
City of London: Imperium Lama Pengendali Dunia
MUSTANIR.net – Ia bukanlah London yang dikenal publik sebagai ibu kota negara Inggris Raya. Bukan! Lupakan sejenak Istana Buckingham atau Gedung Parlemen. Jika ingin memahami bagaimana tali temali kekuasaan lama dengan kekuasaan modern bekerja, arahkan pandangan ke satu wilayah atau area kecil seluas 2,9 km di jantung London di tepi Sungai Thames, itulah: City of London.
Wilayah ini lebih tua dari negara Inggris modern itu sendiri. Di sini Londinium—nama latin kuno untuk kota London—tempat bangsa Romawi berdiri hampir dua milenium lalu. Batasnya nyaris tak berubah sejak abad pertengahan. Pemerintahannya pun nyaris tidak berbeda, karena punya otoritas sendiri. City of London Corporation dipimpin oleh Lord Mayor of London, jabatan yang umurnya melampaui banyak konstitusi di dunia.
Ia memiliki kepolisian dan tradisi sendiri. Dalam sistem pemilihan, dunia usaha punya suara formal. Sudah tentu, bagi sebagian orang, ini anomali demokrasi. Namun bagi sebagian yang lain, ia warisan sejarah yang bertahan karena struktural fundamental dan struktural fungsional. Dulu, bahkan hingga kini, korporasi berpengaruh terhadap gereja dan negara.
Di Sini, Uang Tak Pernah Tidur
Secara struktural fundamental, City of London (selanjutnya disingkat CoL) adalah pemilik, perancang, dan imperium lama dunia keuangan yang mengintervensi gereja dan pemerintahan. Elit-elit CoL berperan mengatur perbankan dunia, trust fund, perusahaan cangkang utama, dan menentukan esensi ketentuan hukum global. Beroperasinya lewat individu berpengaruh yang berada di institusi strategis. CoL juga menentukan ritme Cayman Island, Jersey, Guernsey, dan British Virgin Island. Sejalan dengan terkuaknya Dokumen Epstein—atmosfer CoL, aktor-aktor elit finansial, aristokrat, atau perantara kekuasaan global tercatat dalam jaringan Epstein.
Delapan puluh tahun lalu, seiring dengan kemenangan AS pada Perang Dunia II, CoL sebagai imperium lama “dipaksa” menyerahkan sebagian kuasa pada imperium baru: “Washington”. Landasannya adalah kesepakatan Bretton Woods I, tahun 1944. Tapi, praktiknya berbagi peranan strategis antara CoL dan Washington terutama ketika bertalian dengan Deklarasi Balfour 1917 dan pendirian Israel di Palestina pada 1948.
Hal ini, karena pemain intinya sama. Oleh sebab itu, melihat CoL dan Washington (dengan sebagian operasionalisasi keuangan di New York), wajib mempertimbangkan keberadaan Tel Aviv. Jika perspektifnya demikian, setuju atau tidak, menerima atau menolak, suka atau tidak suka—kita harus menggali peranan penting keluarga Rothchilds pada Bank of England dan keluarga Rockefeller pada Federal Reserve.
Biasanya, kaum akademisi yang berkiblat Barat serta merta menuding kajian seperti ini sebagai pemikiran konspirasi. Vonis seperti ini sebenarnya dalam rangka menutup sejarah dan realitas kekuasaan financial-military industrial complex di panggung global. Bahkan menutup jejaring NGO internasional (WEF, NED, beberapa yayasan filantropi) ke NGO nasional, termasuk ke tokoh-tokoh media massa, agama, tentara dan polisi.
Juga menutup penilaian tentang individu-individu yang duduk di jabatan strategis pada lembaga multilateral seperti BIS, Bank Dunia, IMF, WTO, WHO, WFP, dan sejenisnya. Itulah struktural fungsionalnya. Jejaring tersebut memastikan bahwa individu yang ditempatkan pada lembaga strategis bergengsi melaksanakan kebijakan strategis imperium lama, imperium baru, dan desain Tel Aviv.
