Islam Itu Agama Atau Ideologi

islam-agama-dan-ideologi

ISLAM ITU AGAMA ATAU IDEOLOGI?

Oleh: Choirul Anam

 

Islam itu sekedar agama atau ideologi? Pertanyaan ini memang telah menjadi perdebatan yang hangat diantara umat Islam sendiri. Di satu sisi, sebagian umat Islam mengatakan bahwa Islam adalah sekeda agama, sementara di sisi lain, sebagian umat Islam mengatakan bahwa Islam adalah ideologi. Tentu, masing-masing memiliki argumentasi.

Dalam bahasa Arab, Islam adalah diin. Diin inilah kata yang digunakan oleh Allah dalam al qur’an (Al Maidah 3, Ali Imran 19) dan Rasulullah dalam hadits-haditsnya. Namun, apa terjemahan dalam bahasa lain yang paling cocok?

Sebagian umat Islam lebih setuju bahwa terjemahan diin adalah agama (religion). Mereka tidak setuju dengan terjemahan bahwa diin adalah ideologi (ideology) atau menyebut Islam adalah ideologi. Beberapa alasan menolak menyebut Islam sebagai ideologi adalah sebagai berikut: Pertama, ideologi adalah gagasan manusia, sedangkan Islam bukanlah gagasan manusia. Islam berasal dari Sang Pencipta, Allah SWT. Kedua, ideologi memposisikan akal berdaulat, sedangkan agama menundukkan akal.

Sementara sebagian umat Islam lebih setuju terjemahan diin adalah ideologi. Islam tidak sekedar agama, tetapi ideologi. Beberapa argumentasi menyebut Islam sebagai sebuah ideologi adalah sebagai berikut: Pertama, Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah seperti sholat puasa dan lain-lain, tetapi Islam juga mengatur hubungan manusia dengan sesama, misalnya sangsi bagi pencuri, mengatur berbagai transksi ekonomi seperti menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba, dan lain sebagainya.Kedua, Islam merupakan ajaran yang komprehensif. Islam memiliki sudut pandang tentang kehidupan yang menendasar tentang kehidupan, manusia dan alam semesta, yang disebut akidah; juga memiliki sistem kehidupan paripurna yang terpancar dari akidah Islam. Sistem Islam itu meliputi sistem politik, ekonomi, peradilan, sosial, pendidikan dan lain sebagainya. Dengan fakta seperti ini, maka Islam tidak bisa dipahami sekedar agama, tetapi lebih tepat Islam dipahami sebagai ideologi.

Namun sayangnya, dari perbedaan pemahaman ini, telah muncul sebutan khusus dengan konotasi-konotasi yang tampak menyudutkan pihak lain. Pihak yang memahami Islam sekedar sebagai agama disebut sebagai kelompok humanis, toleran, inklusif, dan modernis. Sementara pihak yang memahami Islam sebagai ideologi disebut sebagai kelompok radikal, fundamentalis, revivalis, ekstrimis, eksklusif, dan tak jarang disebut teroris.

*****

Benarkah Islam itu agama (religion)?

Untuk membahas hal ini, kita harus membahas dahulu makna agama atau religion. Sebab, istilah ini, bukan berasal dari al quran, juga bukan dalam bahasa Arab.

Menurut Encyclopaedia Britannica (2005) menyatakan bahwa agama (religion) adalah hubungan manusia dengan sesuatu yang dianggap suci, sakral, spiritual dan bersifat ketuhanan. Agama umumnya dianggap sebagai hubungan sesorang dengan Tuhan, dewa-dewa dan spirit. Ibadah merupakan unsur paling mendasar dalam agama. Tetapi masalah moralitas, kepercayaan dan partisipasi dalam institusi keagamaan, umumnya juga dianggap sebagai bagian dari kehidupan agama, sebagaimana dipraktekkan oleh orang-orang yang percaya tuhan (belivers) dan para penyembah (worshipers); hal itu juga diperintahkan oleh nasihat keagamaan dan kitab suci (human beings’ relation to that which they regard as holy, sacred, spiritual, or divine. Religion is commonly regarded as consisting of a person’s relation to God or to gods or spirits. Worship is probably the most basic element of religion, but moral conduct, right belief, and participation in religious institutions are generally also constituent elements of the religious life as practiced by believers and worshipers and as commanded by religious sages and scriptures).

