Pengkhianatan Intelektual

MUSTANIR.net – Panggung teater politik kita kembali mementaskan babak lucunya yang memuakkan. Sosok yang selama ini dielu-elukan sebagai panglima akal sehat, sang pendobrak yang lidahnya setajam belati menguliti kebobrokan kekuasaan, kini justru melangkah masuk dan duduk manis di lingkar istana sebagai penasihat penguasa.

Ironi ini bukan sekadar berita kejutan jelang akhir pekan, melainkan sebuah kenyataan vulgar bahwa dalam ekosistem politik transaksional, kritik paling keras sekalipun sering kali hanyalah proposal tak tertulis untuk menegosiasikan jatah kekuasaan. Kekuasaan kembali memamerkan daya magisnya yang paling jorok, menjinakkan singa podium menjadi sekadar ornamen pelengkap di koridor istana.

Dalam pandangan Islam ideologis yang membebaskan, kaum intelektual sejatinya memikul amanah peradaban untuk menjadi suara hati nurani umat, yang mewajibkan mereka menjaga jarak dari pusaran kekuasaan agar tak ikut membusuk. Ketika kebenaran mulai dikompromikan dengan kenyamanan, dan nalar kritis ditukar dengan fasilitas negara, di sanalah pengkhianatan intelektual terjadi.

Islam mengajarkan bahwa amar ma’ruf nahi munkar dan muhasabah lil hukam adalah harga mati yang tak mengenal musim, bukan retorika yang bisa dibungkam begitu tawaran kursi tiba. Bergabungnya simbol oposisi ke dalam gerbong penguasa ini mengonfirmasi satu kebenaran pahit: Tanpa landasan ideologi Islam yang kokoh dan berakar, sekeras apa pun teriakan seseorang di luar kekuasaan, pada akhirnya ia akan luluh juga oleh pesona kekuasaan itu.

Peristiwa ini harus menjadi tamparan keras yang menyadarkan nalar ideologis kita. Berhentilah menuhankan figur, menyanjung tokoh, atau berharap pada pahlawan kesiangan yang pada akhirnya terbukti bisa dibeli oleh sistem. Kekecewaan ini adalah ongkos mahal yang harus dibayar ketika perjuangan hanya disandarkan pada pesona individu, bukan pada sistem nilai yang ideologis dan membebaskan.

Umat harus bangkit dan menyadari bahwa perlawanan terhadap kerakusan struktural tidak akan pernah bisa dititipkan pada mereka yang akhirnya ikut berpesta di meja oligarki. Saatnya kita membangun kekuatan dari bawah, membuang ilusi pada tokoh-tokoh pragmatis, dan terus menyalakan nyala perlawanan murni yang berlandasan Islam ideologis. Sebuah perjuangan yang tak akan pernah bisa dibeli dengan jabatan apa pun di republik ini. []

Sumber: Pepei Dwipangga

About Author

Categories