(njgnosis.org)

Pengaruh Kabbalah Terhadap Doktrin Pluralisme Agama

MUSTANIR.net – Pluralisme agama merupakan doktrin pemikiran yang beberapa tahun terakhir ini gencar disosialisasikan di masyarakat dunia. Doktrin pluralisme agama ini disebarkan secara masif oleh kalangan akademisi hingga pemilik media publik melalui kurikulum pendidikan, seminar, workshop, acara, dan iklan di televisi dan internet, serta berbagai kegiatan sosial dan keagamaan.

Tak jarang pula, beberapa kaum agamawan pun menyambut baik aktivitas tersebut karena slogan yang selalu dikumandangkan sebagai tujuan utama pluralisme agama, yakni untuk mereduksi berbagai sikap ekstrim dan intoleransi yang terjadi di masyarakat.

Akan tetapi, benarkah pluralisme agama ini memang menjadi solusi yang tepat untuk meredam berbagai tindakan anarkisme atas nama SARA? Lebih jauh lagi, benarkah pluralisme agama hanya bertujuan sampai di situ ataukah ada maksud lain di balik itu semua? Pertanyaan semacam ini patut saja keluar, sebab apabila kita mau menelaah beberapa pernyataan para pengusung pluralisme agama ini, kita akan mendapati sesuatu yang berlainan dari apa yang disangka-sangka selama ini.

Seorang profesor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan, misalnya, menyatakan: “Jika semua agama memang benar sendiri, penting diyakini bahwa surga Tuhan yang satu itu sendiri, terdiri banyak pintu dan kamar. Tiap pintu adalah jalan pemeluk tiap agama memasuki kamar surganya. Syarat memasuki surga ialah keikhlasan pembebasan manusia dari kelaparan, penderitaan, kekerasan dan ketakutan, tanpa melihat agamanya. Inilah jalan universal surga bagi semua agama. Dari sini kerjasama dan dialog pemeluk berbeda agama jadi mungkin.” (Abdul Munir Mulkhan, Ajaran dan Jalan Kematian Syekh Siti Jenar, Yogjakarta: Kreasi Wacana, 2002, hal. 44)

Sumanto al-Qurtuby, seorang alumnus dari Fakultas Syariah IAIN Semarang menyatakan: “Jika kelak di akhirat, pertanyaan di atas diajukan kepada Tuhan, mungkin Dia hanya tersenyum simpul. Sambil menunjukkan surga-Nya yang mahaluas, di sana ternyata telah menunggu banyak orang, antara lain, Jesus, Muhammad, Sahabat Umar, Gandhi, Luther, Abu Nawas, Romo Mangun, Bunda Teresa, Udin, Baharudin Lopa, dan Munir!” (Sumanto al-Qurtuby, Lubang Hitam Agama, Yogyakarta: Rumah Kata, 2005, hal. 45)

Budhy-Munawar Rachman, mantan direktur Studi Islam di Paramadina dan editor Ensiklopedi Nurcholish Madjid, misalnya menolak eksklusifitas kebenaran Islam dan meyakini teologi pluralis. Budhy meyakini pendapat para pemikir pluralis seperti Wilfred Cantwell Smith, John Harwood Hicks, Paul Knitter, John B Cobb Jr., Raimundo Panikkar, Frithjof Schuon, Seyyed Hossein Nasr, dan lain lain. Budhy misalnya mengutip pendapat Paul Knitter yang menyatakan: “All religions are relative–that is, limited, partial, incomplete, one way looking at thingTo hold that any religion is intrinsically better than another is felt to be somehow wrong, offensive, narrow-minded; Deep down, all religions are the same-different paths leading to the same goal; Other religions are equally valid ways to the same truth [John Hicks]; Other religions speak of different but equally valid truths [John B Cobb Jr.]; Each religion expresses an important part of the truth [Raimundo Panikkar]” (Budhy-Munawar Rachman, Islam Pluralis: Wacana Kesetaraan Kaum Beriman, Jakarta: Penerbit Paramadina, 2001, hal. xiii).