Émile Durkheim juga mengatakan bahwa agama adalah suatu sistem yang terpadu yang terdiri atas kepercayaan dan praktik yang berhubungan dengan hal yang suci. Kita sebagai umat beragama semaksimal mungkin berusaha untuk terus meningkatkan keimanan kita melalui rutinitas beribadah, mencapai rohani yang sempurna kesuciannya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Agama adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya. Kata “agama” berasal dari bahasa Sanskerta, āgama yang berarti “tradisi”. Kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin religio (dalam bahasa Inggris, religion) dan berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti “mengikat kembali”. Maksudnya dengan ber-religi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan.

Dengan definisi agama seperti ini, Islam memang dapat disebut sebagai agama. Sebab, Islam memang mengatur hubungan manusia dengan tuhannya, Allah SWT. Islam juga mengatur berbagai cara ritual (ibadah mahdoh), moral, juga memiliki kitab suci samawi, yaitu al qur’an yang di dalamnya memberikan petunjuk kepada manusia tentang baik dan buruk, serta surga dan neraka.

Jadi, tidak diragukan lagi, bahwa Islam memang agama.

Namun, apakah Islam hanya mengatur hubungan manusia dengan tuhannya dan masalah-masalah moral semata?

Jika kita teliti dengan jujur, Islam ternyata juga mengatur hubungan manusia dengan sesama, baik dalam sekala kecil maupun skala besar. Islam mengatur berbagai transaksi bisnis, yaitu Islam mengijinkan jual-beli dan mengharamkan riba, dan lain sebagainya. Islam mengatur berbagai sangsi atas berbagai tindakan kriminal, semisal potong tangan bagi pencuri. Islam mengatur hubungan umat Islam dengan bangsa-bangsa lain di dunia, dan lain sebagainya.

Dengan fakta ini, tampak bahwa Islam memang agama, tetapi tidak sekedar agama. Islam lebih luas dari sekedar agama dengan definisi agama seperti diatas. Jika Islam diibaratkan rumah, agama itu hanyalah sekedar kamar yang ada di dalam rumah. Di dalam rumah ada ruangan lain selain kamar. Menyebut Islam hanya sekedar agama justru menyempitkan Islam, yang sesungguhnya tidak sesempit itu.

Lalu apa istilah yang tepat untuk Islam?

*****

Seiring dengan perkembangan dunia, muncul istilah-istilah baru, untuk memberi nama terhadap fakta-fakta baru atau fakta-fakta lama. Istilah-istilah ini muncul dalam berbagai aspek kehidupan, baik dalam sains, teknologi, filsafat, sosial, politik dan juga dalam masalah-masalah keagamaan.

Sekedar contoh muncul istilah “hukum gravitasi” dalam ilmu Fisika. Hukum itu menjelaskan bahwa dua benda yang memiliki massa, maka kedua akan saling tarik menarik. Apel adalah benda yang memiliki massa. Bumi adalah benda yang juga memiliki massa. Keduanya akan saling tarik-menarik. Karena bumi jauh lebih besar, maka yang tampak adalah bahwa apel ditarik oleh bumi. Dalam bahasa awam, apel yang ditarik bumi, dinamakan “jatuh ke bawah”. Sebelum istilah “hukum gravitasi” dikenalkan, jika apel jatuh ya memang ke bawah. Bukan ke atas. Jadi, “hukum gravitasi” adalah istilah baru untuk fakta lama. Sedangkan, contoh istilah baru untuk fakta baru misalnya mobil (car), kreta (train), handphone dan lain sebagainya. Istilah-istilah ini dikenalkan untuk memberi fakta-fakta baru yang muncul sebagai hasil kemajuan sains dan teknologi.

Diantara istilah baru yang muncul di akhir abad ke 18 adalah istilah ideologi (ideology).Ideology menurut Encyclopaedia Britannica (2005) berasal dari kata idéologie yang muncul ketika masa revolusi Perancis dan diperkenalkan oleh seorang filosof Perancis bernama Antoine Destutt de Tracy (1796).

Ideologi ini pada awalnya didefinisikan sebagai science of ideas (ilmu tentang gagasan manusia). Tracy meminjam ideologi sebagai science of ideas dari filosof John Locke dan Étienne Bonnot de Condillac yang menyatakan bahwa semua pengetahuan manusia adalah pengetahuan tentang gagasan “all human knowledge was knowledge of ideas.” Namun, sebenarnya Tracy lebih dipengaruhi oleh filosof Inggris Francis Bacon yang menyatakan bahwa takdir ilmu tidak hanya sekedar untuk memperluas pengetahuan manusia, tetapi juga untuk meningkatkan kehidupan manusia di muka bumi (the destiny of science was not only to enlarge man’s knowledge but also to improve the life of men on earth).

