau berkata:

أنَّ رَسولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ كانَ إذَا اعْتَكَفَ المُؤَذِّنُ لِلصُّبْحِ، وبَدَا الصُّبْحُ، صَلَّى رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ قَبْلَ أنْ تُقَامَ الصَّلَاةُ

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam biasanya ketika muadzin sudah terdiam di waktu subuh, dan sudah masuk waktu subuh, maka beliau shalat yang ringan dua rakaat sebelum iqamah” (HR. Bukhari no. 618, Muslim no. 723).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan:

سنة الفجر السنة فيها التخفيف

“Shalat sunnah fajar disunnahkan dikerjakan secara ringaks” (Liqa Babil Maftuh, 44).

3.Shalat sunnah tahiyatul masjid di hari Jum’at jika datang ketika khatib sudah khutbah
Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu’anhu, ia berkata:

جَاءَ سُلَيْكٌ الْغَطَفَانِيُّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ ، فَجَلَسَ ، فَقَالَ لَهُ : ( يَا سُلَيْكُ ، قُمْ فَارْكَعْ رَكْعَتَيْنِ ، وَتَجَوَّزْ فِيهِمَا)، ثم قال: (إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ ، فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ ، وَلْيَتَجَوَّزْ فِيهِمَا

“Sulaik Al Ghathafani atang di hari Jum’at ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam sudah berkhutbah. Sulaik pun duduk. Maka Nabi bersabda: wahai Sulaik, berdirilah kemudian shalat dua rakaat dan percepatlah shalatnya”. Kemudian setelah itu Nabi bersabda: “Jika kalian mendatangi masjid di hari Jum’at ketika imam sudah berkhutbah, maka shalatlah dua raka’at dan percepatlah shalatnya” (HR. Muslim no. 875).
Dalam hadits ini jelas diperintahkan oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam untuk memperingkas shalat tahiyyatul masjid ketika khatib sudah berkhutbah.

4.Jika di tengah shalat sunnah, kemudian sudah dikumandangkan iqamah
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إذا أقيمت الصلاة فلا صلاة إلا المكتوبة

“Jika iqamah dikumandangkan, maka tidak ada shalat lagi selain shalat wajib” (HR. Muslim no. 710).

Syaikh Abdul Karim Al Khudhair menjelaskan:

فإذا كان الصلاة مضى منها ما يسمى صلاة فإبطالها فيه نظر، فإذا صلى صلاة كاملة -ركعة كاملة- يُتم الباقي خفيف ويلحق به، أما إذا لم يصل ركعة كاملة يقطعها

“Jika shalat sudah dikerjakan dan sudah disebut satu shalat maka mengenai pendapat yang membolehkan membatalkannya, ini perkara yang perlu dikritisi. Jika seseorang shalat (sunnah) lalu sudah melewati satu rakaat sempurna maka hendaknya selesaikan rakaat sisanya dengan ringkas. Namun jika belum sampai satu rakaat sempurna maka wajib dibatalkan” (Fatawa Mauqi’ Thariqul Islam, no.42694).
Jika di tengah shalat, imam mendengar anak kecil menangis
Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إِنِّي لَأَدْخُلُ فِي الصَّلاَةِ وَأَنَا أُرِيدُ إِطَالَتَهَا، فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ، فَأَتَجَوَّزُ فِي صَلاَتِي مِمَّا أَعْلَمُ مِنْ شِدَّةِ وَجْدِ أُمِّهِ مِنْ بُكَائِهِ

Aku pernah mengimami shalat dan aku berniat untuk memperpanjang shalat tersebut. Namun aku mendengar tangisan anak kecil. Maka aku ringkas shalat tersebut karena aku memahami betapa berat perasaan ibunya karena tangisan anaknya” (HR. Bukhari no. 709, Muslim no. 470).

Dalam hadits ini juga jelas dicontohkan oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bahwa beliau mempercepat shalat ketika mendengar ada anak kecil yang menangis dan khawatir membuat ibunya bersedih.

Namun mempercepat shalat yang dimaksud di atas bukan berarti mempercepat hingga terlalaikan rukun-rukun shalat. Yang demikian tidak diperbolehkan, karena dicela oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam sebagai pencurian yang paling bejat. Sebagaimana dalam hadits lain, disebutkan ancaman yang lebih keras bagi orang yang tidak menyempurnakan rukun-rukun shalat.

رأى رجلًا لا يتمُّ ركوعَه ، وينقرَ في سجودهِ وهو يصلِّي ، فقال : لو ماتَ هذا على حالهِ هذه ، مات على غيرِ ملَّةِ محمدٍ صلَّى اللهُ عليه وسلم ، ينقُر صلاتَه كما ينقرُ الغرابُ الدَّمَ ، مثَلُ الذي لا يتمُّ ركوعَه وينقرُ في سجودهِ ، مَثلُ الجائعِ الذي يأكلُ التمرةَ والتمرتينِ ، لا يُغنيانِ عنه شيئًا

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam melihat seorang lelaki yang tidak menyempurnakan rukuknya, dan ia mematuk-matik di dalam sujudnya (karena saking cepatnya) ketika dia shalat. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika orang ini mati dalam keadaan seperti ini, maka dia tidak mati di atas ajaran Muhammad. Ia mematuk-matuk seperti gagak mematuk daging. Permisalan orang yang tidak menyempurnakan rukuknya dan mematuk-matuk dalam sujudnya seperti seorang yang lapar yang hanya memakan satu atau dua buah kurma. Itu tidak mencukupinya sedikit pun” (HR. Ath Thabrani, dishahihkan Al Albani dalam Ashl Sifat Shalat Nabi, 2.642).

Maka mengerjakan secara ringkas shalat-shalat di atas wajib dengan tetap mengerjakan rukun-rukunnya dengan sempurna.

Sumber: Muslim.or.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories