
Board of Peace Diresmikan, Gaza Tetap Diserang
MUSTANIR.net — Masih Berharap?
Meski Board of Peace telah diresmikan dan Indonesia turut bergabung, Gaza tetap diserang tanpa henti. Pasukan pendudukan Yahudi kembali melancarkan serangkaian serangan intensif di berbagai wilayah Jalur Gaza, menargetkan rumah-rumah warga, tenda-tenda pengungsi, serta sebuah kantor polisi. Serangan ini menewaskan 31 orang, termasuk 7 anak-anak dan 7 perempuan, menjadikannya salah satu hari paling berdarah sejak perjanjian gencatan senjata diumumkan pada 10 Oktober 2025.
Secara kumulatif sejak awal agresi pada 7 Oktober 2023, jumlah korban telah mencapai 72.027 syuhada dan 171.651 korban luka. Serangan-serangan ini berlangsung dalam konteks pelanggaran yang terus-menerus dan disengaja, seolah-olah gencatan senjata tidak pernah ada. Penghancuran berulang juga terjadi di wilayah yang disebut sebagai “garis kuning”, menghabisi sisa-sisa rumah dan bangunan yang masih berdiri.
Sejak pemberlakuan gencatan senjata pada 11 Oktober saja, tercatat 576 syuhada, 1.543 korban luka, serta 717 kasus evakuasi atau penemuan jenazah. Dari total korban tersebut, 180 adalah anak-anak dan 72 perempuan, dengan lebih dari 1.360 orang terluka, di mana 57,5% di antaranya adalah anak-anak dan perempuan.
Pasukan pendudukan menjalankan kejahatan ini dalam pola pelanggaran yang sistematis dan nyata. Apa yang terjadi di Gaza menjadi bukti telak rapuhnya gencatan senjata, sekaligus kegagalan apa yang disebut sebagai Board of Peace. Lebih dari dua tahun penderitaan berlangsung dalam segala bentuknya, sementara dunia hanya menonton.
Mereka yang tampak paling peduli sebatas melontarkan simpati dan kecaman kosong. Dunia seolah telah terbiasa dengan darah yang mengalir, serta jeritan para ibu dan anak-anak yang kehilangan. Sementara itu, para penguasa sibuk mempertahankan singgasana, mencari muka kepada Trump dan sekutunya Netanyahu, dengan mengorbankan Gaza dan rakyatnya.
Penjahat bukan hanya mereka yang melakukan kejahatan secara langsung. Setiap pihak yang turut serta, membiarkan, atau mampu mencegah namun memilih diam, adalah penjahat yang sama. Oleh karena itu, seluruh negara yang berpartisipasi dalam penandatanganan piagam pendirian Board of Peace—termasuk negara-negara yang akan bergabung kemudian—adalah mitra dalam kejahatan kolonialisasi Amerika atas Gaza.
Umat Islam wajib bersatu di bawah panji Khilafah, menjadikan tentara-tentara kaum Muslimin sebagai satu pasukan besar yang dahsyat untuk membela umat dan menuntut keadilan. Para penguasa negeri-negeri Islam wajib keluar dari dewan kolonial ini sebelum penyesalan datang, ketika penyesalan tidak lagi berguna.
وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنْقَلَبٍ يَنْقَلِبُونَ
“Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke mana mereka akan kembali.” (QS. Asy-Syu‘arā’: 227)
Allahu Akbar. []
Sumber: Buletin Kaffah Edisi 432
