“Board of Peace” Trump: Solusi Baru atau Alat Hegemoni Lama?

MUSTANIR.net – Dari resor mewah Davos, di tengah salju dan keheningan Pegunungan Alpen Swiss, sebuah tanda tangan menggemakan klaim. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dengan pena di atas kertas, meluncurkan apa yang disebutnya sebagai “Board of Peace” (Dewan Perdamaian). Sebuah badan baru yang ia katakan akan mengatasi kebuntuan diplomasi global, menjawab tangisan Gaza, dan konflik-konflik dunia yang tak kunjung padam.

Tapi, di balik gemerlap lampu kamera dan tepuk tangan terukur para elite World Economic Forum, pertanyaan besar menggantung, Apakah ini solusi, atau sekadar permainan kekuasaan dalam kemasan baru?

Dari Kantor Berita Reuters, AP, hingga Al Jazeera, semua melaporkan hal yang sama. Ambisi Amerika untuk menancapkan kembali pengaruhnya, dengan cara yang tak biasa. Sekutu-sekutu Barat bertanya-tanya, Apa bedanya dengan PBB? Sementara beberapa negara Timur Tengah dan Asia menyambut, mungkin melihat celah negosiasi baru.

Namun, bagi kita yang mencermati peta pemikiran, ini bukan sekadar berita politik. Ini adalah fragmen dari sebuah narasi besar tentang tatanan dunia.

Mari kita baca momen ini dengan kaca mata yang lebih tajam tentang hakikat sistem internasional yang dibangun oleh dunia Barat. Sebuah sistem yang dilahirkan dari akal sekuler kapitalisme, yang memisahkan agama dari kehidupan. Sistem ini, meski mengklaim membawa perdamaian dan keadilan, pada hakikatnya adalah sistem yang rapuh. Karena ia berdiri di atas fondasi kepentingan nasional yang sempit, hegemoni kapitalis, dan politik balance of power–politik keseimbangan kekuatan yang penuh intrik.

Lalu, apa hubungannya dengan Board of Peace ala Trump?

Ini adalah bentuk lain dari hubungan internasional ala negara kapitalis. Sebuah hubungan yang tidak pernah tulus untuk menegakkan keadilan sejati atau membela yang tertindas. Tujuannya satu, melanggengkan pengaruh, mengamankan kepentingan, dan menjadi polisi dunia. Setiap lembaga, pakta, atau dewan yang mereka bentuk, entah itu PBB, NATO, atau kini Board of Peace adalah alat (wasilah) untuk mencapai tujuan itu.

Lihatlah, Board of Peace lahir bukan dari suara kolektif umat manusia, tapi dari inisiatif negara adidaya. Mandatnya samar, berpotensi tumpang tindih dengan PBB. Ini menunjukkan bahwa dunia Kapitalisme sekuler itu absennya visi yang jelas tentang perdamaian hakiki. Perdamaian mereka adalah “perdamaian” yang menjaga status quo, yang melindungi kekuatan yang ada, yang mungkin malah melanggengkan penindasan.

Perdamaian sejati hanya bisa tegak di atas asas yang tetap, yang bersumber dari Sang Pencipta manusia dan kehidupan. Bukan di atas meja perundingan yang bisa diobrak-abrik oleh kepentingan sesaat. Perdamaian adalah buah dari penerapan aturan Islam yang adil secara kaffah, yang melindungi darah, harga diri, harta, akal, dan agama setiap manusia tanpa pandang bangsa atau agama. Itu hanya dapat diwujudkan oleh sebuah entitas politik yang menjalankan syariah Islam secara total dalam bingkai khilafah.

Maka, kehadiran Board of Peace ini, meski mungkin akan mengklaim beberapa “keberhasilan”, pada hakikatnya hanyalah pergantian alat dalam kotak alat yang sama. Kotak alat sistem sekuler kapitalisme global yang gagal memberikan ketenangan bagi jiwa-jiwa yang merindukan keadilan.

Dari puncak Davos, kita tidak hanya menyaksikan lahirnya sebuah dewan baru. Kita menyaksikan reinkarnasi dari paradigma usang. Paradigma yang percaya bahwa perdamaian bisa di-board-kan, di-management-kan, sambil mengabaikan akar penyakit kemanusiaan yaitu ketiadaan aturan hidup yang bersumber dari Dzat yang Maha Adil.

Sebuah bab baru diplomasi global memang mungkin telah dimulai. Tapi, ia masih berada dalam kitab cerita yang lama. Kitab yang halaman-halamannya dipenuhi dengan konflik baru yang lahir dari solusi semu.

Kita menunggu. Bukan pada Board of Peace, tapi pada kebangkitan sebuah peradaban yang membawa cahaya dari langit. Cahaya yang akan menerangi jalan perdamaian yang sesungguhnya, yaitu khilafah. []

Sumber: Rumah Tsaqofah

About Author

Categories