Pengungsi Rohingya: Muslim Arakan Rayakan Idul Fitri Secara Diam-diam

muslim-rohingya

Pengungsi Rohingya: Muslim Arakan Rayakan Idul Fitri Secara Diam-diam

Mustanir.com – Di kamp-kamp pengungsian di Aceh, warga Rohingya dapat dengan bebas menjalankan ibadah puasa Ramadhan seperti kaum Muslimin pada umumnya.

Lalu bagaimana aktivitas warga Rohingya di kampung halamannya, Arakan, Myanmar saat bulan Ramadhan tiba?

Kiblat.net berkesempatan berbincang dengan Usman, salah seorang pengungsi Rohingya di kamp pengungsian Bireun Bayeun, Aceh Timur pada Jumat sore (03/07).

Menurut Usman, suasana Ramadhan di Arakan, Myanmar diisi juga oleh warga Rohingya dengan berpuasa dan menjalankan ibadah lainnya seperti sholat di masjid.

“Kita ruzah (puasa), histeri (buka puasa), dan sholat. Biasanya dilakukan di masjid,” katanya yang berbicara sedikit-sedikit dengan bahasa Inggris dan Indonesia.

Namun, lanjut Usman, suasananya sedikit lebih sulit untuk melakukan aktivitas di masjid.

“Kita buka puasa dan sholat di masjid, kalau polisi datang kita pergi, kalau polisi sudah pergi kita kembali ke masjid,” tuturnya.

Usman, salah seorang pengungsi Rohingya di Aceh Timur.

Aktivitas puasa Ramadhan di Arakan, diaminkan oleh pengungsi lainnya, Ali. Menurutnya, kaum muslimin di Arakan juga berpuasa seperti kaum Muslimin di Indonesia.

“Di sana Rohingya berpuasa, tapi banyak juga orang Rohingya yang malas berpuasa,” ungkap pria yang lancar berbahasa melayu ini.

Ali menjelaskan biasanya warga Rohingya berbuka puasa dengan makanan khas sana, terbuat dari kacang merah dan bahan-bahan khas Arakan.

“Kacang merah direbus dicampur semacam padi berbentuk bulat, di sini tidak ada contohnya. Kita buka puasa dengan itu aja,” katanya.

Ali juga menegaskan, Ramadhan di Arakan tidak sebebas di Indonesia. Tidak jarang pemerintah Myanmar melarang ibadah puasa.

“Kadang cuma di satu kampung boleh puasa, lalu di kampung-kampung lainnya tidak boleh,” terangnya.

Begitu pula saat hari Raya Idul Fitri tiba, di Arakan tidak sebebas di negeri-negeri Muslim lainnya. Kalau ketahuan polisi, penyelenggaran shalat bisa dibubarkan dan ditangkap.

“Kita shalat kalau tidak ada Polisi, kalau ada Polisi kita menghindar. Kita rayakan Idul Fitri diam-diam,” paparnya.

Menanggapi kabar Myanmar perbolehkan puasa Ramadhan di Yangoon, ibukota Myanmar, Ali menilai dirinya tidak terlalu tahu kondisi di sana. Tapi, dia merasa tidak aneh dengan kabar tersebut, sebab pemerintah junta Myanmar kadang membolehkan puasa.

“Suka-suka mereka saja, kadang di sini boleh di tempat lain tidak boleh,” cetusnya.

Adapun Usman, mengaku juga tidak mengetahui kondisi di Yangoon karena jarak yang jauh dari Arakan. Akan tetapi, menurutnya dahulu populasi Muslim di Yangoon cukup banyak. Sementara, saat ini semakin menyusut.

Saat ini, pengungsi Muslim Rohingya sedikit bisa bernapas lega. Pasalnya, di Indonesia mereka bisa menjalankan ibadah puasa dengan bebas dan tenang. Harapannya, mereka juga dapat merayakan Idul Fitri dengan khusyuk dan meriah meski hanya di pengungsian. (kiblatnet/adj)

Ditulis oleh Bilal Muhammad dari kamp pengungsi Bireun Bayeun, Aceh Timur

Categories