pinterest.com

Humanisme yang Dalam adalah Ateisme

MUSTANIR.net – Setiap makhluk hidup di dunia punya sifat yang identik terhadap dirinya. Tumbuhan akan selalu dengan sifat tumbuhannya, hewan akan selalu dengan sifat hewannya dan begitu pun manusia yang akan selalu bersamaan dengan sifat kemanusiaannya. Sifat kemanusiaan ini yang terkadang membuat manusia ingin mengenal isi dan rahasia diri lebih dalam. Kuatnya rasa ingin tahu manusia yang menyebabkan mereka menganggap diri mengetahui segalanya. Itulah humanisme.

Dilihat dari hal ini, sebagian besar orang berpendapat bahwa humanisme sebagai istilah lain dari ateisme. Mengapa demikian? Apa sekiranya yang membuat humanisme sangat intim dengan ateisme? Alasannya adalah temuan ilmu hasil pemikiran dan logika manusia. Inilah yang membuat semakin dalam sifat humanisme itu, maka semakin eratlah ia dengan ateisme.

Humanisme adalah suatu pikiran atau paham yang berfokus hanya pada konsep berperikemanusiaan. Humanisme erat kaitannya dengan kehidupan dan bagaimana seseorang memahami dirinya dan rasa ingin tahu tentang sebuah realita dunia. Karena rasa ingin tahu yang sangat mendalam, hampir semua ilmu yang ditemui di dunia ini pun bertentangan dengan sebuah kepercayaan akan Tuhan.

Contoh sederhananya adalah penciptaan bumi. Tentunya kita tahu dan percaya bumi diciptakan Tuhan. Namun, dalam ilmu pengetahuan dan ateisme, bumi sama sekali tidak diciptakan. Bumi telah ada terbentuk sejak dahulu.

Dalam buku ‘Philosophy of Humanism‘ karya Corliss Lamont, “Humanisme adalah suatu jumlah total dari sebuah realitas berupa materi dan bukan pikiran sebagai pembentuk alam semesta dan bahwa entitas supernatural tidak nyata. Ini berarti bahwa manusia tak memiliki jiwa supernatural dan abadi; dan pada tingkat alam semesta, kosmos kita tak memiliki Tuhan yang supernatural dan abadi.” Dalam buku ini, paham humanisme diartikan sebagai suatu kecintaan manusia terhadap diri yang menyebabkan tak terbukanya lagi kepercayaan diri terhadap Tuhan dan keabadianNya.

Paham humanisme membawa pada ateisme semakin terdorong dengan adanya teori Darwin pada tahun 1863 yaitu ‘Natural Selection‘ yaitu manusia dapat mempertahankan diri karena mampu melawan kekuatan seleksi dari alam. Siapapun yang kuat bertahan mengatasi proses tersebut, maka akan bertahanlah pula eksistensinya.

Hal ini tentunya sangat memengaruhi cara dan pola pikir sebagian orang untuk mengabaikan keyakinan terhadap Tuhan. Sebagai bukti, di Eropa pada awal abad ke-20 dan Amerika pada pertengahan abad ke-20 telah terjadi penurunan terhadap pencerahan keyakinan pada Tuhan karena teori ini.

Dalam uraian di atas, kita dapat simpulkan bahwa humanisme sangatlah erat dengan ateisme yang membuat manusia berpaling dari Sang Pemilik Kepercayaan. []

Sumber: Firmina Wenni

Categories