Tujuan puasa dan ibadah kita di bulan Ramadhan sangatlah jelas, yakni kita diharapkan menjadi orang yang taqwa. Yang menonjol pada puasa adalah ibadah fisik. Tapi, dampak yang diharapkan adalah dampak kejiwaan: la’allakum tattaqun; semoga kita menjadi taqwa. Taqwa jelas kondisi jiwa, bukan kondisi badan. Karena itu, pada hakikatnya, puasa Ramadhan adalah ibadah pembersihan kejiwaan yang dikenal dengan istilah “tazkiyyatun nafs”. 

Tazkiyyatun nafs menjadi satu tugas penting yang diemban oleh Nabi Muhammad terhadap umat beliau. “Dialan (Allah) yang telah mengutus kepada ummat yang ummi, seorang Rasul dari kalangan mereka; dia membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan jiwa mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan hikmah.” (QS 62:2).

Karena itu, kewajiban besar manusia pengikut Nabi Muhammad saw adalah melakukan upaya pensucian jiwanya. “Sungguh telah meraih kemenangan, orang yang mensucikan (jiwa)nya, dan merugikan orang yang mengotorinya.” (QS 91:9-10). 

Nabi Muhammad saw bersabda: “Allah SWT berfirman bahwa sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif, kemudian datanglah setan kepada mereka, maka kemudian setan pun menyelewengkan mereka dari agama mereka.” (HR Muslim).

Jiwa manusia memang diberi kemampuan oleh Allah untuk memilih yang baik dan yang buruk. (QS 91:8). Maka, beruntunglah orang yang mau mensucikan jiwanya, dan merugilah orang yang mengotori jiwanya. Imam Ibn Katsir, dalam tafsirnya, menjelaskan, bahwa maksud mensucikan jiwa adalah menjalankan ketaatan kepada Allah SWT. Ada doa khusus yang dibaca Rasulullah saw saat membaca ayat ini: “Allahumma Ẩti nafsiy taqwâhâ Anta waliyyuhâ wa-mawlâhâ wa khayru man zakkâhâ.” (Ya Allah, berikanlah kepada jiwaku ketaqwaannya, Engkaulah wali dan Tuannya; dan Engkaulah sebaik-baik yang mensucikannya).

Manusia adalah makhluk yang terdiri atas jiwa dan raga. Keduanya merupakan satu kesatuan yang unik dalam membentuk sosok bernama “manusia”.  Islam tidak mengenal pemisahan yang ekstrim antara tubuh dan jiwa, sehingga ibadah dalam Islam juga memadukan dimensi  jiwa dan raga. Sholat, haji, puasa, dan sebagainya, merupakan paduan yang harmonis dan unik antara aspek jiwa dan raga. Dalam shalat, orang diwajibkan suci lahir dari hadats dan najis. Secara batin, dia pun harus suci dari penyakit jiwa, seperti riya’ dan ujub. Puasa dalam Islam adalah ibadah yang secara ketat melatih badan untuk tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. Namun, pada saat yang sama, puasa harus didasarkan pada aspek kejiwaan, seperti niat yang ikhlas karena Allah. Begitu pula berbagai jenis ibadah lainnya. 

Islam tidak mengenal pemisahan yang ekstrim antara jiwa dan raga, sebagaimana pandangan sebagian kaum sekuler yang menganggap bahwa dosa manusia adalah semata-mata karena dosa kejiwaan. Katanya, meskipun seorang menjadi pelacur, pezina, atau penari telanjang; selama hatinya bersih dan cintanya suci, maka dia tidak dianggap melakukan dosa. Kita pernah mengutip dalam CAP-276, pendapat seorang yang mendukung pelaksanaan seks bebas selama dilaksanakan suka sama suka, tanpa paksaan. Katanya, dalam buku berjudul: Jihad Melawan Ekstrimis Agama, Membangkitkan Islam Progresif (2009):

Demikian juga jika kita masih meributkan soal kelamin – seperti yang dilakukan MUI yang ngotot memperjuangkan UU Pornografi dan Pornoaksi – itu juga sebagai pertanda rendahnya kualitas keimanan kita sekaligus rapuhnya fondasi spiritual kita. Sebaliknya, jika roh dan spiritualitas kita tangguh, maka apalah artinya segumpal daging bernama vagina dan penis itu. Apalah bedanya vagina dan penis itu dengan kuping, ketiak, hidung, tangan dan organ tubuh yang lain. Agama semestinya ”mengakomodasi”  bukan ”mengeksekusi” fakta keberagaman ekspresi seksualitas masyarakat. Ingatlah bahwa dosa bukan karena ”daging yang kotor” tetapi lantaran otak dan ruh kita yang penuh noda. Paul Evdokimov dalam The Struggle with God telah menuturkan kata-kata yang indah dan menarik: ”Sin never comes from below; from the flesh, but from above, from the spirit. The first fall occurred in the world of angels pure spirit…” 