Melihat beberapa pernyataan kaum akademik yang mengusung teologi pluralisme agama di atas, dapat kita temukan bahwa pluralisme agama sebenarnya lebih dari yang dipahami banyak orang sebagai toleransi. Ia merupakan suatu paham yang menyamakan kebenaran semua agama di dunia dan menolak kebenaran absolut agama tertentu, yang berarti relativitas nilai menjadi dasarnya. Jika paham ini disambungkan dengan akidah Islam, tentu saja paham tersebut sangat ditolak oleh Islam karena Allah Ta’ala telah menegaskan bahwa inna al-dina ‘indallahi al-Islam (agama yang benar hanya Islam).

Jika mau menelaah lebih jauh lagi, kita akan mendapati suatu hal yang mengagetkan bahwa doktrin pluralisme agama ini berasal dari ajaran mistisisme Yahudi, Kabbalah, yang kemudian diteruskan oleh sebuah kelompok yang menyimpang dari Kristen dan mempelajari serta mengamalkan ajaran Kabbalah, yaitu Freemason.

Kabbalah dan Pluralisme Agama

Bagi orang yang mempelajari agama Yahudi tentu tidak asing lagi dengan sebuah ajaran mistis dan tersembunyi yang masuk dalam ajaran Yahudi bernama Kabbalah. Kabbalah adalah ajaran paganisme (penyembahan berhala) yang berasal dari Mesir kuno kemudian diadopsi oleh kaum agamawan dan pembesar Yahudi untuk dimasukkan dan dikembangkan dalam ajaran agamanya.

Ada ayat di dalam al-Qur’an yang merujuk kepada topik ini. Bukti yang paling jelas adalah kisah al-Qur’an tentang penyembahan kaum Yahudi (Bani Israil) terhadap berhala berbentuk sapi emas yang dibuat oleh Samiri ketika ditinggal Nabi Musa ke gunung Sinai selama 40 hari. Kisah itu terjadi setelah bani Israil melakukan eksodus massal dari Mesir melewati Laut Merah untuk menghindari kekejaman raja Fir’aun, yang berakhir dengan kehancuran pasukan Mesir dan kematian Fir’aun.

“Mereka berkata: ‘Kami sekali-kali tidak melanggar perjanjianmu dengan kemauan kami sendiri, tetapi kami disuruh membawa beban-beban dari perhiasan kaum itu, maka kami telah melemparkannya, dan demikian pula Samiri melemparkannya’, kemudian Samiri mengeluarkan untuk mereka (dari lobang itu) anak lembu yang bertubuh dan bersuara, maka mereka berkata: ‘Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa, tetapi Musa telah lupa’.” (QS Thahaa, 20: 88)

Ketika kita mengkaji masalah ini di bawah keterangan catatan sejarah, kita amati bahwa sekte pagan yang memengaruhi bani Israil adalah yang terdapat di Mesir kuno yang kemudian hari disebut Kabbalah. Sebuah bukti penting yang mendukung kesimpulan ini adalah bahwa anak sapi emas yang disembah bani Israil saat Musa berada di Gunung Sinai, sebenarnya adalah tiruan dari berhala Mesir, Hathor dan Aphis. Dalam bukunya, Too Long in the Sun, penulis Kristen Richard Rives menulis:

“Hathor dan Aphis, dewa-dewa sapi betina dan jantan bangsa Mesir, merupakan perlambang dari penyembahan matahari. Penyembahan mereka hanyalah satu tahapan di dalam sejarah pemujaan matahari oleh bangsa Mesir. Anak sapi emas di Gunung Sinai adalah bukti yang lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa pesta yang dilakukan berhubungan dengan penyembahan matahari.” (Richard Rives, Too Long in the Sun, Partakers Pub., 1996, hal. 130-131)

Salah satu ajaran yang diyakini para pelaku Kabbalah adalah kepercayaan bahwa berbagai pemujaan yang dilakukan dalam agama-agama merupakan penyembahan terhadap satu tuhan yang sama, sebuah asas utama pluralisme agama.

