Pentingnya Persatuan Umat Islam: Pelajaran dari Serangan Militer Amerika-Israel ke Iran

MUSTANIR.netPendahuluan

Pada saat kita tengah khusyuk melaksanakan ibadah Ramadhan, pada hari Sabtu pagi tanggal 28 Februari 2026 yang lalu, Amerika Serikat bersama Zionis Israel melancarkan operasi militer ke Iran. Operasi militer gabungan ini dinamakan oleh Washington sebagai “Operation Epic Fury” (Operasi Kemarahan Yang Epik), sementara Israel menyebutnya “Operation Roaring Lion” (Operasi Singa Mengaum).

Pemicu langsung serangan ini disebut-sebut berkaitan dengan gagalnya negosiasi nuklir di Jenewa antara Amerika Serikat dan Iran. Hingga 26 Februari 2026, mediator internasional masih melaporkan adanya ruang kompromi, termasuk kesediaan Iran mengurangi stok uranium yang diperkaya.

Namun, pemerintahan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump menuntut syarat yang lebih luas. Tuntutan itu mencakup pembongkaran permanen fasilitas Fordow dan Natanz, penghentian total program rudal balistik, serta penghentian dukungan kepada kelompok proksi regional seperti Hezbollah dan Hamas. Teheran menolak syarat tersebut dengan alasan pelanggaran kedaulatan nasional.

Buntunya perundingan nuklir itulah yang disebut-sebut menjadi pemicu serangan AS-Israel terhadap Iran. Serangan udara ini menghancurkan sejumlah bangunan di Teheran dan menewaskan warga sipil, termasuk ratusan anak-anak sekolah dasar. Dalam serangan tersebut, pimpinan spiritual tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei turut tewas.

Serangan brutal secara besar-besaran juga dilancarkan oleh Israel ke Beirut, Lebanon. Zionis Yahudi juga menggunakan bom fosfor putih yang terlarang. Hampir 400 penduduk, termasuk anak-anak, tewas. Seribu lebih warga lain menjadi korban.

Tujuan Serangan AS-Israel ke Iran

Serangan AS bersama Zionis Israel tersebut mempunyai sejumlah tujuan, antara lain;

• Pertama, AS ingin mengokohkan hegemoni mereka di kawasan Timur Tengah, terutama dalam upayanya melindungi anak tiri mereka, Zionis Israel. Israel berkali-kali mengecam Iran karena merasa terusik dengan pengembangan teknologi nuklirnya. Mereka menuduh Iran akan mengembangkan persenjataan nuklir. AS pun merasa perlu mengeliminasi kekuatan negara atau pihak mana saja yang menjadi ancaman bagi sekutu terkuat mereka di Teluk, yakni Israel.

• Ke dua, AS ingin menegaskan dominasi kepemilikan persenjataan nuklir di dunia. Itulah sebabnya negeri ini gencar mengkampanyekan pembatasan senjata nuklir. Alasannya, demi menjaga keseimbangan dan perdamaian dunia. Padahal tujuan AS sebenarnya adalah ingin menghilangkan ancaman nuklir dari negara-negara lain. Hanya AS dan sekutunya yang diizinkan memiliki persenjataan nuklir, termasuk Israel.

Sampai tahun 2025 jumlah rudal nuklir dan pangkalan nuklir milik Amerika Serikat di seluruh dunia sekitar 3.700 unit. Dari total 12.241 hulu ledak nuklir global, sekitar 9.614 unit merupakan hulu ledak yang aktif dan siap digunakan. Zionis Israel sendiri diperkirakan memiliki sekitar 90 hulu ledak nuklir dan persediaan plutonium sebanyak 980 kg, yang cukup untuk membuat 170 hingga 278 senjata nuklir.

• Ke tiga, Operasi militer ini juga sebagai tekanan AS terhadap Iran agar tetap berada di dalam orbit politik AS dan menjadi agennya. Iran sendiri, meski di permukaan kerap menunjukkan sikap berseberangan dengan AS, sebenarnya selama bertahun-tahun sudah menjadi bagian dari satelit politik Amerika Serikat di Timur Tengah. Rezim Teheran berkali-kali telah terbukti melayani berbagai agenda politik dan operasi militer AS di kawasan tersebut.

