Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

MUSTANIR.net – Tidak ada cara halus untuk mengatakannya: Presiden Indonesia Prabowo Subianto tidak peduli dengan Palestina. Bukan pembebasan. Bukan keadilan. Bukan mengakhiri pendudukan atau membongkar apartheid. Yang dia pedulikan adalah kekuasaan, prestise, dan citranya sendiri di panggung dunia. Inilah inti dari kebijakan luar negerinya. Palestina bukanlah prinsip—melainkan alat peraga.

Bukti yang paling mencolok adalah keputusannya untuk bergabung dengan apa yang disebut Dewan Perdamaian Donald Trump. Ini bukanlah langkah netral atau teknis. Ini adalah penyelarasan dengan pandangan dunia yang memperlakukan nyawa Palestina sebagai sesuatu yang dapat dikorbankan dan supremasi Israel sebagai sesuatu yang tak tersentuh. Dewan tersebut tidak mencari keadilan. Dewan tersebut mencari ketenangan tanpa pertanggungjawaban, perdamaian tanpa kebebasan, normalisasi tanpa konsekuensi. Dengan bergabung dengannya, Prabowo memberi sinyal bahwa nyawa Palestina dapat dikorbankan selama ia mendapatkan dukungan dari elit global.

Ini disengaja. Bukan kesalahan langkah. Pengkhianatan adalah intinya.

Tindakan Prabowo sebelum dan selama masa kepresidenannya memperkuat hal ini. Jauh sebelum menjabat, ia mempertahankan keterlibatan diam-diam dengan Israel, termasuk kerja sama dalam pelatihan keamanan dan proyek pertanian. Ini bukanlah kontak teknis yang netral—melainkan sinyal politik bahwa hak-hak Palestina dapat dipisahkan atau diabaikan jika bertentangan dengan “kepentingan strategis” Indonesia.

Retorikanya pun sama mencoloknya. Pada Sidang Umum PBB 2025, Prabowo berbicara tentang “perdamaian” tanpa pernah menyebut pendudukan Israel. Ia mengutuk kekerasan tanpa mengidentifikasi pelakunya. Penderitaan Palestina digambarkan sebagai tragedi yang disayangkan, bukan sebagai hasil yang dapat diprediksi dari puluhan tahun dominasi kolonial. Yang paling mencolok, ia berulang kali menekankan “keamanan” Israel, menandakan bahwa prioritas penjajah lebih penting daripada hak-hak yang dijajah. Ini bukanlah diplomasi—ini adalah penyerahan diri.

Ke mana pun ia pergi, mantra kosong yang sama selalu mengikutinya: solusi dua negara. Diucapkan di PBB, di Pakistan, dan di seluruh dunia Muslim, mantra ini berfungsi sebagai ritual: cara untuk menunjukkan keprihatinan tanpa menuntut tindakan. Pada tahun 2026, mengacu pada solusi dua negara sambil mengabaikan penghancuran sistematis Israel terhadap negara Palestina—melalui pemukiman, aneksasi, hukum apartheid, dan pengepungan—bukanlah kebijakan yang serius. Ini adalah penipuan yang disengaja.

Di bawah Prabowo, Kementerian Luar Negeri Indonesia telah melembagakan kemunafikan ini. Menteri Luar Negeri Sugiono mengulangi bahasa yang sama di setiap forum: “keseimbangan,” “pengekangan,” “keamanan untuk semua pihak.” Tidak ada sanksi yang diusulkan. Tidak ada pertanggungjawaban yang dituntut. Tidak ada pengakuan atas ketidakseimbangan kekuatan yang mencolok antara penjajah dan yang dijajah. Ini bukan kebingungan; ini adalah koordinasi.

Kebijakan luar negeri Prabowo dirancang untuk mendapatkan akses ke elit, bukan keadilan bagi kaum tertindas. Ia secara agresif mendekati Washington, bahkan bersekutu dengan tokoh-tokoh yang secara terbuka memusuhi kebebasan Palestina, sambil mencari prestise dan pengaruh di forum global. Bantuan mungkin dikirim ke Palestina, tetapi tidak pernah dikaitkan dengan keadilan, akuntabilitas, atau perlawanan terhadap pendudukan. Kata-kata dan bantuan itu murah; mereka tidak mengancam kedudukannya. Setiap kali hak-hak Palestina berbenturan dengan citra atau keuntungan pribadi, Prabowo memilih dirinya sendiri daripada pembebasan.

Indonesia pernah memiliki otoritas moral di dunia karena perjuangan anti-kolonialnya dan penolakan konstitusional terhadap pendudukan. Warisan itu berarti lebih dari sekadar kekuatan materi: itu memberi Indonesia kredibilitas untuk berbicara jujur ​​tentang ketidakadilan. Di bawah Prabowo, otoritas itu ditukar dengan jabat tangan, tepuk tangan, dan kesempatan berfoto.

Singkirkan eufemisme dan slogan-slogan kosong, dan kebenaran tak terelakkan: Prabowo tidak peduli dengan Palestina. Ia peduli dengan dirinya sendiri. Ia peduli dengan prestise. Ia peduli dengan kekuasaan. Dan dalam pengejarannya, pembebasan Palestina tidak hanya diabaikan—tetapi secara aktif dikorbankan. []

Sumber: Dr. Muhammad Zulfikar Rakhmat

About Author

Categories