Di sini tergelar. Elit-elit CoL beroperasi dalam lintas AS, UK, Israel, dan Offshore Caribbean. Maka dokumen Epstein mengabarkan bahwa Jeffrey Epstein adalah simpul geopolitik yang menjadi perantara berbagai jaringan, penghubung uang dengan seks dan intelijen. Saat CoL disebut dalam dokumen itu, yang terjadi adalah terbuktinya jaringan kental AS sebagai imperium finansial baru dengan CoL selaku imperium finansial lama. Nah, Epstein berada di titik temu keduanya, yakni uang AS, struktur Inggris, dan intelijen lintas negara.
Jelas, CoL bukan kota biasa. Area itu merupakan salah satu simpul utama sistem keuangan global. Pasar valuta asing London adalah yang terbesar di dunia. Bank investasi, firma hukum internasional, perusahaan asuransi raksasa, dan pengelola dana triliunan dolar berkantor di Square Mile, sebutan lain City of London (CoL).
Penduduk tetap di sana hanya sekitar 10.000 orang. Namun, setiap hari sekitar lima ratusan ribu profesional keluar masuk ke kawasan ini untuk mengelola arus modal global. Keputusan yang diambil di sini dapat berdampak luas pada nilai mata uang di Asia, misalnya, atau harga komoditas di Afrika, ataupun suku bunga di Amerika Latin dan lain-lain. Tidak ada pidato dramatis. Tak ada kampanye terbuka. Tak pula pencitraan. Hanya angka, grafik, dan tanda tangan digital. Inilah bentuk kekuasaan abad ke-21: “senyap, mendikte, teknokratis, dan mengglobal”.
Saking senyapnya, nama Lord Mandelson yang mencuat dalam dokumen Epstein membuat heboh Partai Buruh dan Kabinet Keir Starmer. Mantan Duta Besar Inggris untuk AS itu dicopot karena namanya dianggap merusak citra moralitas Inggris. Apalagi tercium bau penyalahgunaan kewenangan sehingga polisi melakukan penyidikan dan Mandelson pun mundur dari Partai Buruh. PM Inggris Starmer minta maaf atas kasus ini. Tapi, gaya formalitas Inggris ini tidak hadir di pasar modal New York yang kini mulai ikut dikendalikan kecerdasan buatan. Sementara nama Pangeran Andrew justru menjadi pintu penutup agar perhatian publik tidak berlanjut ke Kerajaan Inggris.
“Negara dalam Negara” dan Ruang Abu-Abu
Istilah itu kerap beredar. CoL memang memiliki otonomi administratif kuno dan sistem pemilihan yang memberi ruang bagi korporasi. Ia juga menjadi rumah bagi institusi seperti Bank of England dan pusat pasar keuangan internasional. Tetapi, secara hukum CoL tetap bagian dari Inggris. Tak ada kedaulatan tersembunyi. Tidak ada paspor sendiri. Tak ada tentara bayangan. Yang ada adalah konsentrasi kepentingan ekonomi dalam ruang yang relatif kecil. Lalu, di situlah beragam persepsi kekuasaan, keuangan, agenda dan rencana operasi strategis: lahir dan beredar. Kemapanan sistem berjalan, struktur bekerja sesuai desain, individu berperan, dan tujuan harus tercapai.
Sebagai pusat keuangan global, London—termasuk CoL—tak lepas dari skandal lazimnya seperti manipulasi suku bunga, pelanggaran aturan anti-pencucian uang, hingga denda miliaran dolar terhadap bank internasional. Isu-isu ini tidak unik bagi London. Karena New York dan pusat finansial lain pun mengalami hal serupa. Namun, kompleksitas sistem keuangan global memang menciptakan ruang abu-abu. Struktur perusahaan, lintas yurisdiksi, jaringan offshore, dan instrumen keuangan rumit membuat pengawasan publik tak pernah sederhana.
Lagi-lagi digugat, apakah ini konspirasi? Tak ada bukti terorganisasi seperti itu. Apakah ini sistem yang sulit dipahami dan karenanya mudah dicurigai?
Patung naga yang menandai gerbang City of London (CoL) sering ditafsirkan sebagai simbol kekuasaan tersembunyi. Faktanya, lembaga-lembaga keuangan raksasa memang memiliki pengaruh besar—karena mereka mengelola aset dalam jumlah luar biasa. Dunia keuangan adalah arena persaingan, bukan ruang komando tunggal. Uang memang panas, karena itu harus dikelola dengan tenang, tertata, berkarakter, memperhitungkan waktu, dan mampu membangun fantasi. Maka, kepentingan utama bukan soal uang, tapi “sesuatu” di balik uang.