Karena itu sesungguhnya penguasa Iran, bersama AS, sebenarnya adalah rezim yang tangannya masih berlumuran darah kaum Muslimin di Timur Tengah, karena Iran sebenarnya adalah pelayan kepentingan AS di berbagai negeri muslim, seperti di Irak, Afganistan, Suriah, dll. Hubungan AS dan Iran ini merupakan hubungan yang saling menguntungkan. Di satu sisi AS membutuhkan Iran untuk menjaga konfigurasi politik di Timur Tengah. Sebaliknya, di sisi lain Iran mendapat keuntungan dengan mengamankan kepentingan nasionalnya di Teluk.

Karena itulah, sesungguhnya alasan ancaman nuklir dari Iran adalah alasan yang mengada-ada untuk serangan AS-Israel ini. Sebabnya, pada tahun 2015 Presiden Obama telah mengikat perjanjian dengan partisipasi negara-negara Eropa untuk mengizinkan Iran melakukan pengayaan (pemurnian) nuklir hingga batas pengayaan 3,67%.

Jadi, serangan ini ini dilakukan sesungguhnya tidak terkait langsung dengan ancaman nuklir Iran, melainkan lebih karena AS telah membaca bahwa rezim Iran berusaha keluar dari orbit politik AS, ingin lepas dari kontrol AS, maka AS pun kemudian melakukan tekanan dan melancarkan operasi militer agar Iran tetap berada dalam posisinya sebagai negara di bawah orbit politik AS, agar Iran dapat kembali melayani kepentingan-kepentingan politik AS di kawasan Timur Tengah.

Pelajaran Penting dari Serangan Ini

Serangan AS dan Israel ini sudah seharusnya membuka mata kaum Muslimin betapa rapuhnya kita umat Islam di seluruh dunia hari ini. Tak ada satu pun kekuatan politik yang melindungi umat dan negeri muslim dari kejahatan negara-negara Barat yang kafir. Satu-persatu negeri muslim dihancurkan tanpa ada perlawanan dan perlindungan yang berarti. Kaum Muslimin sungguh telah kehilangan sosok pelindung dan pemersatu umat ini, yaitu seorang Imam (Khalifah) dengan negara Khilafahnya. Rasulullah SAW telah bersabda:

إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

“Seorang Imam (Khalifah) itu ibarat perisai, orang-orang berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya.” (HR Muslim, no. 3428)

Sebaliknya kondisi kekinian yang menyedihkan ini, sebenarnya sudah pernah diperingatkan oleh Rasulullah SAW kepada kita umat Islam, dengan sabdanya:

يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا. فَقَالَ قَائِلٌ: وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ، وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ، وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ. فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُولَ اللَّه،ِ وَمَا الْوَهْنُ؟ قَالَ: حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ.

“Akan segera terjadi bangsa-bangsa (kafir) saling mengajak untuk memerangi kalian, sebagaimana orang-orang yang akan makan saling mengajak menuju piring hidangan mereka.”

Seorang shahabat bertanya, “Apakah itu disebabkan dari sedikitnya kita pada hari itu?”

Rasulullah SAW menjawab, “Tidak. Bahkan pada hari itu kalian banyak jumlahnya, tetapi kalian seperti buih di lautan. Allah telah benar-benar mencabut rasa gentar dari dada musuh terhadap kalian. Allah juga telah benar-benar menimpakan wahn (kelemahan) di dalam hati kalian.”

Seorang shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah wahn itu?”

Rasulullah SAW menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR Abu Dawud)

Hari ini jumlah umat Muslim lebih dari dua miliar jiwa. Akan tetapi, Rasulullah SAW telah menggambarkan bahwa kita ini seperti buih di lautan. Maksudnya, jumlah banyak, tetapi lemah. Di antara penyebabnya, beliau sebutkan, karena umat dibelit penyakit al-wahn: cinta dunia dan takut mati.

