Politik Pencitraan Jelang Pemilu ala Sistem Demokrasi

Topeng pencitraan (ilustrasi) | foto: perspektif


MUSTANIR.COM, Tidak terasa periode pemerintahan para pemimpin Indonesia akan segera berakhir dan itu bertanda akan ada beragam bakal calon pemimpin yang siap memperebutkan kursi jabatan kekuasaan yang mereka juangkan nanti.

Para calon pemimpin begitu ramai menarik simpati masyarakat Indonesia dengan berbagai aksi seperti halnya tradisi blusukan ke setiap daerah, memberi sumbangan ke setiap rumah, memberi dana atau bantuan untuk perbaikan tempat ibadah, menghadiri pengajian bersama masyarakat, dan bahkan ada cara khas yang dimiliki oleh pemimpin nomor satu di Indonesia ini yang sontak membius perhatian masyarakat yang akhir-akhir ini sedang hangat diperbincangkan media yaitu terkait pakaian sederhana yang beliau kenakan.

Selain itu, ada diantara pemangku daerah yang bulan-bulan lalu meluapkan amarah kepada kepala daerah setempat yang dinilai tidak becus mengawasi wilayahnya. Alhasil, hal tersebut menuai pro dan kontra dari masyarakat atas tindakannya yang geger itu, pun ini bisa menyedot perhatian dari segelintir masyarakat hingga menjelang pilkada nanti. Pasalnya hal sekecil apapun yang dilakukan oleh para pemimpin mampu menguatkan atau menggoyahkan keyakinan masyarakat saat pemilihan nanti. Maka dari itu, mereka berlomba-lomba memberikan aksi simpati yang begitu meyakinkan kepada masyarakat dengan dalih membangun bangsa ini menjadi lebih baik sesuai apa yang kita kehendaki selama ini.

Percaya atau tidak, terkadang apa yang dijanjikan oleh para calon pemimpin sekarang hanya semata bualan dan pencitraan saja. Tatkala sebagian dari mereka terpilih, kebanyakan tugas yang seharusnya mereka laksanakan tidak segera ditunaikan hingga selesai, ditambah munculnya kasus korupsi dan sikap kelalaian atas kewajiban berdatangan dari pemegang jabatan yang akhirnya menurunkan kepercayaan kita kepada mereka.

Disisi lain, alih-alih menampakkan gaya bersahaja dan dekat bersama masyarakat tapi justru mengesampingkan rentetan tugas yang selama ini dipikulnya yang padahal dulu pernah ia janjikan untuk kemajuan bangsa ini. Begitu mudahnya sebuah janji yang dulu pernah terucap kemudian diingkari oleh para pemimpin kita, tidak takut tanggungan janji yang mesti mereka bayar dengan jerih payah untuk memajukan negeri tercinta.

Politik pencitraan jelang pemilihan dinilai ampuh melenakan sebagian masyarakat untuk memilih para calon pemimpin yang justru ini merusak paradigma tentang kepemimpinan dan urgensi memilih pemimpin dalam sistem demokrasi. Standar kepemilihan dari masyarakat tidak memandang apakah calon ini siap menerapkan Islam secara Kaffah dan bertanggungjawab dunia dan akhirat. Tidak lagi terpikirkan apakah calon ini sudah memenuhi syarat pemimpin dalam Islam layaknya para Khalifah dulu yang memiliki karakter yang zuhud, adil, jujur, takut bermaksiat, dan bersedia menerapkan islam secara totalitas.

Jika kini para calon pemimpin berupaya untuk mengubah bangsa ini dari ketertinggalannya dalam balutan sistem demokrasi yang kita anut, mustahil untuk bisa maju apalagi tanpa diterapkannya hukum Islam. Islam telah mengukir peradaban nan mulia dengan tinta emasnya dan tidak ada yang bisa menyandinginya dengan peradaban apapun. Para Khalifah yang siap dengan segala amanah dari umat untuk kemuliaan Islam.

Contoh keteladanan Khalifah yang dapat dipetik adalah Umar bin Abdul Aziz, dikenal sebagai pemimpin yang bersih, adil, jujur dan bersahaja. Ada suatu kisah disaat beliau ingin istirahat sejenak sebab lelah melaksanakan tugas, anaknya memberi nasihat “Apakah Ayah menjamin umur Ayah akan panjang sesudah istirahat sehingga menunda banyak urusan yang harus diselesaikan ?” Umar bin Abdul Aziz tidak jadi istirahat dan lantas meneruskan tugasnya.

Kita begitu sangat merindukan Islam hadir di tengah-tengah kehidupan semestinya kita mengikuti sistem yang dulu pernah berjaya, yang mampu menyejahterakan umat, pun mencetak para pemimpin yang bertakwa kepada Allah swt dan semua itu hanya bisa dirasakan jika kita menerapkan Islam Kaffah dalam naungan Khilafah.

Oleh: Silviwanda, Alumni SMAN 3 Cimahi

Categories