Jadi, ideologi (the science of ideas) adalah pengetahuan dengan sebuah misi, yaitu melayani manusia, bahkan menyelamatkan manusia, dengan menghilangkan praduga dan menyiapkan manusia untuk kebebasan akal (it aimed at serving men, even saving them, by ridding their minds of prejudice and preparing them for the sovereignty of reason).

Ideologi memang suatu gagasan. Namun gagasan di sini bukanlah sekedar pengetahuan yang memberikan penjelasan tentang sesuatu. Gagasan itu harus memperbaiki kehidupan manusia. Dengan demikian, ideologi ini tidak sekedar seperti filsafat, yang hanya berupa teori/gagasan. Ideologi adalah teori (gagasan) sekaligus aspek praktis dari gagasan tersebut. Dalam perkembangannya berikutnya, kata ideologi digunakan dengan makna keyakinan yang diperjuangkan (action-oriented theory).

Singkatnya, ideologi adalah bentuk filosofi sosial atau politik dimana elemen praktis sangat penting sebagaimana aspek teoretisnya. Ideologi merupakan sistem tentang gagasan manusia untuk menjelaskan dan mengubah dunia (Ideology is a form of social or political philosophy in which practical elements are as prominent as theoretical ones. It is a system of ideas that aspires both to explain the world and to change it).

Berikut ini adalah karakteristik ideologi: 1. Mengandung teori penjelasan yang komprehensif tentang manusia dan lingkungannya. 2. Memiliki konsep organisasi sosial-politik dalam bentuk umum. 3. Memiliki konsep usaha untuk mewujudkan program tersebut sebagai bentuk perjuangan. 4. Tidak hanya membujuk tapi juga merekrut melalui pembangunan komitmen. 5. Memiliki sasaran ke publik dengan kecenderungan untuk membangun kepemimpinan berpikir (1.it contains an explanatory theory of a more or less comprehensive kind about human experience and the external world; 2. it sets out a program, in generalized and abstract terms, of social and political organization; 3. it conceives the realization of this program as entailing a struggle; 4. it seeks not merely to persuade but to recruit loyal adherents, demanding what is sometimes called commitment; 5. it addresses a wide public but may tend to confer some special role of leadership on intellectuals).

Sejarawan filsafat menyebut abad ke-19 sebagai “Abad Ideologi”, bukan karena kata “ideologi” populer, tetapi munculnya beragam ISME terjadi pada abad tersebut. Revolusi Perancis dan Revolusi Industri terjadi sebagai respon atas kelaliman kerajaan yang didukung oleh teokrasi yang berbuah sekularisasi agama dari negara dan kehidupan (sekulerisme). Ideologi menjadi respon atas agama, bahwa dunia tidak cukup diatur hanya dengan agama, tetapi dengan ideologi.

*****

Layakkah Islam disebut sebagai ideologi?

Untuk menyematkan istilah pada suatu fakta, yang harus dilakukan adalah mengkaji definisi suatu istilah dan mengkaji realitas fakta tersebut. Jika memang realitas fakta yang dimaksud sesuai dengan definisi suatu istilah, maka istilah tersebut dapat digunakan untuk menyebut (menamai) fakta tersebut. Namun, jika realitas fakta tersebut tidak sesuai dengan definisi suatu istilah, maka istilah tersebut tidak dapat digunakan. Ini clear.

Tapi, bagaimana jika realitas fakta tersebut tidak sesuai seluruhnya dengan definisi suatu istilah? Artinya, sebagian besar fakta tersebut sesuai, namun ada bagian-bagian yang tidak sesuai, apakah suatu istilah tetap masih digunakan? Dalam hal ini, biasanya, istilah tersebut dapat digunakan, tetapi dengan catatan atau dalam tanda petik (“”).Menyebut Islam sebagai agama, itu boleh-boleh saja, tetapi harus dengan catatan atau dalam tanda petik (seperti telah dijelaskan sebelumnya). Tetapi, yang paling aman, biasanya seseorang mencari istilah baru, agar tidak menimbulkan kebingungan dan kerancuan.

Menyebut Islam sebagai sebuah ideologi, maka kita harus mengkaji definisi ideologi dan fakta Islam itu sendiri. Definisi ideologi telah dibahas di depan. Bagaimana dengan realitas Islam itu sendiri?.

Islam adalah diin yang diturunkan Allah melalui Nabi Muhammad, untuk mengatur hubungan manusia dengan tuhannya, hubungan manusia dengan dirinya sendiri, dan hubungan manusia dengan sesamanya. Islam itu ajaran yang komprehensif, yang mengatur semua aspek kehidupan, baik kehidupan privat, keluarga, kelompok, masyarakat maupun bangsa dan negara.