Lebih dari Konspirasi: Laboratorium Kekuasaan Global
City of London (CoL) bukan pusat pemerintahan bayangan. Ia adalah sesuatu yang nyata—dan mungkin yang lebih penting: “ia adalah laboratorium kekuasaan ekonomi global.” Di sini terbaca bahwa dalam dunia modern pun, kekuatan tidak selalu berbentuk senjata, kursi parlemen atau podium politik.
Kekuasaan tidak harus berdasarkan elektoral. Justru kuatnya kekuasaan itu hadir dalam bentuk arus modal, regulasi pasar, dan jejaring institusi lintas negara. Square Mile—istilah lain CoL—tidak menguasai dunia secara rahasia. Tetapi, dunia memang bergerak mengikuti logika yang diproduksi dari tempat ini. Raja Inggris pun tak berdaulat jika masuk ke area ini. Bukan sebagai penguasa, tetapi sebagai tamu yang mengikuti protokol.
Pertanyaannya, “Siapa di balik area sakral yang hanya seluas 2,9 km ini?”
Knight Templar
Kita mundur sejenak ke masa silam. Sebelum ada nation state (negara bangsa), dunia dikuasai oleh kerajaan. Tapi, di masa itu pun kedaulatan raja tergantung pada masalah finansial. Kenapa? Biaya perang dan armada militer sangat mahal, membangun istana dan menggaji para bangsawan serta pegawai juga mahal, dan pajak rakyat tak pernah cukup.
Lantas, apa solusinya? Utang! Siapa memberi utang? Mereka para bankir dan pedagang yang berkumpul di pusat-pusat perdagangan besar.
Nah, di titik inilah Knight Templar, ksatria Perang Salib masuk. Abad ke-12, Templar membangun markas di London bernama “The Temple” serta mendirikan “Temple Church” pada tahun 1185. Mereka menciptakan semacam surat kredit. Peziarah menitipkan uang di London, lalu menariknya di Yerusalem. Inilah bentuk paling awal dari sistem perbankan lintas wilayah.
Ketika Templar dibubarkan akibat tekanan politik dan finansial dari Raja Philip IV dari Prancis, wilayahnya tidak otomatis hilang. Wilayah itu berubah menjadi Inner Temple dan Middle Temple, itulah pusat profesi hukum Inggris Raya sampai hari ini. Sekilas, apa benang merahnya? Bahwa sistem hukum dan sistem keuangan sesungguhnya dibidani dari rahim yang sama.
Jelas, Knight Templar itu bukan hanya tentara dalam Perang Salib, ia juga arsitek perbankan dan hukum global. Siklus ini membuktikan kekuasaan berproses melahirkan otoritas keuangan, dan daya keuangan mampu memperkokoh, melemahkan, atau bahkan menjatuhkan kekuasaan.
Contoh kasus. Saat peperangan terjadi—dari perang kolonial hingga perang modern—siapa yang membiayai? Sekali lagi, bukan sepenuhnya dibiayai pajak rakyat, karena tak akan cukup—tapi utang ke bank atau ke pemilik modal finansial. Dan negara yang berhutang harus membayarnya dari obligasi, bunga dan konsesi.
Tempo doeloe, raja berutang ke bank, kini negara pun berutang juga ke bank. Dengan demikian, yang berubah hanya penguasa dan bentuk kekuasaannya: “sistemnya sama”. Pertanyaannya bukan apakah itu konspirasi, namun pertanyaan cerdasnya ialah, sistem mana dan siapa yang mengatur hidup kita?
Jawabannya mengarah pada CoL. Ia bukan negara, ataupun institusi—ia adalah sistem. Gilirannya tergambar, bahwa penguasa keuangan, termasuk industri perbankan—pada hakikatnya adalah shadow government.
Contoh lain. Ketika di abad pertengahan kerajaan masih ribut soal takhta dan darah biru, perkumpulan bankir dan pedagang di Guildhall sudah menguasai uang. Mereka memahami bahwa peperangan dan penyebaran armada membutuhkan biaya mahal, dan pajak rakyat tak bakal cukup membiayainya.
