Teosofi, Soekarno, dan Pancasila

MUSTANIR.net – Teosofi memiliki peran penting bagi kebangkitan gerakan nasionalisme di Indonesia. Beberapa organisasi yang erat kaitannya dengan Teosofi di antaranya adalah Budi Oetomo, Indische Partij, dan Jong Java. Sedangkan Soekarno, sebagai salah satu pencetus Pancasila, memiliki hubungan cukup dekat dengan tokoh-tokoh Teosofi. Kedekatan Soekarno dengan tokoh-tokoh Teosofi tersebut memunculkan klaim bahwa Pancasila diambil dari nilai-nilai Teosofi yang dianggap sebagai kepanjangan tangan Zionisme Yahudi.

Teosofi atau Theosophical Society (TS) merupakan gerakan okultisme atau kebatinan yang didirikan pertama kali oleh Helena Petrovna Blavatsky di New York pada 1875. Pada 1879, TS dipindahkan ke Adyar, Madras, India. Perpindahan dari New York ke India didasari sebuah pandangan bahwa nilai-nilai gerakan TS lebih condong atau dekat dengan ajaran kebatinan dunia Timur, khususnya ajaran-ajaran Hindu-Budha di India. Konsep utama yang diusung gerakan Teosofi adalah ‘persaudaraan universal’. Melalui konsep tersebut, kaum Teosofis hendak menciptakan komunitas masyarakat baru yang berdiri di atas semua perbedaan ras, agama, bahasa, dan budaya.

Sedangkan di Indonesia, Teosofi mulai masuk dan berkembang pesat pada akhir abad ke 19 sampai awal abad ke 20. Proses penyebaran ajaran-ajaran Teosofi oleh masyarakat kolonial Eropa, yang sebagian besar merupakan kaum asosianis, dapat dikatakan relatif mudah dan tidak mengalami tantangan yang berarti. Hal demikian cukup masuk akal mengingat kebudayaan Indonesia saat itu masih cukup kental dengan nilai-nilai Hindu-Budha sebagaimana di India. Dalam kondisi kebudayaan demikian, maka cukup masuk akal bila Teosofi –gerakan kebatinan yang juga lebih condong pada nilai-nilai kebatinan Hindu-Budha– dengan cepat dapat diterima dan diserap oleh masyarakat Indonesia. Bahkan, propaganda kebudayaan yang dilakukan Teosofi mampu menarik perhatian kaum pribumi, khususnya kaum elite Indonesia. Pada era selanjutnya, dari kalangan inilah kelakbermunculan gerakan, organisasi, dan tokoh-tokoh kunci yang berperan besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Meskipun secara formal Soekarno tidak pernah tercatat dalam keanggotaan Teosofi, tetapi kegiatan-kegiatan kultural dan fasilitas-fasilitas keilmuan milik Teosofi telah menjadi salah satu sumber pengetahuan bagi pemupukan intelektualitas Soekarno. Berangkat dari keterlibatan ayahnya dalam keanggotaan Teosofi, Soekarno dapat menikmati tumpah-ruah pengetahuan dalam perpustakaan Teosofi di Surabaya. Pada era selanjutnya, Soekarno pun senantiasa menjalin hubungan yang cukup dekat, bahkan berguru, dengan tokoh-tokoh yang pernah terlibat dalam Teosofi seperti Tjipto Mangoenkoesoemo, Ernest Douwes Dekker, Radjiman Wedyodiningrat, dan lain sebagainya.

Ketika di Surabaya, Soekarno menjadikan Teosofi sebagai salah satu media yang cukup menunjang bagi perkembangan pemikiran Soekarno. Melalui perpustakaan milik Teosofi, Soekarno dipertemukan dengan pemikiran-pemikiran tokoh besar yang cukup berpengaruh bagi perkembangan pemikirannya.

Ketika pindah ke Bandung, di mana kondisi politik nasional mulai mengambil peran yang cukup dominan, Soekarno menjadikan Teosofi sebagai salah satu jalan dalam perjuangan politiknya. Hal demikian cukup nampak ketika pada periode ini Soekarno lebih dekat dengan sosok Tjipto, tokoh Teosofi radikal, ketimbang dengan tokoh-tokoh Teosofi halus seperti Radjiman.

Pada masa pendudukan Jepang hingga awalkemerdekaan, hubungan Soekarno dengan tokoh Teosofi berbanding terbalik dengan sebelumnya. Jika sebelumnya Soekarno lebih dekat dengan tokoh-tokoh Teosofi radikal tetapi pada periode ini Soekarno mulai dekat dan bekerjasama dengan tokoh-tokoh Teosofi kooperatif seperti halnya Radjiman. Bersama Radjiman dan Hatta, Soekarno begitu intens melakukan konsolidasi politik dengan pemerintahan Jepang demi tercapainya cita-cita kemerdekaan negara Republik Indonesia. 

Berdasarkan fakta kedekatan Soekarno dengan ajaran Teosofi, banyak tokoh menilai bahwa Teosofi –yang dianggap mengemban misi rahasia Zionisme Yahudi– memiliki pengaruh begitu besar terhadap pemikiran Soekarno. Bahkan ada yang menyebutkan bahwa 5 asas Pancasila milik Soekarno diadopsi dari qanun asasi milik Zionisme.

Abdullah Pattani, dalam sebuah risalah berjudul Freemasonry di Asia Tenggara, menyatakan bahwa ideologi Soekarno yang terinspirasi dari Sun Yat Sen berasal dari dokrin Zionisme Yahudi. Kesimpulan tersebut diperoleh Abdullah Pattani melalui analisis-komparatifnya tentang ‘keserupaan’ Pancasila dengan ide-ide nasionalisme Sun Yat Sen, Jawaharlal Nehru, dan Mustafa Kemal Atatürk yang dianggap berasal dari doktrin Zionisme.

Cukup banyak elemen-elemen lain di sekitar Soekarno, selain Teosofi, yang juga memiliki nilai-nilai yang sama dengan nilai-nilai perjuangan Teosofi seperti halnya nilai-nilai mistisisme Jawa, ide-ide kemanusiaan dari tarekat Freemasonry, dan lain sebagainya. []

Sumber: Ahmad Faidi, Dosen SPI Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora IAIN Salatiga

Categories