Sederhananya, Islam terdiri dari akidah dan syariah (peraturan-peraturan dalam kehidupan).

Yang dimaksud akidah adalah pemikiran menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan hidup; serta tentang apa yang ada sebelum dan setelah kehidupan, di samping hubungannya dengan sebelum dan sesudah alam kehidupan. Sedangkan peraturan (syariah) yang lahir dari akidah tidak lain berfungsi untuk memecahkan dan mengatasi berbagai problematika hidup manusia, menjelaskan bagaimana cara pelaksanaan pemecahannya, memelihara akidah serta untuk mengemban Islam ke seluruh dunia.

Penjelasan tentang cara pelaksanaan, pemeliharaan akidah, dan penyebaran risalah dakwah inilah yang dinamakan thariqah (metode). Sedangkan yang selian itu, yaitu akidah dan berbagai pemecahan masalah hidup tercakup dalam fikrah (konsep, teori). Jadi Islam mencakup dua bagian, yaitu fikrah dan thariqah.

Dengan fakta seperti Islam seperti ini, apakah Islam dapat disebut ideologi?

Tentu saja bisa. Tetapi ada satu hal lagi yang penting dibahas di sini, bahwa akidah Islam dan syariah Islam yang dipahami seseorang (muncul dibenak seseorang) adalah bersumber dari wahyu. Sementara ideologi itu semata-mata muncul dibenak seseorang karena pemikiran dan kejeniusan seseorang. Maka menyebut Islam sebagai ideologi harus dengan catatan atau tanda petik (“”). Islam adalah ideologi, tetapi yang berasal dari wahyu.

*****

Jadi, baik istilah agama maupun ideologi, memang tidak bisa mewakili Islam 100%. Sehingga menyebut Islam sebagai agama atau ideologi, harus dengan catatan atau tanda petik. Inilah salah satu problematika bahasa yang berbeda dan dinamika perkembangan manusia.

Agar tidak terjadi kerancuan, dikenalkan istilah baru. Dalam hal ini Syeikh Taqiyuddin An-nabhani, mengenalkan istilah baru yang beliau sebut sebagai mabda. Mabda’ berasal dari kata bada’a-yabda’u-mabda’. Secara bahasa mabda artinya adalah tempat memulai. Secara istilah, mabda hampir sama dengan ideologi, tetapi sumbernya tidak semata-mata berasal dari pemikiran manusia. Sumber mabda itu bisa pemikiran manusia dan bisa wahyu.

Mabda yang muncul dalam benak manusia melalui wahyu Allah adalah mabda yang benar. Karena bersumber dari Al-Khaliq, yaitu Pencipta alam, manusia, dan hidup, yakni Allah SWT. Mabda ini pasti kebenarannya (qath’i). Sedangkan mabda yang muncul dalam benak manusia karena kejeniusan seseorang adalah mabda yang salah (bathil). Karena berasal dari akal manusia yang terbatas, yang tidak mampu menjangkau segala sesuatu yang nyata. Disamping itu pemahaman manusia terhadap proses lahirnya peraturan selalu menimbulkan perbedaan, perselisihan, dan pertentangan, serta selalu terpengaruh lingkungan tempat ia hidup. Sehingga membuahkan peraturan yang saling bertentangan, yang mendatangkan kesengsaraan bagi manusia. Karena itu, mabda yang muncul dari benak seseorang adalah mabda yang salah, baik dilihat dari segi akidahnya maupun peraturan yang lahir dari akidah tersebut.

Islam adalah mabda yang benar, sementara ideologi Kapitalisme dan ideologi sosialisme adalah mabda yang keliru.

Ide (pemahaman) dasar yang bersifat menyeluruh menjadi asas, karena ide (pemahaman) dasar tersebut menjadi akidah bagi mabda. Akidah itu pula yang menjadi qaidah fikriyah (landasan pemikiran) sekaligus sebagai qiyadah fikriyah (kepemimpinan pemikiran). Dengan landasan ini dapatlah ditentukan arah pemikiran manusia dan pandangan hidupnya. Dengan landasan itu pula dapat dibangun seluruh pemikiran dan dapat dilahirkan seluruh pemecahan problematika kehidupan. Keberadaan thariqah merupakan suatu keharusan, karena peraturan yang lahir dari akidah itu apabila tidak memuat penjelasan-penjelasan; tentang bagaimana cara praktis pemecahannya, bagaimana cara pemelihara/melindungi akidah, bagaimana cara mengemban dakwah untuk menyebarluaskan mabda; maka ide dasar ini hanya akan menjadi bentuk filsafat yang bersifat khayalan dan teoritis belaka, yang tercantum dalam lembaran-lembaran buku, tanpa dapat mempengaruhi kehidupan.