Maka terjadilah barter kekuasaan. Raja menarik pinjaman utang, dan CoL dapat hak istimewa hukum yang tidak bisa disentuh oleh kerajaan. Lalu hasilnya apa? Area 2,9 km itu seperti negara di dalam negara di London—dengan polisi sendiri, sistem hukum sendiri, dan sistem politik yang “tidak ada urusan sama sekali dengan elektoral atau demokrasi”.
Demokrasi, HAM dan Standarisasi
Di mata City of London, dunia ini bukan tentang negara, tetapi gambaran dari perusahaan yang pusat syarafnya ada di Area 2,9 km, Square Mile. Demokrasi, HAM, dan standarisasi serta ukuran reputasi diproduksi di sini. Jadi, selain ia merupakan nilai atau sasaran, juga soal branding. Di balik branding itu tersimpan kepentingan: “mendikte dunia dengan atau tanpa senjata”.
Kalau ada negara menolak sistem ini akan ada sanksi, kudeta, perang dan seterusnya. Semua dilakukan atas nama sistem yang mereka bangun—sebagaimana jatuhnya Soekarno, Soeharto, Saddam Husein di Irak, Muammar Gaddafi di Libya, Mohamed Morsi di Mesir, Bashar al Assad di Syria, dan lainnya.
Sejak awal, tempat ini dibangun tidak untuk rakyat, bukan demi keadilan, tak pula untuk (kedaulatan) suara publik, namun untuk uang, uang dan uang. Motif mereka hanya satu: “keuntungan di atas kemanusiaan.” Ketika terjadi krisis ekonomi, inflasi, atau utang negara yang tak pernah lunas, itu bukan kebetulan. Ini efek langsung kolaborasi antara CoL dengan “kaki-kaki”-nya.
Covid-19, misalnya, atau dokumen Epstein, kebijakan Trump, dan krisis regional atau internasional—memang diciptakan. Lagi-lagi, di sini patut dipahami bahwa financial military industrial complex bersama nilai-nilai atau isu yang menyertai di balik uang. Sayang, kita acapkali membahas uang berhenti terbatas pada fungsinya saja.
Dulu, Inggris menaklukkan dunia bukan semata armadanya kuat, namun karena kuat di modal. Ya. Square Mile membiayai ekspansi Inggris menjalankan peperangan. Koloni dijarah, pasar dikuasai. Bagi City of London, perang bukan soal ideologi, tetapi investasi. Kerajaan menduduki wilayah, Square Mile dapat bunga, kontrol pasar, dominasi sistem keuangan.
Inilah kenapa, Kekaisaran Inggris (Pax Britannica) bisa menguasai dunia. Mereka memiliki mesin uang tak terbatas. Pertanyaan menggelitik muncul, “Lantas, apa tugas kerajaan Inggris hari ini?” Jawaban vulgarnya, ia sekadar “satpam” dari sistem City of London. Maka CoL adalah produsen makna kehidupan yang sumbernya dari uang. Di sini sistem dipelihara, standarisasi, disiplin, dan reputasi—dibangun.
Ketika muncul pertanyaan di publik, “Kenapa banyak negara maju dan kaya, tapi utangnya juga sangat besar dan gila?” Jawabannya bukan di buku ekonomi sekolah, jawabannya ada di Area 2,9 km, Square Mile di London. Karena ia bukan distrik bisnis lazimnya, namun entitas amoral—yang menempatkan profit di atas nyawa dan keadilan. Lewat bursa komoditas LME misalnya, mereka mengontrol emas, berlian, hingga tembaga dari tanah negara-negara berdaulat lain.
Contoh tambang di Grasberg, Papua, logamnya diperdagangkan di bursa ini meski lingkungan Grasberg hancur dan HAM diinjak-injak. Bagi mereka, transparansi itu sampah jika mengganggu likuiditas modal. Lewat pemodal besar, mereka mengatur bursa. Ingat dana talangan 700 milyar dolar AS era GW Bush dan Obama saat krisis keuangan global. Dana itu mengalir ke Wall Street sehingga bursa ini diduduki pendemo (Occupy Wall Street, 17 September 2011 hingga November 2011).
Kenapa semua itu bisa berlangsung hingga kini?