Penyakit ini terutama berjangkit di kalangan para penguasa negeri-negeri Muslim. Mereka menjadi pengecut di hadapan kaum kafir imperialis karena takut kehilangan jabatan, kekuasaan, dan kekayaan. Mereka malah memilih bersekutu dengan Israel dan menjadi antek-antek asing utamanya AS serta kafir penjajah lainnya. Penguasa kita sering menuduh orang yang kritis kepadanya sebagai antek asing, padahal dia sendirilah yang telah nyata-nyata terbukti menjadi antek asing itu. Padahal Allah SWT telah menegaskan keharaman perbuatan hina ini, yaitu bersekutu atau berloyalitas kepada kaum kafir, sesuai firman-Nya:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَتَّخِذُوا۟ بِطَانَةً مِّن دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan orang-orang di luar kalangan kalian (kaum kafir) sebagai teman kepercayaan kalian, karena mereka tidak henti-hentinya menimbulkan kemadaratan bagi kalian.” (QS Ali Imran [3]: 118)

Serangan ini juga seharusnya menjadi alarm keras bahwa Board of Peace yang disusun Donald Trump hanyalah omong-kosong dan batil. Tak ada perdamaian, kecuali sesuai dengan selera kaum kafir penjajah. Siapa pun yang akalnya masih sehat akan paham, bahwa yang dijamin keamanan dan perdamaiannya adalah Israel dan kepentingan AS, bukan Palestina atau negeri Islam lainnya. Hanya mereka yang telah membatu hatinya yang ngotot bertahan di BoP dan mau berkali-kali ditipu oleh AS dan Zionis Yahudi yang kafir. Padahal Nabi SAW bersabda:

لاَ يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ

“Jangan sampai seorang mukmin dipatuk ular dua kali dari lubang yang sama.” (HR Al-Bukhari)

Pentingnya Persatuan Umat dalam Negara Khilafah

Umat Islam tidak boleh mengharapkan solusi kepada siapa pun di luar Islam. Tidak boleh berharap pada PBB ataupun BoP. Yang dapat diharapkan untuk dapat melindungi umat ini tiada lain adalah persatuan umat muslim sedunia di bawah kepemimpinan Khilafah.

Ini adalah kewajiban syar’i bagi kita semua untuk mewujudkannya. Kaum Muslim di seluruh dunia wajib hukumnya bersatu dan saling melindungi dan mengokohkan satu sama lain. Nabi SAW telah bersabda:

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Orang mukmin yang satu dengan mukmin yang lain itu bagaikan satu bangunan, satu dengan yang lainnya saling mengokohkan.” (HR Muslim, no. 4684)

Nabi SAW telah bersabda pula:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi itu bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan ikut merasa panas/demam (turut merasakan sakitnya).” (HR Muslim, no. 4685)

Nabi SAW telah berpesan:

الْمُسْلِمُ أَخُوالْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ، وَلاَ يُسْلِمُهُ. وَمَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيهِ، كَانَ اللهُ فِى حَاجَتِهِ. وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً، فَرَّجَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ اْلقِيَامَةِ. وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا، سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Dia tidak menzalimi dan tidak membiarkan saudaranya (dianiaya orang lain). Siapa saja yang memenuhi hajat saudaranya, Allah akan memenuhi hajatnya. Siapa saja yang melapangkan kesusahan seorang Muslim, Allah akan melapangkan kesukarannya pada Hari Kiamat. Siapa saja yang menutupi aib seorang Muslim, Allah akan menutupi aibnya pada Hari Kiamat.” (HR Muttafaq ‘alaih)

Akan tetapi, dapatkah persatuan umat Islam ini terwujud dengan mempertahankan kondisi umat Islam yang terpecah belah menjadi sekitar 57 negara-bangsa (nation-state) yang teramat lemah seperti yang ada saat ini?

Jawabannya, jelas tidak. Konsep dan praktik negara-bangsa (nation-state) seperti saat ini, sungguh telah gagal dan mustahil untuk dapat mempersatukan umat Islam di seluruh dunia.

Maka konsep negara-bangsa ini wajib hukumnya ditolak oleh umat Islam, karena di samping konsep ini adalah konsep kufur dari negara kafir penjajah, konsep negara-bangsa juga sungguh telah terbukti menimpakan berbagai madharat (bahaya) yang dahsyat bagi umat Islam. Padahal Islam jelas tidak membolehkan terjadinya berbagai madharat bagi umat ini, sesuai sabda Rasulullah SAW:

لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ

”Tidak boleh menimbulkan dharar (bahaya bagi diri sendiri) dan juga menimbulkan dhirar (bahaya bagi orang lain).” (HR Ibnu Majah (2341), Ahmad dalam Al-Musnad (1/313), Abu Ya’la dalam Al-Musnad (4/397), dan Al-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, 11086).

