
Al-Mahdi Bukan “Superman”
MUSTANIR.net – Sering kali saya memperhatikan pembicaraan orang-orang yang terus berulang tentang Al-Mahdi sebagai penyelamat umat Islam. Bukan pada sisi mengaitkan perubahan dengannya, melainkan pada gambaran tentang pribadi Al-Mahdi dan kondisi yang melingkupinya.
Banyak kaum Muslim ketika berbicara tentang Al-Mahdi tidak menyebut kedatangannya dalam konteks gerakan umat Islam secara berjama’ah yang kemudian dipimpin oleh seorang bernama Al-Mahdi yang memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi kezaliman. Sebaliknya, mereka membayangkannya sebagai sosok luar biasa yang datang sendirian untuk membalikkan keadaan di negeri-negeri Muslim dan memerangi musuh-musuh Allah seorang diri.
Tidak diragukan lagi, pandangan seperti ini keliru dan sangat dangkal. Hadis-hadis sahih yang menyebutkan tentang Al-Mahdi tidak pernah mengatakan bahwa ia adalah khalifah pertama kaum Muslim secara mutlak.
Intinya menyebutkan bahwa akan ada seorang laki-laki yang namanya sama dengan nama Nabi Muhammad ﷺ, dan nama ayahnya sama dengan nama ayah beliau, yang akan memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi kezaliman dan ketidakadilan. Manusia akan membaiatnya untuk memimpin dan memutuskan perkara di antara mereka.
Namun andaikan saja kita berasumsi bahwa Al-Mahdi adalah khalifah pertama dalam khilafah rasyidah ke dua, apakah ia akan menjadi khalifah atas umat yang tidak memiliki kehendak dan kemandirian untuk mengangkatnya? Jika Al-Mahdi muncul di tengah umat yang tercerai-berai dan rapuh, yang diperintah oleh lebih dari lima puluh pemimpin, apakah umat seperti itu mampu berperang di belakangnya dan bersatu di sekelilingnya? Apakah para penguasa zalim akan menyambutnya, atau justru akan menuduhnya sebagai ekstremis dan teroris?
Al-Mahdi membutuhkan kondisi dan dukungan umat yang siap menopangnya, bukan berdiri sendirian tanpa persiapan dan kekuatan dari umat. Ia membutuhkan umat yang sadar, yang memiliki kendali atas urusan dan wilayahnya sendiri, bukan umat yang dikendalikan para tiran dan penguasa zalim. Dalam kondisi seperti itulah Al-Mahdi—atau siapa pun—dapat maju memimpin mereka dengan Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.
Ini hal yang wajar, karena Al-Mahdi bukanlah manusia dengan kekuatan supranatural. Zaman mukjizat dan hal-hal luar biasa telah berakhir bersama para nabi. Bahkan Nabi kita yang mulia ﷺ pun tidak menang dengan mukjizat, melainkan dengan mengikuti hukum sebab-akibat (sunatullah): beliau berjuang, berperang, dan mengambil sebab-sebab yang ada. Lalu bagaimana dengan orang yang kedudukannya di bawah Nabi?
Karena itu, jika kaum Muslim berprinsip bahwa perubahan terkait dengan Al-Mahdi semata, maka mereka harus menyiapkan suasana untuk menyambutnya, dengan menjatuhkan pemerintahan-pemerintahan yang menjadi kaki tangan penjajah dan menghilangkan pengaruh Barat dari negeri-negeri kita. Sebab Al-Mahdi adalah seorang lelaki di tengah umat, bukan “Superman”. []
Sumber: أحمد سعد
