
Allah Membuka Peluang Emas bagi Para Penguasa dan Tentara Kaum Muslimin
MUSTANIR.net – Amerika dan Yahudi Sedang dalam Keadaan Lemah dan Terjepit
Agresi oleh poros kejahatan, Amerika Serikat (AS) dan anak didiknya, entitas Yahudi, terhadap Iran sekali lagi membuktikan bahwa hukum internasional, lembaga internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau Mahkamah Internasional (ICJ), maupun forum internasional lainnya, tidak dapat dipercaya untuk menjamin keamanan wilayah kaum Muslimin, karena semua itu hanya dijadikan alat oleh AS untuk menghancurkan Islam dan umatnya.
Agresi terhadap Iran ini juga membuktikan bahwa AS dan sekutu Baratnya tidak akan pernah mentoleransi kekuatan militer negara mana pun dari kaum Muslimin, tidak peduli sejauh mana negara tersebut bekerja sama dengan AS. Selain itu, terbukti pula bahwa AS dan sekutunya tidak pernah peduli terhadap perbedaan mazhab kaum Muslimin ketika mereka ingin menyerang, padahal merekalah yang selama ini memecah-belah umat berdasarkan mazhab agar tidak bersatu.
Kebencian mereka terhadap Islam dan umatnya tampak jelas dalam ucapan mereka, sebagaimana disebutkan oleh Allah dalam Al-Qur’an. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth baru-baru ini mengatakan, “Rezim gila seperti Iran, yang terobsesi dengan khayalan kenabian Islam, tidak boleh memiliki senjata nuklir.” Sementara Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio pada 3 Maret 2026 mengatakan, “Rezim teroris, radikal dan dipimpin ulama ini sama sekali tidak boleh diizinkan memiliki senjata nuklir.”
Meskipun rezim Iran selama 26 tahun terakhir telah mendukung dan membantu pencapaian tujuan kebijakan luar negeri AS di Afghanistan, Irak, Yaman dan Suriah, namun ketika kepentingan AS menuntut pengurangan kekuatan militer Iran di Timur Tengah, AS tidak memedulikan “jasa” tersebut. AS tetap melancarkan serangan tanpa mempertimbangkan kontribusi yang telah diberikan Iran.
Hal ini seharusnya menjadi pelajaran bagi para penguasa Muslim. Namun sayangnya, mereka tidak pernah mengambil pelajaran, meskipun melihat rekan-rekan mereka dijatuhkan secara hina oleh AS setelah bertahun-tahun melayaninya. AS tidak pernah peduli, dan selalu mengutamakan kepentingannya sendiri. Bahkan terbukti bahwa AS siap menyingkirkan “sekutunya” sendiri jika diperlukan.
Jika AS, entitas Yahudi, dan sekutu Baratnya tidak dapat mentoleransi potensi kekuatan nuklir dan militer Iran, maka para penguasa Muslim harus sadar bahwa AS juga tidak akan mentoleransi kekuatan militer Pakistan, Turki, Mesir, dan lainnya. Jika mereka menunjukkan sedikit keberanian untuk keluar dari kebijakan AS, maka nasib mereka akan sama seperti Iran atau para pendahulunya.
Yang pasti, serangan AS terhadap Iran ini juga menunjukkan kelemahan AS yang selama ini dianggap kuat. AS kini berada dalam “kesulitan” akibat kesalahan perhitungannya. AS mengira dapat menjatuhkan Iran dengan cepat, namun ternyata gagal. Perang ini justru menambah daftar kegagalan AS setelah sebelumnya mengalami kegagalan di Afghanistan dan Irak.
AS dan entitas Yahudi juga belum pernah menang di Gaza, meskipun lebih dari dua tahun terus-menerus membombardir wilayah tersebut. Hingga kini, mereka belum mencapai tujuan mereka, walaupun menghadapi wilayah yang lemah dan minim persenjataan.
Oleh karena itu, situasi global dan regional saat ini merupakan peluang besar bagi negara-negara Muslim, khususnya yang memiliki kekuatan militer seperti Pakistan, Turki, Mesir, Afghanistan, dan lainnya, untuk melepaskan diri dari AS, bahkan bukan sekadar melepaskan diri, tetapi membantu Iran untuk memberikan pukulan telak terhadap AS. Inilah saatnya mengakhiri hegemoni AS di kawasan tersebut dan dunia secara umum, dengan menggerakkan kekuatan militer, bukan hanya sekadar dukungan moral.
Terlihat bahwa AS kini semakin terisolasi di tingkat internasional. Kesombongan dan agresinya membuat sekutu Baratnya membiarkannya menghadapi konflik ini sendirian, termasuk dalam upaya menguasai Selat Hormuz.
Rusia dan China juga tengah menantang dominasi AS di Eurasia. Sementara itu, rezim Arab di kawasan mulai goyah dan merasa tidak aman dengan perlindungan AS, karena pangkalan-pangkalan AS di wilayah mereka dapat diserang dengan mudah tanpa mampu dicegah.
Jika negara-negara Muslim bersatu, terutama Pakistan yang memiliki senjata nuklir dan membantu Iran melawan AS dan entitas Yahudi, maka AS dapat dikalahkan dan diusir dari kawasan tersebut dan entitas Yahudi dapat dihancurkan dalam waktu singkat.
Saat ini, AS berada dalam posisi terjepit akibat kesalahan dan kesombongannya dan mencoba mencari perdamaian dengan Iran. Situasi ini mirip dengan kondisi kaum Quraisy ketika mereka melanggar Perjanjian Hudaibiyah. Saat itu, keadaan memaksa Abu Sufyan datang ke Madinah untuk memperbarui perjanjian demi menghindari perang.
Namun kesempatan itu dimanfaatkan oleh Muhammad Shalallahu alaihi wasallam dengan kebijaksanaan politik. Beliau tidak memenuhi permintaan tersebut, melainkan mempersiapkan pasukan menuju Makkah. Pada 20 Ramadhan tahun ke-8 Hijriyah, terjadilah (Fathu Makkah), di mana Makkah berhasil dibebaskan dalam kondisi kaum Quraisy yang lemah akibat kesalahan mereka sendiri.
Demikian pula kondisi saat ini, di mana peluang besar terbuka bagi para penguasa Muslim jika mereka memiliki iman, keikhlasan, dan kebijaksanaan. Jika dimanfaatkan, dengan izin Allah, mereka dapat mengalahkan AS, membebaskan Timur Tengah bahkan dunia dari hegemoninya serta membebaskan Masjid Al-Aqsa dan seluruh Palestina.
Kepada para tentara yang ikhlas, inilah saatnya untuk memberikan pertolongan (nusrah) kepada Hizbut Tahrir jika para penguasa tetap tunduk kepada AS. Jika para penguasa memilih kehinaan, maka tinggalkan mereka dan berikan nusrah kepada Hizbut Tahrir untuk menegakkan Khilafah, lalu bergerak menuju jihad demi meraih salah satu dari dua kemuliaan, kemenangan atau kesyahidan.
Inilah saatnya… inilah saatnya… inilah saatnya wahai tentara kaum Muslimin!
Wallahu a’lam. []
Sumber: Ustadz Abdul Hakim Othman, Juru Bicara Hizbut Tahrir Malaysia
