Pelajar Australia Memiliki Kemampuan Menulis dan Berhitung yang Rendah

Teenage Students In Library Reading Books

Pelajar Australia Memiliki Kemampuan Menulis dan Berhitung yang Rendah

Mustanir.com – Penggunaan komputer di sekolah-sekolah ditengarai menjadi penyebab menurunnya kemampuan membaca dan berhitung pelajar Australia.

Demikian kesimpulan dari laporan terbaru lembaga kerja sama dan pembangunan ekonomi (OECD). Laporan OECD terbaru mencatat Australia, Denmark, Belanda dan Norwegia sebagai negara yang paling sukses mengintegrasikan teknologi informasi ke sekolah-sekolah di negaranya.

Namun, OECD menyimpulkan pencapaian itu tidak serta merta meningkatkan kemampuan baca tulis siswa.

Trevor Cobbold, penasehat dari Lembaga Save our Schools yang mempromosikan kesetaraan pendidikan di Australia mengaku tidak terkejut dengan temuan ini.

“Laporan ini sepertinya menilai Australia terlalu berlebihan dalam menginvestasikan anggaran pada  komputer dan IT di sekolah baik dalam arti keuangan maupun pembangunan  ruang kelas,” kata Cobbold.

Dalam laporannya, OECD menemukan 94 persen pelajar Australia menggunakan komputer di sekolah, kedua setelah Norwegia dan Australia tercatat yang tertinggi dalam hal ketersediaan komputer bagi para pelajarnya. Secara kasar boleh dibilang satu banding satu.

Cobbold mengatakan laporan ini menunjukan tingkat penggunaan internet di sekolah di Australia setiap harinya juga tercatat yang paling tinggi menurut OECD.

“Pelajar di Australia rata-rata menghabiskan waktu satu jam untuk menggunakan  internet di sekolah, namun demikian hasil dari ujian internasional menunjukan kalau penggunaan internet itu tidak berpengaruh banyak pada prestasi siswa,”

“Kemampuan pelajar Australia di mata pelajaran membaca, matematika dan sains terus menurun selama satu dekade terakhir, dan tingkat pencapaian prestasi antara murid yang beruntung dan kurang beruntung meningkat atau tetap sama tidak mengalami perubahan selama lebih dari satu dekade,”

Pemerintahan Rudd dan Gillard menggelontorkan program kebijakan Revolusi Digital di Sektor Pendidikan yang bertujuan memastikan setiap siswa di kelas 9 dan 12 memiliki komputer.

Cobbold mengatakan laporan OECD ini menunjukan kebijakan tersebut mungkin telah disalahartikan.

“Menurut saya salah satu hal yang terjadi adalah orang baik dari lingkaran pendidikan maupun di luar melihat teknologi sebagai pengganti yang baik untuk pengajaran, padahal faktanya teknologi tidak bisa menggantikan proses pengajaran yang baik,”

Namun demikian laporan ini juga mencatat sejumlah kabar baik bagi pelajar Australia.

Dengan menganalisis hasil tes internasional dikalangan siswa berusia 15 tahun, OECD menemukan pelajar  Australia ternyata  memiliki tingkat kemahiran digital yang cukup signifikan diatas rata-rata, khususnya kemampuan menjelajah di situs internet. Mereka juga lebih mampu melakukan pencarian, mengevaluasi kegunaan informasi, dan menilai kredibilitas sumber online.

Profesor Johanna Wyn dari Fakultas Pendidikan Universitas Melbourne mengatakan ini merupakan hasil pencapaian yang menggembirakan.

“Ini merupakan keuntungan yang benar-benar besar karena ada begitu banyak informasi, pengetahuan dan kesempatan berkomunikasi  yang  tersedia di luar sana (internet,”

Salah satu temuan utama dari laporan OECD menyebutkan sekolah memiliki PR untuk lebih baik dalam mengintegrasikan  IT kedalam pelajaran.

“Diperlukan lebih banyak perhatian untuk menjelaskan bagaimana penggunaan teknologi informasi di sekolah-sekolah pada umumnya,” katanya.

“Teknologi canggih dapat menggantikan pengajaran yang kurang jadi jika sekolah tidak menggunakan pengajaran yang memungkinkan mereka menggunakan ruang digital secara efektif, maka pelajar tidak akan bisa mengambil manfaat dari kesempata menggunakan ruang digital. (rol/adj)

Categories