Dalam salah satu karyanya tentang Kabbalah, peneliti Amerika, Lance S Owens, mengemukakan pendapatnya tentang kemungkinan asal usul doktrin ini:

“Pengalaman kabbalistik menimbulkan beberapa pemahaman tentang Tuhan, yang kebanyakan menyimpang dari pandangan ortodoks. Prinsip paling inti dari kepercayaan bani Israil adalah persaksian bahwa ‘Tuhan kami satu’. Tetapi Kabbalah menyatakan bahwa sementara Tuhan ada dalam bentuk tertinggi sebagai suatu keesaan yang sepenuhnya tak terlukiskan —Kabbalah menamainya Ein Sof, yang tak berhingga— singularitas yang tak terpahami ini perlu menjelma menjadi banyak sekali bentuk ketuhanan: suatu pluralitas dari banyak Tuhan. Inilah yang oleh para pengikut Kabbalah dinamai Sefiroth, berbagai bejana atau wajah Tuhan. Para pengikut Kabbalah mencurahkan banyak meditasi dan spekulasi kepada misteri bagaimana Tuhan turun dari keesaan yang tak terpahami kepada pluralitas. Sudah tentu, citra Tuhan berwajah banyak ini memberi ruang untuk tuduhan sebagai politeistik, sebuah serangan yang dibantah para pengikut Kabbalah dengan penuh semangat, walau tak pernah sepenuhnya berhasil.” (Lance S Owens, Joseph Smith and Kabbalah: The Occult Connection, Dialogue: A Journal of Mormon Thought, Vol. 27, No. 3, Fall 1994, hal. 117-194)

Dari keterangan diatas, dapat dipahami bahwa ada kemiripan yang sangat identik antara konsep ‘banyaknya wajah Tuhan’ dalam Kabbalah dan pluralisme agama yang dikembangkan sekarang. Keduanya sama-sama meyakini bentuk keragaman dalam beragama hakikatnya menuju satu tuhan yang sama.

Kemudian menjadi pertanyaan, siapakah orang yang meneruskan ajaran paganis pluralisme agama yang sudah berumur ribuan tahun lalu tersebut hingga sekarang? Dari sinilah kita akan mengalihkan perhatian kita kepada kelompok yang mewarisi dan mempraktikkan ajaran Kabbalah sejak ratusan tahun lalu, yaitu Freemason.

Doktrin Pluralisme Agama dalam Tubuh Freemason 

Jika kita membaca berbagai pergerakan dan pemikiran kaum Freemason, kita akan dapati bahwa paham pluralisme agama sangat kental dalam ajaran mereka. Hal ini tidak mengherankan, karena merekalah yang mempraktikkan ajaran Kabbalah dan mempertahankannya hingga sekarang. Pemikiran-pemikiran pluralis dapat kita jumpai dari pernyataan beberapa orang penting dalam organisasi Freemason yang mirip sekali dengan ajaran Kabbalah di atas dan pluralisme agama sekarang ini.

Seorang tokoh Freemason sekaligus ketua Theosophical Society (Masyarakat Teosofis) tahun 1907-1933, Annie W Besant, menyatakan tujuan Masyarakat Teosofis adalah mengajarkan kepada pengikutnya bahwa agama-agama adalah ungkapan dari hikmah ilahi yang lahir dan berasal dari Zat yang satu. Oleh sebab itu, keragaman dan perbedaan dalam manifestasi lahiriah dan bentuk bukanlah inti dari ajaran agama. Semua agama memiliki keaslian dan kebenaran karena berasal dari Zat yang satu. (Annie Besant, Theosophical Society, dalam Encyclopedia of Religion and Ethics, editor James Hasting, Jilid 12, 300-02)

Rene Guénon (1886-1951), seorang tokoh Freemason dan pelopor agama Primordial Tradition (Tradisi Abadi), menyatakan bahwa substansi dari ilmu spiritual bersumber dari supranatural dan transenden. Ilmu tersebut adalah universal. Oleh sebab itu, ilmu tersebut tidak dibatasi oleh suatu kelompok agama tertentu. Ia adalah milik bersama semua tradisi primordial. Perbedaan teknis yang terjadi merupakan jalan dan cara yang berbeda untuk merealisasikan Kebenaran. Perbedaan tersebut sah-sah saja karena setiap agama memiliki kontribusinya yang unik untuk memahami Realitas Akhir. (Robin Waterfield, Rene Guénon, hlm. 126)

