Prabowo dan Ilusi Perdamaian: Saat Damai Menjadi Alat Penghapusan Palestina

MUSTANIR.net – Prabowo Subianto sangat ingin dikenang sebagai pembawa perdamaian dunia. Pidato menggebu di PBB, janji 20.000 pasukan, tanda tangan Board of Peace di Davos, bahkan pernyataan “perdamaian datang bila keamanan Israel dijamin”. Semua itu dibungkus citra yang heroik.

Namun, semakin jelas bahwa ambisi legacy itu justru membuatnya lengah—atau sengaja pura-pura tidak melihat?

Seperti yang diungkap dalam video kritik yang beredar, Board of Peace bukanlah badan perdamaian biasa. Ini adalah instrumen untuk membangun tatanan baru di mana Palestina tidak lagi menjadi negara berdaulat dengan presiden dan kedaulatan, melainkan wilayah yang dikelola seperti perusahaan korporasi. Trump sebagai ketua dengan hak veto mutlak, didukung lingkaran bisnis (termasuk Kushner), akan berperan sebagai “CEO global”.

Dan Palestina? Akan merana tinggal nama. Yang ada hanyalah ‘Gazan Riviera’—proyek real estate mewah yang akan menggusur penduduk asli.

Ini bukan teori liar semata. Dra. Suzie Sudarman (Dosen HI UI) sudah memperingatkan: BOP adalah bagian dari desain historis global governance yang didorong kelompok Masonik-Zionis. Negara-negara akan direduksi menjadi proyek bisnis, bukan entitas berdaulat. Indonesia, sebagai negara Muslim terbesar, hanya dibutuhkan sebagai “stempel legitimasi” agar agenda ini tidak terlihat terlalu kasar sebagai pro-Israel murni.

Prabowo bilang ingin “counter-balance” Israel. Tapi dengan daya tawar yang minim, struktur BOP yang Trump-controlled, dan Palestina yang hampir tanpa suara, counter-balance itu terdengar seperti lelucon. Yang terjadi justru percepatan Pax Judaica—perdamaian di bawah dominasi Israel Raya, bukan perdamaian abadi dan keadilan sosial seperti yang diamanatkan UUD 1945.

Ironi yang pahit: bahwa presiden yang ingin dikenang sebagai negarawan besar malah berisiko dicatat sejarah sebagai pemimpin yang membantu membersihkan jalan bagi proyek yang menghapus Palestina sebagai bangsa.

Apakah Prabowo benar-benar tidak tahu? Atau dia tahu, tapi memilih untuk tidak peduli demi ambisi legacy dan kedekatan dengan Amerika?

Waktu akan menjawab. Tapi bagi Palestina, waktu itu mungkin sudah hampir habis. []

Sumber: Malika Dwi Ana

About Author

Categories