Hal tersebut berawal dari Revolusi Agung 1688. Ketika itu para bankir dan pedagang besar di London merasa letih dan kesal menyaksikan raja yang selalu gagal bayar utang. Solusinya adalah memangkas kuasa raja, lalu mendirikan Bank of England pada 1694. “Inilah titik balik paling jahat”. Beban utang para elit dipindahkan ke pundak rakyat. Utang negara diciptakan dan pajak rakyat dijadikan jaminan.
Jadi, setiap kali rakyat membayar pajak, tidak selalu untuk infrastruktur misalnya, atau untuk pendidikan, kesehatan dll—namun buat jaminan pemegang obligasi di Area 2,9 km ini. Lihat, di Indonesia hal itu terjadi dengan istilah ruang fiskal sempit disebabkan bayar cicilan dan bunga utang.
Penjajahan Sistem
Bagaimana entitas CoL menjaga agar modus ini tetap stabil?
• Pertama, memakai tangan halus (soft power).
Secara internal, di Parlemen Inggris ada “City Rememberancer”, pejabat yang tugasnya mengawasi semua undang-undang dan memastikan sistem CoL tetap aman. Sedang di luar, ia memakai tangan NGO, media massa dan yayasan-yayasan.
Seperti kita sebut di atas, misalnya, seperti WEF, NED, Open Sosiciety, Ford Foundation—mereka menjual paket demokrasi, HAM, standarisasi keuangan; sedangkan Financial Times, BBC, dan sejenisnya bertugas mengajari masyarakat global bahwa pasar bebas itu mulia, netral dan lainnya. Padahal, fungsi sebenarnya adalah “mendisiplinkan negara” yang keluar dari sistem ala Barat cq CoL.
Ya. Negara boleh ganti presiden berkali-kali. Tapi jika berjalannya mengganggu kepentingan Area 2,9 km maka akan dilabel otoriter, anti-demokrasi, melanggar HAM, merusak lingkungan hidup dan lainnya. Jadi, demokrasi, HAM, transparansi dan standarisasi keuangan, serta pemeringkatan kredit itu hanya untuk mendisiplinkan negara yang hendak mandiri. Jelas untuk memastikan kepatuhan pada sistem mereka
• Ke dua, memakai tangan besi (hard power).
Ini sudah terjadi di Irak, Libya dan lainnya. Teraktual, lihatlah Venezuela. 31 ton emasnya disandera Bank of England dengan dalih rezim tidak demokratis. Sungguh ironis. Emas milik negara berdaulat, namun yang menentukan boleh dipakai atau tidak, justru bankir di London.
CoL sudah menciptakan ekosistem di mana kedaulatan negara hanya sampul luar. Di baliknya, ada intelijen Five Eyes militer NATO di bawah pimpinan Amerika Serikat (AS)—siap menjadi “satpam” guna memastikan kekayaan dunia tetap bermuara di Squre Mile, Area 2,9 km. Inilah penjajahan sistem, bukan lagi penjajahan wilayah sebagaimana terjadi di era klasik.
Jika kini terjadi keretakan hubungan antara AS dan NATO di bawah kepemimpinan Donald Trump adalah soal keretakan elit. Trump bertahan atas energi fosil, elit lain mendorong kehadiran energi terbarukan. Trump masuk kripto sebagai jalur masuk ke mata uang digital, elit tertentu masih melihat bioteknologi masih belum kompatibel dengan uang digital. Trump memaksa peningkatan belanja militer, yang lain bertahan. Trump berkiprah dengan tarif, yang lain melihat, salah sendiri AS meninggalkan industrialisasi manufaktur dan terlalu fokus pada teknologi informasi.
Tapi, justru dengan dokumen Epstein dan kemunculan CoL, Trump sebenarnya dalam proses digeser. Sebagai imperium lama, CoL tetap bertaring mendunia. Ini bukti, dunia tergenggam oleh CoL, kelompok di balik Washington dan New York, serta pemain inti Tel Aviv.
Akankah makin busuk? Selama matahari terbit di Timur, jarum jam berputar dan proses itu terus berjalan. Kemunafikan dan multiple suitable standards yang konsisten justru menghantarnya ke puncak kebusukan. []
Sumber: Ichsanuddin Noorsy & M Arief Pranoto
