
Telaah Kritis Logika Mistika Madilog dalam Perspektif Islam
MUSTANIR.net – Saat ini kita melihat fenomena gandrungnya anak-anak muda, termasuk generasi Muslim, terhadap buah pemikiran Tan Malaka, terutama terhadap salah satu buah karyanya yang terkenal berjudul Madilog (Materialisme, Dialektika, dan Logika). Mereka memandang bahwa Madilog bukan sekadar teks, tetapi sebuah manifesto intelektual yang bertujuan untuk membebaskan sekaligus membentuk cara berpikir generasi mendatang.
Pemikiran Tan Malaka tentang materialisme, dialektika, dan logika dianggap memberikan panduan berharga dalam menghadapi tantangan zaman modern. Bahkan, menurut mereka, Madilog mengajak pembacanya berpikir rasional dan kritis yang relevan dengan Islam dalam hal keadilan dan kemajuan.
Madilog ditulis oleh Iljas Hussein (nama pena Tan Malaka) dan terbit pertama kali pada 1943. Buku yang dianggap magnum opus (karya besar) dari Tan Malaka ini adalah sintesis materialisme dialektis Marxis dan logika Hegelian (Wikipedia). Karl Marx dan Hegel adalah dua tokoh sentral peletak dasar teori sosialisme komunisme. Tan Malaka sendiri adalah tokoh yang terkenal dengan ideologi komunisme dan pernah dipilih sebagai ketua Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 1921.
Jadi, jelaslah bahwa Madilog adalah buah karya seorang tokoh komunisme (sekalipun dalam bukunya, Tan Malaka mengaku Muslim) yang berisi gagasan materialisme, dialektika, logika, dan anti-Tuhan. Fenomena gandrungnya generasi muda Muslim pada Madilog sudah semestinya membuat kita prihatin, karena mereka turut terpesona dengan gagasan yang bertentangan dengan syariat.
Kritikan Tan Malaka terhadap Konsep Logika Mistika
Topik pertama yang dibahas cukup panjang dalam buku ini adalah kritikan Tan Malaka terhadap logika mistika. Tan Malaka menjelaskan logika mistika sebagai konsep keyakinan yang melekat pada seseorang berdasarkan pada dogma-dogma dari ayat suci Maha Dewa yang berkuasa. Narasi ini dibangun oleh Tan Malaka melalui cerita tentang Dewa Rah dalam keyakinan Mesir kuno yang dianggap sebagai Maha Dewa yang mencipta dan menguasai alam semesta (Tan Malaka, Madilog, hlm. 32—33).
Tan Malaka menyelipkan berbagai contoh logika mistika sebagai penghalang kemajuan suatu bangsa, seperti angan-angan keberhasilan jika beriman kepada sebuah keyakinan sehingga malas bekerja. Masih banyak contoh lain yang tersebar dalam setiap bab yang merupakan kritikan Tan Malaka terkait logika mistika, setidaknya dihimpun dalam bab “Lima Kesalahan”. Di akhir bab, Tan Malaka menyimpulkan kesalahan tersebut tidak berkaitan dengan kekurangan logika, tetapi mayoritas berakar pada kesalahan apriori, yang Tan Malaka sebut sebagai kesalahan mistifikasi, yaitu keyakinan pada mistik yang dianut.
Polemik pun muncul terkait logika mistika yang dimaksudkan Tan malaka dalam buku Madilog. Sebagian berpendapat bahwa logika mistika yang Tan Malaka maksud adalah terkait fenomena kepercayaan banyak masyarakat Indonesia terhadap hal klenik, berupa santet dan perdukunan, yang menurut mereka sebagai penyebab Indonesia tidak menjadi negara maju. Sebagian yang lain memperluas pengategorian logika mistika kepada fenomena meningkatnya ketaatan masyarakat terhadap agama, termasuk Islam.
Manakah yang paling mendekati maksud logika mistika Tan Malaka? Apakah Islam merupakan bagian dari logika mistika yang dikritik Tan Malaka dalam Madilog-nya?
Sumber Penolakan Logika Mistika Tan Malaka adalah Materialisme
Menurut Vier Agi Leventa dari Mataram Liberation Institute (MLI), di kanal youtube.com/@khilafah_news (1-12-25), anggapan sejumlah pihak yang menyebut logika mistika dalam buku Madilog (Bab I “Logika Mistika”) karya Tan Malaka sekadar membahas klenik dan perdukunan adalah hal problematik dan reduktif, yaitu terlalu mengerdilkan makna yang dimaksud Tan Malaka.
Menurut Vier, yang dimaksud logika mistika Tan Malaka dalam kerangka Madilog adalah cara berpikir yang berhenti pada keyakinan yang tidak bisa diuji secara materiel dan tidak bisa masuk pada kajian ilmiah. Menurutnya, kepercayaan kepada wahyu, surga, neraka, dan hukum syariat termasuk logika mistika, karena bersandar pada hal yang transenden.