Jadi, agar dapat menjadi sebuah mabda, di samping harus ada akidah, maka harus ada pula thariqah (metoda pelaksanaannya).

*****

Mungkin timbul pertanyaan, mengapa harus dikenalkan istilah baru, tidak cukupkah menggunakan istilah lama? Mengapa tidak mencukupkan dengan istilah lama, misalnya bahwa Islam adalah diin?

Islam adalah diin, inilah penjelasan Allah dan Rasul-Nya. Diin ini dipahami oleh para generasi awal Islam dengan benar. Diin adalah aturan yang komprehensif tentang kehidupan, mengatur hubungan manusia dengan tuhannya, mengatur hubungan manusia dengan dirinya, dan mengatur hubungan manusia dengan sesamanya. Iman (akidah) merupakan pondasi dan syariah adalah implementasinya dalam kehidupan. Tidak ada satu pun sisi kehidupan yang tidak diatur oleh Islam, termasuk masalah negara, politik, hukum, peradilan, ekonomi, pendidikan dan lain sebagainya. Inilah yang dipahami oleh generasi awal Islam.

Namun seiring dengan perkembangan dunia, munculnya revolusi industri di Eropa dengan paradigma sekulisme sebagai pandangan asasi tentang kehidupan, telah mengubah dunia secara total. Akhirnya Islam diposisikan persis seperti Yahudi, Hindu, Kristen dan agama-agama yang lain. Islam memang diin, dan itu masih tertulis seperti itu di dalam al qur’an dan hadits, tetapi diin di sini dimaknai sebagai agama, yang hanya mengatur hubungan manusia dengan tuhannya. Islam adalah agama, bukan ideologi. Konsekuensinya, syariah-syariah Islam pada level kehidupan real, terutama dalam urusan kenegaraan, harus diamputasi. Syariah Islam tentang eknomi dan sangsi hukum, misalnya, harus ditinggalkan. Sebab, Islam adalah agama, bukan ideologi. Itulah takdir agama.

Sehingga di sini diperlukan revitalisasi dan kaji ulang tentang makna diin, agama dan ideologi. Memang, istilah itu bukan perkara terpenting. Yang terpenting adalah pemahaman dan amal (tindakan), bukan istilah. Tetapi, orang memahami sesuatu dan bertindak biasanya sangat dipengaruhi oleh istilah-istilah yang digunakan. Orang yang memahami Islam sekedar agama, konsekuensianya mereka menolak syariah-syariah Islam dalam level negara. Padahal, syariah Islam mengatur semua itu. Jadi, suatu istilah itu tidak bisa dipandang sepele.

Hal ini kira-kira sama dengan istilah akidah dan iman. Di dalam al qur’an dan al hadits untuk menyebut keyakinan yang terhunjam di dalam dada disebut dengan istilah iman. Namun, setelah munculnya perdebatan filsafat yang mengacaukan cara berpikir sebagian umat Islam, pemahaman terhadap istilah iman menjadi kacau dan kehilangan vitalitasnya. Karena itu dikenalkan istilah baru yang substansinya sama dengan iman, tetapi dengan arti yang lebih tegas dan tidak menimbulkan mis-persepsi pada zaman itu. Istilah itu dikenal dengan nama akidah. Istilah ini dikenalkan oleh Imam Abu Ja’far Ath-Thohawi (239-321 H) dalam kitabnya yang berjudul Aqidah Thahawiyah. Karena itu, jika kita termasuk orang yang beranggapan bahwa penggunaan istilah baru untuk memperjelas suatu pembahasan adalah tindakan bid’ah yang mungkar, sebaiknya tidak usah menggunakan istilah akidah. Sebab, akidah itu istilah baru.

Jadi, Islam adalah diin. Menyebut Islam sebagai agama (religion) atau ideologi (ideology) harus dengan catatan atau tanda petik (“”). Dalam istilah yang lebih jelas, dalam konteks sekarang, Islam adalah mabda’.

Wallahu a’lam.

 *****

Kesimpulan Islam adalah:

*Agama, karena membahas aspek spiritual, aspek moral, hubungan manusia dengan tuhannya, kitab suci dan lain sebagainya.

*Ideologi, karena kedalaman dasarnya dan keluasan cakupannya. Islam terdiri dari akidah sebagai dasar pemahaman tentang kehidupan, dan syariah sebagai implementasi dari akidah. Dengan catatan, ideologi Islam bukan bersumber dari akal atau sekedar ide manusia.

*Mabda, karena memiliki aspek fikroh dan thoriqoh yang komprehensif, atau akidah dan syariah

Categories