Siapa Sebenarnya Antek Asing?

MUSTANIR.net – Tidak hanya sekali Prabowo menyebarkan narasi antek-antek asing, tetapi berkali-kali sejak masa kampanye hingga dia menjadi presiden. Kata-kata itu diucapkan untuk membangun musuh bersama negara.

Meski sejak awal narasi itu dimunculkan, tidak pernah sekali pun Prabowo menyebut negara asing mana yang dimaksud. Maka, tidak ubahnya kata itu bola liar yang bisa dituduhkan kepada siapa saja yang tidak disukai pemerintah.

Melontarkan tuduhan kepada lawan politik dengan stigma buruk sebagai antek-antek asing, secara psikologis akan menyelamatkan dari tuduhan serupa. Ibarat pepatah, tuduhlah musuhmu agar kamu tidak tertuduh.

Siapa sebenarnya antek asing? Secara empiris yang sedang berkuasa saat ini adalah Prabowo dan kabinetnya. Merekalah yang selama ini mengurus dan mengatur negara sesuai dengan undang-undang yang bisa mereka atur semau-maunya.

Lihatlah bagaimana UU Minerba yang ada saat ini, pemerintah memberikan hak pengelolaan kepemilikan umum kepada dominan orang asing.

Lihatlah pula industri otomotif, sepenuhnya adalah investasi asing. Juga Danantara yang baru saja diresmikan sebagian dari komisarisnya orang asing.

Atau pemerintah juga impor barang-barang kebutuhan pokok—seperti jagung, beras, kedelai, atau sapi—dari asing.

Indonesia bergabung dalam Board of Peace buatan Trump, menjadi sekutu Israel dan AS dalam rangka rekontruksi proyek Gaza, yang justru Indonesia menjadi sub ordinat asing.

Bahkan jika ditelisik lebih dalam, ideologi kapitalisme yang sedang diterapkan di Indonesia juga berasal dari asing. Jadi lantas siapa sebenarnya yang antek asing?

Problem Sesungguhnya.

Masalah pokok negeri ini bukan pada asing atau tidak, karena kenyataannya tidak ada satu pun negara di dunia ini yang tidak terpengaruh oleh dunia luar secara langsung atau tidak. Tetapi, pada substansi ideologi itu sendiri, apakah sesuai dengan fitrah manusia, memuaskan akal dan menentramkan hati atau tidak?

Kapitalisme terbukti secara empiris saat ini membawa manusia ke dalam konflik, perang, ketimpangan kaya dan miskin, kriminalitas, kerusakan lingkungan. Semua problematika ini bersumber dari akidahnya yang sekuler.

Sementara ideologi komunisme telah hancur karena secara naluri tidak sesuai dengan fitrah manusia yang menihilkan tuhan dan mengingkari akal sehat manusia.

Maka tidak ada pilihan yang lebih baik saat ini kecuali ideologi Islam. Yang akan membawa rahmat bagi seluruh alam. []

Sumber: Muhammad Ayyubi (Direktur Mufakkirun Siyasiyyun Community)

About Author

Categories