Jadi logika mistika dalam Madilog bukan hanya tentang klenik atau jimat, tetapi justru lebih banyak tentang agama, terutama Islam. Ini karena Islam merupakan agama berbasis wahyu dan meyakini perkara yang gaib. Jadi, ketika Tan Malaka mengkritik konsep logika mistika, narasinya tidak terlepas dari keyakinannya pada materialisme, dialektika, dan logika yang diakronimkan menjadi Madilog.
Telaah Kritis Logika Mistika dalam Perspektif Islam
Menurut Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Nizham al-Islam, materialisme merupakan akidah dari ideologi sosialisme-komunisme. Materialisme memandang bahwa materi adalah asal dari segala sesuatu. Melalui perkembangan dan evolusi (dialektika) materi, materi benda-benda lainnya menjadi ada.
Jadi, di balik alam materi tidak ada alam lainnya. Materi bersifat azali (tidak berawal dan tidak berakhir) dan kadim (terdahulu), materi tidak ada yang mengadakan, artinya wajibul wujud (wajib adanya). Penganut ideologi ini mengingkari penciptaan oleh Zat yang Maha Pencipta. Mereka juga mengingkari aspek kerohanian dan beranggapan bahwa pengakuan adanya aspek rohani merupakan sesuatu yang berbahaya bagi kehidupan. Agama dianggap sebagai candu yang meracuni masyarakat dan menghambat pekerjaan.
Pemahaman ini selaras dengan konsep logika mistika yang dikritik oleh Tan Malaka dalam Madilog, yaitu cara berpikir yang mencakup segala kepercayaan yang mengacu pada hal-hal gaib. Tan Malaka menolak konsep ini, karena bertentangan dengan konsep dasar yang dianutnya, yaitu materialisme, bahwa segala sesuatu berasal dari materi.
Oleh karena itu, Tan Malaka mengkritisi konsep kepercayaan pada hal imaterial (gaib), termasuk mengkritisi eksistensi Tuhan. Tuhan sebagai entitas imaterial dianggap tidak pernah ada. Hal ini berimplikasi pada wahyu (firman Allah) yang menjadi syariat bagi umat Islam, juga dianggap tidak pernah ada.
Menurut Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab asy-Syakhshiyah al-Islamiyah Jilid I, perkara akidah bagi seorang muslim dituntut pembenarannya bersifat pasti, tidak boleh ada keraguan sedikit pun. Beliau menulis,
اَلْعَقِيْدَةُ هِيَ الْجَانِبُ النَّظَرِي الَّذِيْ يَطْلُبُ اْلاِيْمَانَ بِهِ اَوَّلاً وَقَبْلَ كٌلِّ شَيْئِ اِيْمَانًا لاَ يُرَقِّقُ اِلَيْهُ شَكٌّ وَلاَ تُؤَثِّرُ فِيْهِ شُبْهَةٌ
“Akidah ialah aspek teoretis yang harus dipercaya lebih dahulu sebelum segala perkara yang lainnya dengan kepercayaan yang tidak diliputi oleh keraguan dan tidak dipengaruhi oleh kesamaran (kepalsuan) yang menyerupainya.”
Pembenaran yang bersifat pasti (tashdiqul jazm) adalah pembenaran yang sesuai kenyataan dan berdasarkan dalil. Jika objek keimanan tersebut merupakan perkara yang dapat diindra dan dapat dijangkau oleh akal, seperti keimanan kepada adanya Allah, wahyu (firman Allah), Rasulullah ﷺ, serta qada dan kadar, maka landasannya adalah dalil akli.
Sementara itu, jika objek keimanan tersebut adalah perkara gaib yang tidak dapat diindra dan tidak dapat dijangkau oleh akal, seperti keimanan kepada malaikat, hari kiamat, surga, dan neraka, maka landasannya adalah dalil naqli. Namun, dalil naqli itu sendiri diperoleh dari perkara yang bisa diindra dan bisa dijangkau oleh akal, yaitu bersandar pada al-Qur’an dan hadis mutawatir.
Dengan demikian, harus ada koreksi terhadap pandangan yang mengategorikan keimanan seorang muslim kepada hal gaib sebagai logika mistika hanya karena keimanan tersebut bersandar pada hal yang transenden. Islam tidak menempatkan kepercayaan pada hal gaib itu sebagai mitos, tetapi sebagai bagian dari epistemologi wahyu yang terverifikasi.
Kebenarannya telah dibuktikan secara rasional dengan proses berpikir. Syekh Said Ramadhan Buthi dalam karyanya Manil Mas’uul ‘an Takhallufil Muslimin menjelaskan bahwa Islam memiliki kerangka epistemologi yang jauh lebih ketat daripada sekadar mistik. Kebenaran agama didasarkan pada dua fondasi berikut ini.