Konsep separasi jiwa-raga semacam itu, sangat berbeda dengan konsep pembinaan jiwa Islam. Seorang yang melacurkan tubuhnya, misalnya, tetap dipandang berdosa dan mengotori jiwanya, meskipun ia melacur demi membantu ekonomi keluarganya. Laki-laki dan perempuan yang berzina, meski tidak saling merugikan,  tetap merupakan kejahatan serius dalam Islam. Sama halnya, tangan yang mencuri harta orang lain, tetap dipandang berdosa, meskipun ia mengaku jiwanya tetap suci selama mencuri, sebab ia mencuri untuk tujuan pembangunan musholla. 

Itulah indahnya ibadah dalam Islam. Begitu ketat dan jelasnya petunjuk Rasulullah saw dalam pelaksanaan ibadah puasa, baik secara jasmani maupun rohani. Selama puasa, kita dilatih secara fisik, menahan lapar dan dahaga, dan pada saat yang sama, diharuskan menjalani puasa batin agar menjaga diri dari berbagai penyakit hati yang dapat merusak ibadah puasa. Niat baik saja tidak cukup. Niat baik harus juga disertai dengan cara yang baik, yang sesuai dengan ajaran Nabi saw. 

Saat Ramadhan, kita dilatih dengan keras untuk mensucikan jiwa dengan cara menundukkan hawa nafsu kita. Nafsu harus ditundukkan oleh manusia, bukan dibunuh. Jangan sebaliknya, manusia dikendalikan oleh hawa nafsunya. “Adapun orang yang durhaka, dan mengutamakan kehidupan dunia, maka neraka Jahim-lah tempat dia. Sedangkan orang yang takut akan kebesaran Tuhannya, dan menahan diri dari hawa nafsunya, maka sorgalah tempat dia.” (QS 79:37-41).

Nabi saw bersabda: “al-mujaahid man jaahada nafsahu” (HR Tirmidzi). Seorang mujahid adalah orang yang berjuang menundukkan nafsunya. Menundukkan nafsu adalah jihad yang besar, sehingga perlu dilakukan dengan sungguh-sungguh. Dengan segala macam latihan ibadah yang sungguh-sungguh (mujahadah), kita berharap menjadi mukmin yang bahagia, memiliki nafsu yang tenang (nafsul-muthmainnah). “Wahai nafsul-muthmainnah (wahai jiwa yang tenang), kembalilah kepada Tuhanmu dengan penuh ridha dan diridhai.” (QS 89:27-28). 

Imam Ibn Katsir menyatakan, bahwa saat sakaratul maut, dan saat di akhirat nanti, hamba Allah dengan jiwa yang tenang (muthmainnah) akan mendapatkan seruan: “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu,” dengan hati yang ridha dan diridhai, yakni “dia rela menjadikan Allah sebagai Tuhannya dan Allah pun ridha menjadikan dia sebagai hamba yang dikasihi-Nya. Ibnu Katsir mengutip sebuah doa Rasulullah saw: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu akan jiwa yang tenang yang beriman akan perjumpaan dengan-Mu dan ridha atas keputusan-Mu dan merasa puas dengan pemberian-Mu.” (Allahumma inniy as’aluka nafsan muthmainnatan tu’minu bi-liqâika wa-tardha bi-qadhâika wa-taqnau bi-‘athâika).

 

Budaya syahwat

Kemuliaan jiwa itulah yang ditekankan oleh Islam; agar manusia mencapai taraf tinggi sebagai manusia, dan tidak terjebak dalam peradaban yang memuja syahwat dan menuhankan hawa nafsu, sebagaimana dibudayakan oleh paham sekularisme dewasa ini. Dalam bukunya, Risalah untuk Kaum Muslimin (Kuala Lumpur: ISTAC, 2001: 202-203), Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas menggambarkan perkembangan falsafah Barat yang telah membuang Tuhan dalam seluruh aspek kehidupan mereka, sehingga mereka menempatkan manusia sebagai Tuhan yang  merasa berhak mengatur alam dan dirinya sendiri, tanpa campur tangan siapa pun. 

“Perkembangan falsafah Barat berarak lancar mengikut perkembangan sainsnya yang mensekularkan semua. Insan semakin dipandang dari segi keutamaan kemanusiaannya dan kepribadiannya dan kebebasan serta kemerdekaannya sebagai diri haiwani. Jikalau dahulu dia telah menghapuskan pupus para dewata di alam purba dengan serangan akal  hayawani sehingga alam itu jadi benda biasa bagi tindakannya leluasa, maka kini dengan bantuan falsafah dan sains sekular dia harus pula mendesakkan diri merebut kebebasan serta kemerdekaannya sekalipun dari Tuhan Sarwa Alam, agar dapat dia benar-benar bebas bertindak terhadap alam yang menghadapinya.” 