Selanjutnya, Frithjof Schuon (1907-1998), tokoh penerus pemikiran Guénon yang seringkali dikutip berbagai pendapatnya oleh para pengusung pluralisme agama, menyatakan bahwa sekalipun dogma, hukum, moral, ritual agama adalah berbeda, namun nun jauh di kedalaman masing-masing agama, ada ‘a common ground’. Ia berpendapat agama-agama mengandung dimensi eksoterik dan esoterik. Kedua dimensi ini yang inheren dalam agama berasal dari dan diketahui melalui Intelek (Intellect). Jika dikaitkan dengan realitas, maka Intelek dapat diasosiasikan dengan Esensi Tuhan (Yang Satu) dan langit (alam yang menjadi model dasar) sedangkan fikiran dan badan meliputi dunia fisik, terrestrial. (Frithjof Schuon, Gnosis: Divine Wisdom, Pen. GE H Palmer [Middlesex: Perennial Books Ltd, 1990], hlm. 78-79)

Dari beberapa keterangan di atas, jelas sekali terlihat bahwa pemikiran pluralis para tokoh yang dekat dengan Freemason sangat mewarnai ajaran pluralisme agama yang dikembangkan sekarang ini. Mereka sama mengatakan bahwa semua agama di dunia ini nilai kebenarannnya sama semua karena sama-sama mempercayai dan menyembah tuhan yang sama. Para pendakwa pluralisme agama juga berkata demikian. Padahal, mereka sama sekali tidak pernah memberikan bukti bahwa ‘tuhan agama-agama’ semuanya sama sehingga ajaran pluralisme hanya menjadi omongan spekulatif tanpa dasar. Sebaliknya, jika kita mau menelaah lebih dalam tentang siapa ‘tuhan’ kaum Kabbalah dan Freemason, kita akan mendapati sesuatu yang sangat mencengangkan.

Peneliti Kabbalah, Lance S Owens, menyatakan, “Tidak hanya Tuhan itu plural dalam teosofi kabbalistik, tetapi sejak pemunculan pertamanya yang halus dari keesaan yang tak terpahami, Tuhan telah memiliki dwibentuk sebagai lelaki dan perempuan; sebentuk ayah dan ibu supernatural, Hokhmah dan Binah, merupakan bentuk-bentuk pemunculan Tuhan yang pertama. Para pengikut Kabbalah menggunakan metafor seksual yang terang-terangan untuk menjelaskan bagaimana persetubuhan dari Hokhmah dan Binah menghasilkan ciptaan yang lebih jauh.” (Lance S Owens, Joseph Smith and Kabbalah: The Occult Connection, Dialogue: A Journal of Mormon Thought, Vol. 27, No. 3, Fall 1994, hal. 117-194)

Di tempat lain dia mengatakan, “Menurut sebuah resensi kabbalistik, Tuhan adalah Adam Kadmon: Manusia purba atau bentuk pola dasar pertama manusia. Manusia berbagi dengan Tuhan, baik kilauan cahaya ketuhanan yang hakiki dan tak diciptakan, juga bentuk yang organik dan kompleks. Jadi, dalam penafsiran Kabbalah, Jehovah sama dengan Adam: Adam adalah Tuhan. Dengan penegasan ini datanglah pernyataan bahwa semua manusia dalam perwujudan tertinggi menyerupai Tuhan.” (Ibid., hal. 117-194)

Dari keterangan di atas, kita baru bisa tahu bahwa ‘tuhan’ Kabbalah dan Freemason ternyata ‘memiliki kelamin’ dan ‘berupa manusia’. Dengan kata lain, pluralisme agama lahir dari ajaran penyembahan berhala (paganisme) dan penyembahan manusia sebagai tuhan (humanisme). Lihatlah, bagaimana masyarakat selama ini ditipu secara halus oleh paham pluralisme agama ini, alih-alih ingin menyebarkan toleransi antar agama ternyata malah ingin merusak ajaran agama dan mengembalikan manusia ke era jahiliah.

Epilog

Dari pemaparan singkat ini, dapat disimpulkan bahwa paham pluralisme agama ini berasal dari dogma paganisme Mesir kuno yang terdapat dalam Kabbalah, kemudian diteruskan dan dikembangkan oleh para penganut Kabbalah seperti Freemason. Paham pluralisme agama ini tidak hanya bertujuan toleransi, tapi lebih dari itu tujuan utama adalah merusak keyakinan para pemeluk agama atas kebenaran agamanya. Oleh karena itu, masihkah kita sebagai umat Islam mempercayai pluralisme agama begitu saja tanpa mau berpikir kembali? Bagi muslim yang berakal pasti mampu merenungkan hal ini. Wallahu a’lam. []

Sumber: Zaqy Dafa, Peneliti Berbagai Pemikiran Islam

Categories