Inilah 3 Dalang Sesungguhnya yang Diam-diam Meruntuhkan Khilafah Utsmaniyah dari Dalam

MUSTANIR.net – Selama ini, ketika membicarakan runtuhnya Khilafah Utsmaniyah, jari telunjuk kita begitu cepat menunjuk satu nama. Kita menuduh dialah penyebab segalanya. Kita menuduh dialah yang “membunuh” khalifah.

Namun, pernahkah kita berpikir sejenak? Masuk akalkah sebuah kekhalifahan raksasa yang berkuasa selama 600 tahun dapat runtuh dalam semalam hanya karena satu orang?

Jawabannya: tidak masuk akal.

Ibarat pohon besar, ia tidak akan tumbang secara tiba-tiba kecuali jika akarnya telah lama dimakan rayap dari dalam. Dalam sejarah Utsmaniyah, “rayap” itu telah ada jauh sebelum tahun 1924.

Siapa sesungguhnya “pembunuh” yang memegang pisau itu?

Kisah sesungguhnya bermula jauh lebih awal, yakni pada era reformasi yang disebut Tanzimat (1839). Saat itu, Utsmaniyah mulai merasa inferior terhadap kemajuan Barat. Para sultan pada masa tersebut, dimulai dari Sultan Abdulmecid I, mengubah sistem pemerintahan dengan meniru model Eropa.

Niat awalnya mungkin memodernisasi negara. Namun tanpa disadari, kebijakan itu membuka pintu lebar-lebar bagi ideologi asing dan pengaruh organisasi seperti Freemasonry untuk meresap ke dalam tubuh pemerintahan.

Dari kebijakan “membuka pintu” inilah lahir generasi pemimpin muda yang dikenal sebagai Young Turks atau gerakan Ittihad ve Terakki. Sebagian besar dari mereka merupakan lulusan sekolah Barat, bergaya hidup Barat, dan berpikir dengan kerangka Barat.

Puncak dari malapetaka ini terjadi ketika mereka berhasil menggulingkan Sultan Abdul Hamid II, sultan terakhir yang benar-benar memegang kekuasaan mutlak. Setelah Sultan Abdul Hamid II jatuh, kekuasaan nyata Utsmaniyah bukan lagi berada di istana, melainkan di tangan tiga orang yang dikenal sebagai Tiga Pasha (The Three Pashas): Enver Pasha, Talât Pasha, dan Cemâl Pasha.

Merekalah dalang yang kerap terlewatkan atau tidak diketahui banyak orang. Mereka memerintah secara triumvirat dengan tangan besi dan menjadikan sultan sekadar boneka simbolis.

Perlu dipahami, pada masa Tiga Pasha berkuasa, sultan (khalifah) hanya tinggal nama. Ia tidak memiliki kuasa nyata dalam pengambilan keputusan, tidak dapat membantah, bahkan dipaksa menandatangani dokumen-dokumen perang.

Secara politik, khilafah pada masa itu sejatinya sudah mati—hanya belum dimakamkan.
Dosa terbesar mereka bukan sekadar soal sekularisme, melainkan perjudian nasib yang mereka lakukan atas jutaan nyawa kaum Muslim.

Pada tahun 1914, dunia dilanda kegilaan perang dalam World War I. Sultan dan banyak penasihat senior menyarankan agar Utsmaniyah tetap netral. Negara sedang lemah, kas kosong, dan persenjataan terbatas.

Namun Enver Pasha memiliki ambisi besar. Ia ingin menjadi seperti Napoleon Bonaparte dan terpesona pada kekuatan Jerman. Tanpa musyawarah panjang dengan kabinet, Tiga Pasha menandatangani perjanjian rahasia dengan Jerman dan menyeret Utsmaniyah masuk ke dalam pusaran Perang Dunia Pertama.

Akibatnya: kehancuran.

Enver Pasha dengan penuh percaya diri mengirim puluhan ribu tentara Utsmaniyah ke Sarıkamış untuk melawan Rusia di tengah musim dingin yang membeku. Hasilnya, sekitar 90.000 tentara tewas—bukan karena tembakan musuh, melainkan karena membeku akibat kurangnya perlengkapan musim dingin.

Kebodohan dan kesombongan Tiga Pasha inilah yang memberi alasan bagi Inggris untuk menyerang Palestina, Irak, dan Hijaz. Akibat keputusan keliru mereka, Palestina jatuh ke tangan Inggris pada 1917.

Ketika perang berakhir pada 1918, Utsmaniyah mengalami kekalahan telak. Wilayah-wilayah Arab lepas. Istanbul diduduki. Utang negara menumpuk.

Apa yang dilakukan Tiga Pasha setelah kekalahan itu? Apakah mereka bertanggung jawab?

Tidak. Mereka melarikan diri dengan kapal selam Jerman, meninggalkan rakyat dalam kekacauan dan puing-puing kehancuran.

Pada saat itu, Utsmaniyah sejatinya sudah “mati”. Tubuhnya masih ada, tetapi rohnya telah tiada. Ia hanya jasad yang menunggu waktu untuk dimakamkan.

Maka ketika kemudian Mustafa Kemal Atatürk memproklamasikan Republik Turki pada 1923, ia sebenarnya bukan “membunuh” Utsmaniyah. Ia“menguburkan” jenazah yang telah lama mati akibat tindakan Tiga Pasha.

Inilah realitas sejarah yang pahit. Kita terlalu sibuk memarahi “penggali kubur”, hingga lupa menuntut pertanggungjawaban “penikam” yang melukai sejak awal.

Sejarah mengajarkan satu hal penting tentang realpolitik: kekhalifahan tidak runtuh semata-mata karena musuh luar terlalu kuat. Kekhalifahan runtuh ketika ada pengkhianatan dari dalam—ketika orang-orang yang diberi kekuasaan justru mempertaruhkan nasib negara demi ambisi pribadi dan ideologi asing.

Sultan Abdul Hamid II telah melihat ancaman ini dan berusaha melawannya. Namun sayang, ia dikalahkan oleh orang-orang dari dalam sendiri. []

Sumber: Mazlan Syafie

About Author

Categories