Al-Quran menggambarkan manusia-manusia yang berinteraksi dengan alam (ayat-ayat Allah), tetapi tidak sampai mengenal Tuhan yang sesungguhnya, maka mereka itu laksana binatang ternak, bahkan lebih sesat dari pada binatang ternak itu sendiri. (QS 7:179). Juga disebutkan: “Orang-orang kafir itu bersenang-senang dan makan-makan sebagaimana makannya binatang-binatang, dan neraka adalah tempat mereka.” (QS 47:12). 

Orang mukmin juga makan-makan dan bersenang-senang menikmati makanan serta kesenangan hidup lainnya. Tetapi, orang mukmin tidak menjadikan makan dan segala kenikmatan duniawi sebagai tujuan hidup dan kenikmatan tertinggi, sebab mereka  memiliki   tujuan kehidupan yang lebih tinggi, yaitu mengenal dan beribadah kepada Allah. Itulah kebahagiaan yang sejati. Zikir kepada Allah adalah menentramkan jiwa. 

Betapa banyak manusia tertipu dengan kenikmatan duniawi. Ia menyangka akan bahagia saat mereguk segala syahwat dunia. Ternyata kesenangan dunia itu menipunya. (QS 3: 185). Lihatlah, betapa banyak manusia tersohor dan bergelimang harta serta kebebasan, akhirnya hidup dalam keresahan dan berujung kepada obat-obatan terlarang bahkan berakhir dengan bunuh diri. Karena itulah, kita diingatkan, agar jangan terkecoh dan terpedaya oleh kebebasan yang dinikmati oleh orang-orang kafir di dunia ini. “Janganlah kamu terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir di negeri(nya). Itu kesenangan yang sedikit, kemudian tempat mereka adalah Jahannam. Alangkah buruknya tempat itu!” (QS 3:196-197).

Banyak manusia terkecoh oleh kenikmatan duniawi sehingga melupakan kehidupan yang sesungguhnya di akhirat. Pada hakikatnya, itulah kesuksesan setan dalam menghiasi hal-hal maksiat dan kejahatan, sehingga tampak indah dan menawan di mata manusia. “Iblis berkata: Ya Tuhanku, karena Engkau telah sesatkan aku, maka pasti akan aku jadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (QS 15:39). 

“Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami kepada umat-umat sebelum kamu, tetapi setan telah menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka (yang salah), maka setan menjadi pemimpin mereka di hari itu dan bagi mereka azab yang pedih.” (QS 16:63). 

Maka, sungguh menarik fenomena manusia di zaman liberalisme ini! Paham syirik – menyekutukan Allah – yang sangat dibenci oleh Allah, justru diharuskan untuk dilindungi dan diberikan hak yang sama untuk berkembang, sama dengan paham Tauhid. Tentu, syetan patut “diacungi jempol” atas kesuksesannya dalam menjadikan kontes-kontes perempuan mengumbar aurat – yang jelas-jelas bathil – sebagai tindakan yang indah, mempesona, dan seolah-olah membawa kebaikan kepada umat manusia. Bahkan, dalam berbagai kesempatan, setan pun mampu menggerakkan jutaan manusia untuk rela antri dan berdesak-desakan di “jalan maksiat”, jalan menuju neraka. Padahal, logikanya, harusnya jalan menuju neraka adalah gratis, tanpa dipungut biaya. Jadi, aneh, ada manusia yang mau masuk neraka dengan membeli tiket!

Usai Ramadhan, tentu saja, tantangan godaan setan akan semakin menguat. Berbagai tawaran setan untuk memuja syahwat dan mengikut paham-paham sesat pun akan menjadi menu kehidupan setiap saat. Hanya saja, Allah pun memberikan senjata kepada kita untuk membentengi diri dari tipu daya setan. “Sesungguhnya setan itu tidak berkuasa atas orang-orang mukmin dan bertawakkal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaan setan hanyalah atas orang-orang yang menjadikannya sebagai wali (pepimpin, pelindung), dan orang-orang musyrik.” (QS 16:99-100). 

Semoga ibadah Ramadhan kita membawa peningkatan ketaqwaan, sehingga kita mampu meraih hidup bahagia dalam iman dan terlepas dari godaan setan yang tak henti-hentinya menawarkan kesenangan yang menipu. Sebab, selama Ramadhan kita telah menjalani latihan pengendalian hawa nafsu dan penangkalan tipu daya setan. Semoga ibadah puasa kita tak hanya berujung pada lapar dan dahaga semata. Taqabbalallahu minna waminkum. (Depok, 1 Syawal 1434 H/8 Agustus 2013).

[Dr Adian Husaini - adianhusaini.com]