Sebelum Kasus Zara Mencuat, Santri Umur 16 Tahun Sudah Mengkritik Buku Sapiens

MUSTANIR.netCamillia Lætitia Azzahra atau yang akrab disapa Zara, anak mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, sedang menjadi perbincangan hangat netizen Indonesia. Itu terkait pengumumannya untuk melepas jilbab. Dilansir dari laman abadikini.com, media siber itu menduga, Zara melepas jilbabnya setelah membaca buku Sapiens: Sejarah Singkat Umat Manusia (2014) karya Yuval Noah Harari.

Setahun lalu, 2023, seorang santri Pesantren at-Taqwá Depok —berumur 16 tahun— sudah menulis sebuah makalah berjudul: Kritik terhadap Pemikiran Yuval Noah Harari tentang Konsep Manusia. Muhammad Fakhir Mumtaz, nama santri itu, adalah santri Pesantren Pemikiran dan Peradaban Islam (Pristac/Pesantren for the Study of Islamic Thought and Civilization), setingkat SMA. Secara formal, Fakhir duduk di kelas 1 SMA.

Di Pristac itulah, para santri diwajibkan menulis sebuah makalah dengan bimbingan para guru yang otoritas di bidangnya. Makalah Fakhir itu sudah dipresentasikan dalam empat tahap, sebagai bentuk ujiannya.

Pertama, presentasi di hadapan guru penguji; ke dua, di hadapan santri dan para guru; ke tiga, di pesantren atau sekolah lain; dan ke empat, di hadapan orang tua/wali santri.

Dalam makalahnya, Fakhir mengkritik pemikiran Harari. Ia menulis makalahnya di bawah bimbingan Dr. Muhammad Ardiansyah, mudir Pesantren at-Taqwá, yang juga dikenal sebagai seorang ulama muda.

Menurut Fakhir, kesalahan memandang hakikat manusia dapat berakibat fatal. Pandangan evolusioner yang diadopsi Harari justru akan membahayakan manusia itu sendiri.

Pandangan Harari itu hanya melihat manusia dari aspek jasad yang berupaya melindungi eksistensinya saja. Dengan kata lain, manusia hanya perlu memikirkan kesenangan dan eksistensinya di dunia saja.

Agama yang menjanjikan kehidupan setelah dunia dipandang sekadar sebagai ‘tatanan khayalan alternatif’, sebagaimana disebut di atas. Harari berupaya ‘menormalisasi’ perjuangan eksistensi manusia yang egois dan tak mengingat konsekuensinya.

Fakhir juga menilai, pandangan Harari telah salah secara epistemologis. Objek yang diteliti adalah sejarah masa lalu yang tak terindra. Harusnya, secara konsep keilmuan, objek ini masuk wilayah ‘khabar’ (report); bukan masuk wilayah jenis ilmu empiris atau rasional, yang bersumber panca indra dan akal.

Jangankan tentang asal-usul manusia yang jarak waktunya sampai ribuah tahun, untuk menentukan siapa sebenarnya orang tua yang sebenarnya, manusia sudah menggunakan sumber khabar shadiq (true report), yaitu berdasarkan keterangan dari orang tua dan orang-orang yang dipercayai.

Kita tidak harus melakukan tes DNA untuk menentukan siapa orang tua kita yang sebenarnya. Tapi, berita yang berasal dari orang-orang yang kita percayai saja sudah cukup. “Jadi kita tidak perlu bukti empiris, atau bukti rasional,” begitu tulis Fakhir.

Berdasarkan khabar shadiq itu, menurut Fakhir, maka berita apa saja yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ pasti benar. Sebab, Nabi Muhammad ﷺ merupakan orang yang paling jujur dan paling amanah di muka bumi.

Persoalannya ungkapan-ungkapan Harari tentang agama tak berpijak pada ‘paradigma’ seperti itu. Di situlah ia mengajak untuk membuang agama dan menghempaskannya satu per satu dengan sebutan ‘mitos’, ‘tatanan khayalan’, atau produk kebudayaan biasa.

Makalah Fakhir di Pesantren at-Taqwá Depok termasuk salah satu judul makalah yang unik dan relevan dengan persoalan kontemporer yang sering dibicarakan dalam hal konsep dan eksistensi kemanusiaan. Sebagaimana diketahui, kawan-kawan Fakhir di Pristac juga menulis makalah-makalah menarik dengan tema lainnya dari mulai pemikiran akhlaq, orientalisme, sejarah, pemikiran, pendidikan, hingga sastra.

Sejak lima tahun lalu, para santri Pristac sudah menghasilkan lebih dari 100 makalah ilmiah tiap tahunnya yang ditulis oleh para santri berusia kisaran 15-18 tahun. Makalah-makalah tersebut merupakan hasil renungan, diskusi dengan guru, dan dialog dengan persoalan umat Islam dan masyarakat kontemporer.

Inilah pentingnya para santri, pelajar, dan anak-anak muslim dibekali dengan pemikiran Islam yang kuat, sekaligus dibekali dengan kemampuan analisis kritis terhadap pemikiran-pemikiran kontemporer. Sejak umur 15 tahun, para santri itu sudah mukallaf. Mereka sudah harus bertanggung jawab terhadap amalnya sendiri. Karena itu, mereka harus dididik sebagai orang dewasa, agar semakin matang dan tidak terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran yang merusak iman dan akhlaknya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber: Ust. Ahda Abid al-Ghiffari (Guru Sejarah di Pesantren at-Taqwá Depok)

About Author

Categories