Pakistan Bekukan Kerja Sama Pertahanan dengan AS

Menteri Pertahanan Pakistan Khurram Dastgir Khan. foto: voaindonesia


MUSTANIR.COM, ISLAMABAD — Menteri Pertahanan Pakistan Khurram Dastgir Khan mengatakan negaranya telah membekukan kerja sama pertahanan dan intelijen dengan Amerika Serikat. Hal ini sebagai reaksi dari ketegangan yang meningkat setelah AS membekukan bantuan militer untuk Pakistan.

Para pejabat AS telah mengatakan dalam serangkaian pernyataan baru-baru ini bahwa hampir semua bantuan keamanan buat Pakistan telah dibekukan setelah tweet Presiden AS Donald Trump pada 1 Januari. Di dalam tweet tersebut, Trump menuduh Pakistan “memberi tempat perlindungan yang nyaman buat pelaku teror yang AS buru di Afghanistan, dengan sedikit bantuan”.

Ia juga menulis, “Amerika Serikat dengan dungu telah memberi Pakistan lebih dari 33 miliar dolar AS dalam bentuk bantuan selama 15 tahun belakangan, dan mereka tak memberi kita apa-apa, selain dusta dan penipuan, karena mengira para pemimpin kita bodoh.”

Para pemimpin Pakistan sebelumnya telah memperlihatkan penahanan diri kendati ada tuduhan dari para pemimpin Amerika dan pembekuan bantuan. Tapi pernyataan Menteri Pertahanan Pakistan dapat dipandang sebagai petunjuk mengenai ketegangan yang meningkat.

“Anda semua lihat fasilitas yang telah kami berikan kepada mereka (Amerika) masih beroperasi. Tapi juga ada lahan luas kerja sama intelijen dan kerja sama pertahanan yang telah kami bekukan,” kata Dastgir, sebagaimana dikutip Xinhua, Rabu pagi (10/1).

Saat merujuk kepada pembekuan AS atas bantuan buat Pakistan, ia berkata, “Pembekuan bantuan militer baru-baru ini oleh AS dilakukan setelah pembekuan yang lebih besar, yaitu pembekuan dialog strategis selama lebih dari satu tahun antara AS dan Pakistan.”

Ia juga mengeluh bahwa Amerika Serikat tak memberi bantuan untuk memagari perbatasan denga Afghanistan di wilayah pegunungan terjal guna menghentikan gerakan lintas-perbatasan oleh gerilyawan fanatik.

Pakistan dan Afghanistan memiliki perbatasan hampir 2.500 kilometer, kebanyakan keropos, dan gerilyawan memanfaatkan perbatasan terbuka tersebut untuk bergerak di kedua sisi perbatasan untuk melakukan kekerasan.

Pakistan tahun lalu mulai membuat pagar di perbatasan dan sebagian besar pagar itu direncanakan selesai tahun ini, kata beberapa pejabat militer. “Enak untuk menyalahkan Pakistan buat aksi teror lintas-perbatasan, sedangkan AS tak menggerakkan satu jari pun untuk membantu membuat pagar perbatasan,” kata Dastagir. (republika.co.id/10/1/18)

Categories