Bahaya Membatasi Perjuangan Islam pada Aktivitas Sosial

MUSTANIR.netPendahuluan

Kebangkitan kaum Muslimin bukanlah perkara parsial atau sekadar perbaikan pada aspek-aspek tertentu dalam kehidupan. Ia merupakan perubahan mendasar dan menyeluruh yang mengantarkan umat Islam kembali hidup di bawah penerapan hukum Islam secara sempurna. Oleh karena itu, upaya untuk mewujudkan kebangkitan tersebut menuntut aktivitas yang tepat, terarah, dan sesuai dengan tujuan syariat.

Aktivitas Jamaah dan Kebangkitan Umat

Setiap jamaah yang tidak melakukan aktivitas politik sejatinya tidak memiliki keterkaitan dengan kebangkitan kaum Muslimin. Bahkan, jamaah semacam ini tidak mungkin mampu mewujudkan tujuan besar yang menjadi kewajiban umat Islam, yaitu menegakkan hukum Islam secara kaffah dalam naungan negara khilafah.

Hal ini karena kebangkitan umat Islam tidak akan terwujud hanya dengan perbaikan individu atau kegiatan parsial semata, melainkan dengan penerapan seluruh hukum Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Tanpa aktivitas politik Islam, tujuan ini tidak akan pernah tercapai.

Berjamaah dan Berpolitik: Jalan Perubahan Umat

Aktivitas untuk mengembalikan kehidupan Islam yang sesungguhnya membuahkan hasil tidak bisa hanya dilakukan secara individual. Betapa pun cerdas akalnya, luas pemikirannya, dan mendalam wawasannya, seorang diri tidak akan mampu merealisasikan tujuan besar itu secara menyeluruh.

Karena itu, upaya ini harus dilakukan secara berjamaah. Jamaah menjadi fondasi penting bagi kaum Muslimin untuk bergerak bersama—terarah dan berkelanjutan—dalam mengembangkan penerapan Islam di setiap aspek kehidupan.

Tak cukup hanya berjamaah, aktivitas ini juga perlu memiliki dimensi politik. Jamaah yang tidak menyentuh ranah politik akan kesulitan mengurus segala persoalan umat dengan tuntas. Yang dimaksud dengan politik di sini bukanlah politik yang sebatas kepentingan sempit atau pragmatis semata, melainkan seperti definisi para fuqaha: aktivitas mengurus seluruh urusan umat berdasarkan syariat Islam.

Jadi, untuk mewujudkan kembalinya kehidupan Islam secara nyata dan berkelanjutan, upayanya haruslah berjamaah dan bersifat politik.

Aktivitas Sosial dan Batasannya

Di antara jamaah-jamaah yang tidak beraktivitas politik adalah jamaah yang membatasi kegiatannya pada aktivitas sosial semata, seperti membangun masjid, rumah sakit, menyantuni fakir miskin, membantu anak yatim, dan berbagai bentuk kegiatan sosial lainnya. Tidak diragukan bahwa aktivitas-aktivitas tersebut merupakan amal kebaikan yang dianjurkan oleh Islam dan memiliki nilai pahala.

Namun demikian, aktivitas sosial semacam ini tidak memiliki hubungan langsung dengan kebangkitan kaum Muslimin. Sebab, kebangkitan umat bukanlah sekadar terwujudnya kesejahteraan sosial, melainkan terlaksananya seluruh hukum Islam secara menyeluruh dalam kehidupan masyarakat dan negara.

Bahaya Menggeser Kewajiban Utama

Ketika aktivitas sosial dijadikan sebagai fokus utama sebuah jamaah, maka secara tidak langsung hal itu akan memalingkan umat dari kewajiban inti yang telah ditetapkan syariat. Akibatnya, perhatian umat tersedot pada aktivitas-aktivitas cabang, sementara kewajiban pokok untuk menegakkan sistem Islam justru terabaikan.

Inilah bahaya besar yang harus disadari oleh kaum Muslimin. Aktivitas yang tampak baik, jika tidak ditempatkan pada posisi yang benar, justru dapat menghalangi terwujudnya tujuan besar umat.

Penutup

Oleh karena itu, kaum Muslimin harus bersikap waspada terhadap jamaah, partai, atau organisasi Islam yang tidak menjadikan aktivitas politik Islam sebagai poros perjuangannya. Kebangkitan kaum Muslimin hanya akan terwujud ketika umat Islam berjuang secara terorganisir untuk menerapkan seluruh hukum Islam secara sempurna dalam naungan negara khilafah. Selain jalan ini, kebangkitan sejati umat Islam tidak akan pernah terwujud. []

Sumber: Ahmad Zen – Jaringan Ulama Ideologis (JUI)

About Author

Categories