Maka dari itu, kalimat jelas dan tegas yang tak ragu untuk kami gemakan, secara terus menerus tanpa mengenal lelah, siang dan malam, bahwa persatuan umat Islam ini tidak mungkin terwujud tanpa tegaknya Khilafah Islamiyah. Hanya institusi Khilafah yang dapat menyatukan seluruh umat Islam dan wilayah Islam di seluruh penjuru dunia.

Khilafah itu juga yang akan sanggup melindungi seluruh negeri Muslim, seluruh tumpah darah mereka, beserta seluruh sumber daya alam mereka yang kaya, dari kejahatan kaum kafir penjajah beserta antek-anteknya para penguasa yang jahat yang selalu hendak merampok dan menghisap kekayaan umat Islam yang melimpah ruah, seperti minyak, gas, emas, batubara, dan sebagainya.

Persatuan umat muslim di bawah kepemimpinan Khilafah ini, jika terwujud sungguh akan menciptakan kekuatan besar yang dahsyat yang akan dapat menandingi bahkan melampaui negara-negara kafir penjajah yang besar, seperti Amerika Serikat. Umat akan memiliki kekuatan militer raksasa serta pengaruh geopolitik yang luar biasa. Letak negeri Muslim yang strategis secara geopolitik seperti Selat Hormuz, Terusan Suez dan Selat Malaka dapat dimainkan untuk menekan dunia agar tunduk kepada umat ini.

Persatuan umat Islam di bawah Khilafah inilah yang seharusnya menjadi harapan satu-satunya bagi kaum Muslimin di seluruh dunia, agar umat dapat hidup mulia dan kuat (al-‘izzah), serta kembali menjadi umat terbaik (khairu ummah) di tengah-tengah manusia.

Firman Allah SWT:

وَلِلّٰهِ الۡعِزَّةُ وَلِرَسُوۡلِهٖ وَلِلۡمُؤۡمِنِيۡنَ وَلٰـكِنَّ الۡمُنٰفِقِيۡنَ لَا يَعۡلَمُوۡنَ‏

“Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tidak mengetahui.” (QS Al-Munafiqun [63]: 8)

Firman Allah SWT :

كُنۡتُمۡ خَيۡرَ اُمَّةٍ اُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ الۡمُنۡكَرِ وَتُؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰهِ

“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan kamu beriman kepada Allah.” (QS Ali ‘Imran [3]: 110)

Penutup

Wahai kaum Muslimin! Apakah belum jelas solusi atas keadaan kita sekarang ini? Apakah belum jelas bahwa kita umat Islam di seluruh dunia wajib bersatu dalam ukhuwah Islamiyah di bawah panji kepemimpinan Islam global (Khilafah)?

Sungguh, hari ini tidak ada satu pun solusi yang masuk akal dan sesuai dengan hukum Islam untuk menyelesaikan serangan demi serangan negara-negara kafir penjajah terhadap kaum Muslimin, kecuali persatuan umat Islam di seluruh dunia di bawah kepemimpinan Khilafah global. Lalu mengapa kita masih tidak mau bergerak untuk menyatukan diri dan bersegera menegakkan kembali Khilafah Islamiyah? Mari kita bersegera mewujudkan tuntutan syariah Islam yang agung ini, walau pun orang-orang kafir dan musyrik membencinya.

Firman Allah SWT:

وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ

“Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Ali ‘Imran [3] : 133)

Firman Allah SWT:

سَابِقُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ ٱللَّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَآءُ ۚ وَٱللَّهُ ذُو ٱلْفَضْلِ ٱلْعَظِيمِ

“Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS Al-Hadid [57]: 21)

Firman Allah SWT:

يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir membencinya.” (QS Al-Taubah [9] : 32)

Firman Allah SWT:

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

“Dialah (Allah) yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur`an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin membencinya” (QS At-Taubah [9] : 33).

Wallāhu a’lam. []

Sumber: KH M Shiddiq Al-Jawi, M.SI

About Author

Categories