• Pertama, kredibilitas sumber.
Wahyu berasal dari Allah ﷻ, sumber kebenaran absolut. Wahyu merupakan perkara asasi dalam agama Islam karena risalah Islam yang disampaikan Rasulullah ﷺ kepada umat manusia adalah wahyu dari Allah ﷻ. Sekalipun wahyu merupakan hal gaib, tetapi eksistensinya dapat diuji secara rasional. Wahyu, yang merupakan firman Allah, tertuang di dalam al-Qur’an yang kebenarannya telah teruji secara rasional, bukan mistik ataupun tahayul.
Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan di dalam kitab Nizhamul Islam bahwa sekalipun al-Qur’an berbahasa Arab dan berciri khas Arab, baik dari segi bahasa maupun gayanya, tetapi tidak ada satu pun orang Arab yang mampu menandingi ketinggian dan keindahan pilihan bahasa maupun gaya dalam al-Qur’an. Mereka tidak mampu mendatangkan yang semisal, kendati ada tantangan dari al-Qur’an dan mereka telah berusaha menjawab tantangan tersebut. Ini sebagaimana tertera di dalam ayat,
اَمْ يَقُوْلُوْنَ افْتَرٰىهُۗ قُلْ فَأْتُوْا بِسُوْرَةٍ مِّثْلِهٖ وَادْعُوْا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ ٣٨
“Bahkan, apakah (pantas) mereka mengatakan, ‘Ia (Nabi Muhammad) telah membuat-buat (al-Qur’an) itu.’? Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘(Kalau demikian), buatlah satu surah yang semisal dengannya dan ajaklah siapa yang dapat kamu (ajak) selain Allah (untuk menolongmu), jika kamu orang-orang yang benar.” (QS Yunus: 38)
Dengan demikian, telah terbukti bahwa orang Arab yang berbahasa Arab seperti bahasanya al-Qur’an, tidak ada satu pun dari mereka, bahkan para ahli syairnya sekalipun, yang mampu mendatangkan yang semisal dengan al-Qur’an.
Hal ini menjadi bukti rasional bahwa wahyu, dalam hal ini al-Qur’an, bukanlah kalam manusia, tetapi kalam Allah. Bukti rasional ini juga menjadi dalil bahwa Nabi Muhammad ﷺ yang menerima wahyu (al-Qur’an) adalah seorang nabi dan rasul, karena tidak ada yang menerima wahyu—yang merupakan syariat-Nya—kecuali para nabi dan rasul. Kebenaran ini dibangun berdasarkan bukti rasional, bukan mistik ataupun klenik.
• Ke dua, sanad yang sahih.
Informasi agama, terlebih lagi terkait keyakinan (akidah) harus ditransmisikan melalui periwayatan oleh sekian para perawi yang terpercaya, sanad bersambung tidak ada yang terputus, serta mutawatir. Syarat ketat seperti ini menghilangkan munculnya keraguan dalam masalah akidah, dan tercapainya derajat pembenaran yang pasti (tashdiqul jazm).
Penetapan syarat yang ketat bagi sumber keyakinan, berimplikasi pada keyakinan tak terbantahkan terhadap kebenaran seluruh isi al-Qur’an dan khabar (hadits) mutawatir, termasuk keyakinan adanya para malaikat, hari kiamat, surga, dan neraka. Berimplikasi pada ketaatan terhadap syariat-Nya. Berimplikasi keyakinan pada yang membawanya, yaitu Rasulullah ﷺ, sebagai satu-satunya suri teladan bagi umat manusia.
Dengan demikian, jalan menuju iman bagi seorang Muslim haruslah rasional, melalui proses berpikir (thariqah akliah), karena akallah yang bisa mengantarkan pada pembenaran secara pasti. Selain itu, Islam melarang bertaklid dalam masalah akidah. Pembenaran secara pasti dalam perkara akidah akan membentuk ketundukan tanpa syarat pada syariat.
