
Nasionalisme dan Negara Bangsa: Di Sanalah Letak Kehancuran Kita!
MUSTANIR.net – Ketika Gaza dibiarkan sendirian menghadapi mesin pemusnahan, tragedinya bukan hanya bersifat humanitarian, tetapi juga menjadi momen terbukanya kegagalan politik dan moral yang mendalam. Sikap umat tidak naik setara dengan besarnya peristiwa, dan apa yang disebut sebagai “poros perlawanan” pun tidak bergerak dengan langkah yang benar-benar mengubah keseimbangan kekuatan atau menghentikan penghancuran itu.
Pada saat itu menjadi jelas bahwa logika negara-bangsa, ketika tanggung jawab dibatasi hanya dalam garis perbatasan, justru membuka pintu lebar-lebar bagi politik “mengisolasi dan menghantam satu per satu”. Maka Gaza pun diisolasi dan didorong sendirian ke dalam kobaran api.
Lalu skenario serupa terulang di Lebanon; negeri kecil itu diserang, dikuras kekuatannya, dan menerima pukulan berat terhadap elemen-elemen utamanya, sementara perhitungan regional tetap membatasi langkah yang diambil.
Kemudian Suriah; kemampuan militernya dihancurkan secara bertahap, wilayah udaranya dilanggar, tanahnya terbuka untuk serangan, dan keheningan yang sama kembali terulang.
Hari ini, agresi mencapai puncaknya ketika menyentuh Iran sendiri. Sebuah negara besar dengan kedalaman geografis dan kemampuan yang signifikan, namun mendapati bahwa kekuatan yang terisolasi di dalam batas wilayahnya saja tidak cukup untuk menghadapi proyek yang memandang kawasan ini sebagai satu kesatuan strategis.
Di sinilah pelajaran itu kembali ditegaskan: ketika kita menerima fragmentasi dalam kesadaran kita, kita mempermudah pihak lain untuk memperlakukan kita secara terpisah dalam kenyataan. Ketika nasionalisme menjadi doktrin politik yang tertutup, setiap negara menjadi pulau yang menunggu giliran.
Pertanyaan yang muncul hari ini bukan sekadar luapan emosi, melainkan pertanyaan untuk melakukan evaluasi mendasar:
• Bukankah sudah saatnya meninjau ulang secara radikal konsep negara-bangsa yang diwariskan kepada kita yang—menurut pandangan penulis— melahirkan kelemahan dan ketergantungan, serta membuat kita memperlakukan persoalan umat sebagai isu luar negeri?
• Bukankah sudah saatnya kembali kepada rujukan yang lebih tinggi daripada sekadar batas-batas wilayah, menjadikan akidah dan nilai bersama sebagai standar loyalitas dan identitas, bukan peta yang digambar oleh musuh di masa kelemahan?
Pembicaraan tentang persatuan politik yang menyeluruh bukan sekadar slogan emosional, melainkan upaya mencari kerangka yang mengakhiri logika “pecah dan kuasai”, serta mengembalikan makna kekuatan bersama. Kerangka yang menyatukan potensi, menyatukan keputusan, dan mengubah jumlah besar umat ini menjadi bobot strategis yang nyata. Dengan itu, keseimbangan daya tangkal bisa berubah, dan pola “dimakan satu per satu” tidak lagi terulang.
Ini adalah momen evaluasi besar: apakah kita akan tetap terjebak dalam perpecahan hingga dihancurkan satu per satu, atau bangkit menuju gagasan bersama yang menyusun ulang prioritas dan mengubah keyakinan tentang persatuan menjadi kenyataan politik yang nyata dan berjalan sebagaimana mestinya.
• Bukankah sudah saatnya kita meninggalkan nasionalisme yang rendah dan konsep negara-bangsa yang telah mewariskan kehinaan, kelemahan, dan ketergantungan kepada kita?
• Bukankah sudah saatnya kita kembali kepada Allah dengan sungguh-sungguh, menjadikan akidah sebagai standar loyalitas dan identitas, serta menghadirkan kembali negara yang merepresentasikannya?
Sudah saatnya menegakkan kembali Khilafah Rasyidah yang akan mengakhiri perpecahan dan kelemahan, menyatukan barisan, menghidupkan semangat perjuangan, mempersatukan umat dan negeri-negeri mereka, mengakhiri dominasi musuh, serta membebaskan Baitul Maqdis. []
Sumber: الأستاذ منذر عبدالله
