Keberagaman ala Sekolah Kebinekaan, Inikah Pendidikan Toleransi?

Para Sekolah Kebhinekaan Gunungkidul melakukan Aksi Jalan Kaki, balai desa Kepek ke Bangsal Sewoko Projo, Wonosari, dengan Membawa Bendera Merah Putih dan Juga Poster-Poster Perdamaian. foto: kompas


MUSTANIR.COM, YOGYAKARTA — Indonesia terdiri dari suku agama ras dan antar golongan yang berbeda-beda seringkali menimbulkan pergesekan antar-masyarakat. Hal ini karena minimnya pengetahuan antar satu dan yang lainnya.

Itulah yang mendasari berdirinya sekolah kebinekaan di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Sekolah ini diikuti 45 orang pelajar dari berbagai latar belakang agama yang berbeda. Para remaja selama 3 kali pertemuan diajak untuk mengenal berbagai agama. Tujuannya tidak lain adalah untuk menanamkan nilai-nilai kebinekaan kepada generasi muda.

“Orang seringkali tidak memahami identitas agama lain menenumbuhkan prasangka dan bisa timbul tidak suka, maka tak jarang muncul konflik dan sebagainya. Dengan sekolah kebinekaan diharapkan mereka mengenal satu dengan yang lainnya, sehingga sehingga terjadi udar prasangka, atau hilangnya prasangka buruk, rasa tidak suka, rasa benci, ujaran kebencian antar sesama,” kata Kepala Sekolah Kebinekaan Gunungkidul, Christiono Riyadi, saat ditemui menjelang malam inagurasi di Bangsal Sewoko Projo, Wonosari, Minggu (21/1/2018) petang.

Selama sekolah kebinekaan, siswa-siswi juga diajak tinggal di pondok pesantren, pura dan juga wihara. Sejumlah aktivis organisasi masyarakat terlibat sebagai pendamping peserta seperti GP Ansor NU, Fatayat NU, Pemuda Katolik, Klasis Gereja Kristen Jawa (GKJ), Badan Kerja Sama (BKS) Gereja Kristen Gunungkidul, Majelis Buddhayana Indonesia, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), dan Forum Lintas Iman.

Sekolah kebinekaan tahap pertama ini dilaksanakan dari 28 hingga 29 Oktober 2017 di Pura Bendo Ngawen. Tahap kedua digelar 25-26 November 2017 di Ponpes Al Mumtaz Putat-Patuk, dan tahap ketiga sekolah kebinekaan dilaksanakan dari tanggal 20 hingga 21 Januari di Wihara Jina Darma Siraman Wonosari.

Total ada 45 orang anak muda yang mengikuti kegiatan ini. Mereka diajarkan berbagai hal tentang keagamaan.

“Kami tinggal selama dua hari di Pondok Pesantren Al Mumtaz, Putat, Patuk, belajar kehidupan di pondok pesantren bersama kiai dan santri di sana. Kami juga pergi ke Pura Bendo, Ngawen, dan juga Wihara Jina Darma di Siraman Wonosari,” kata Christiono.

“Di setiap kegiatan berlangsung, peserta diajak mengikuti berbagai kegiatan. Kami ingin generasi muda kami belajar memahami identitas yang ada dalam perbedaan,” lanjutnya.

Para siswa angkatan pertama sekolah kebinekaan Gunungkidul ini melakukan ikrar atau Generasi Muda (Gema) Kebinekaan Gunungkidul, di Bangsal Sewoko Projo, Wonosari, Gunungkidul.

“Kami berharap generasi muda ini bisa memberikan virus positif ini kepada orang lain,” ucapnya.

Salah seorang siswa sekolah kebinekaan, Afirose Hafida Sani, mengatakan, banyak pengalaman yang didapatkan dari sekolah kebinekaan. Salah satunya mengenal perbedaan dalam masing-masing agama.

“Perbedaan baik agama atau suku atau yang lain bukanlah sebagai pemisah, namun hal yang harus kita rawat, generasi muda harus bisa hidup berdampingan,” ucapnya.

Siswa lainnya, Michael Deva Pradana menambahkan, setelah mengikuti berbagai kegiatan, ia bisa mengenal masing-masing agama di Indonesia.

“Saya bisa mengetahui secara langsung hidup di pesantren, dan kegiatan agama lainnya. Yang pasti bisa mengetahui perbedaan dan menghargai perbedaan itu sendiri,” katanya.

Salah seorang fasilitator, Niluh Ayu menjelaskan, usia muda rentan dengan berbagai informasi yang tidak benar tentang agama, sehingga dengan sekolah kebinekaan, mereka bisa mengetahui sesungguhnya ajaran agama itu, dan informasi tersebut bisa ditularkan ke orang lain.

“Mereka yang awalnya tidak mengetahui menjadi paham mengenai masing-masing agama,” kata Niluh.

Fasilitator lainnya, FX Endro Tri Guntoro menambahkan, pembentukan sekolah kebinekaan ini untuk memberikan informasi tentang agama kepada generasi muda secara langsung dari sumbernya.

“Informasi yang didapatkan langsung dari sumbernya, misalnya ada pertanyaan mengapa pastur tidak menikah begitu juga dengan bante. Pertanyaan yang timbul langsung dijawab sumbernya, jadi bukan dari katanya-katanya. Harapannya generasi muda bisa mengetahui dan menghargai satu sama lainnya,” ucapnya.

Sementara itu, untuk penutupan sekolah kebinekaan, dilakukan aksi jalan kaki dari balai desa Kepek ke Bangsal Sewoko Projo, Wonosari, dengan membawa bendera merah putih dan juga poster-poster perdamaian dan menyerukan arti penting merawat kebinekaan.

Pada malam harinya, Bupati Gunungkidul Badingah menutup sekolah kebinekaan tahap pertama dengan melepas tanda pengenal dan memberikan sertifikat.

“Kami berharap sekolah kebinekaan membawa kebaikan dan persaudaraan antar-anak bangsa,” katanya.
(kompas.com/23/1/18)

Komentar:
Menanamkan kebhinekaan bukan berarti mengajak siswa mengenal agama lain dengan cara memasuki tempat-tempat ibadah mereka. Kebhinekaan tetap harus memperhatikan batasan-batasan dari masing-masing agama.

Categories