Islam Mengharamkan Logika Mistika yang Bersifat Mistik, Klenik, Takhayul, dan Sejenisnya
Konsep logika mistika dalam Madilog memang tidak digambarkan secara spesifik sehingga membuka ruang sebagian pembaca hanya mengaitkan logika mistika dengan hal-hal yang bersifat mistik, klenik, takhayul, dan sejenisnya. Namun, jika kemudian hal ini dikaitkan dengan ajaran Islam yang sahih, hal tersebut tidak ada landasannya sama sekali. Ini karena Islam menjadikan penyandaran kepada sesuatu selain Allah sebagai perbuatan syirik (menyekutukan Allah), sedangkan tidak ada dosa yang lebih besar daripada dosa syirik.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Thiyarah (beranggapan sial karena sesuatu) adalah kesyirikan, thiyarah adalah kesyirikan.” (HR Ahmad)
Allah berfirman,
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱفْتَرَىٰٓ إِثْمًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS an Nisa: 48)
Kemajuan Peradaban Islam Ketika Menerapkan Syariat Islam
Tan Malaka dalam Madilog mendorong rakyat Indonesia berpikir rasional-ilmiah (materialisme) dan meninggalkan logika mistika, penyandaran diri secara berlebihan pada hal gaib. Menurutnya, hal itu akan membuat orang tersebut tidak menghasilkan produktivitas dan malas berikhtiar. Tan Malaka menganggap bahwa kemunduran masyarakat Indonesia disebabkan oleh kepercayaan hal mistis (gaib) yang belum bisa dibuktikan secara empiris kebenarannya.
Mengingat fakta mayoritas masyarakat Indonesia beragama Islam, sedangkan keyakinan Islam dibangun atas wahyu, bukan tanpa landasan jika kita menyimpulkan bahwa kritikan Tan Malaka juga ditujukan kepada umat Islam. Kritikan ini tidak ada landasannya, karena pokok ajaran Islam justru menyuruh umatnya untuk berikhtiar sebaik mungkin untuk menghasilkan produktivitas. Allah Swt. berfirman,
فَاِذَا قُضِيَتِ الصَّلٰوةُ فَانْتَشِرُوْا فِى الْاَرْضِ وَابْتَغُوْا مِنْ فَضْلِ اللّٰهِ وَاذْكُرُوا اللّٰهَ كَثِيْرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ١٠
“Apabila salat (Jumat) telah dilaksanakan, bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (QS al-Jumuah :10)
Rasulullah ﷺ juga mencontohkan, ketika berperang, beliau tidak hanya berdoa. Namun, beliau juga menyusun strategi militer, memerintahkan analisis medan, serta mempersiapkan langkah taktis.
Syariat Islam juga memerintahkan umatnya untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya, memaksimalkan ikhtiar, serta produktif. Hal ini membangun jiwa inovatif dalam diri kaum muslim. Kemajuan peradaban Islam selama belasan abad menjadi bukti nyata yang tidak terbantahkan.
Andalusia, wilayah Kekhalifahan bani Umayyah, memberi sumbangan besar dalam revitalisasi dan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang. Banyak dibangun fasilitas-fasilitas modern, seperti observatorium untuk pusat penelitian astronomi, juga rumah sakit dengan pengobatan berdasarkan observasi empiris dan eksperimen.
Bagdad, ibu kota kekhalifahan bani Abasyiah, menjadi pusat ilmu pengetahuan di dunia. Dari sana lahirlah para ilmuwan terkemuka, seperti al-Khawarizmi (matematika), yang menjadi ilmu dasar berkembangnya teknologi algoritma saat ini. Juga ada Ibnu Sina (kedokteran) dengan ilmu-ilmu dasar kedokterannya yang menjadi landasan berkembangnya ilmu kedokteran masa berikutnya sampai sekarang.
Jelaslah bahwa ketika wahyu dijadikan panduan dalam menata peradaban, peradaban Islam meraih masa gemilang, karena wahyu berasal dari Zat pemilik kebenaran hakiki. Setiap tantangan peradaban mendapatkan solusi yang komprehensif.
Demikianlah, topik logika mistika yang menjadi polemik pembahasan yang digandrungi kalangan anak muda. Pembahasannya akan melahirkan paradigma keliru, jika pisau analisisnya bukan ideologi Islam, misalnya materialisme, karena justru akan memandang agama sebagai penghambat peradaban.
Merupakan suatu hal ironis sekaligus memprihatinkan jika generasi muda saat ini justru lebih terpesona dengan ajaran materialisme, dialektika, dan logika. Padahal, ajaran tersebut melahirkan paradigma berpikir yang terbukti telah gagal mempertahankan peradaban umat manusia. Negara utama pengusung ideologi materialisme (sosialisme komunisme), yaitu Uni Soviet, justru telah lama mengalami kehancuran.
Sebagai seorang Muslim, semestinya kita membangun paradigma berpikir kita di atas landasan akidah Islam. Hal ini, selain merupakan konsekuensi keimanan, juga karena hanya ideologi Islam yang memiliki konsep dan metode yang jelas dan sahih dalam membangun peradaban.
Sejarah telah mencatat dengan tinta emas, peradaban Islam selama kurang lebih 13 abad telah menjadi peradaban gemilang dalam kehidupan umat manusia, yang tidak pernah diraih oleh ideologi yang lain. Kaum Muslim, terutama generasi muda sebagai agen kebangkitan, memiliki tanggung jawab untuk berjuang mewujudkan kembali peradaban Islam di muka bumi ini. []
Sumber: Ati Solihati
