?Syarat Kemuliaan Kaum Muslim Menurut QS. Âli Imrân [3]: 110 ?

Aksi 211 foto

?Syarat Kemuliaan Kaum Muslim Menurut QS. Âli Imrân [3]: 110 ?

Nas al-Qur’an menegaskan bahwa kaum Muslim adalah kaum yang Allah muliakan, dengan predikat umat terbaik yang Allah turunkan untuk umat manusia, berikut karakteristik yang harus melekat padanya:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Âli Imrân [3]: 110)

Allah mengungkapkan kedudukan sebaik-baik umat dalam ayat di atas, diawali diksi kuntum yang bermakna ”kalian telah menjadi”, berbentuk kata kerja lampau (al-fi’l al-mâdhi) yang mengisyaratkan pastinya kemuliaan umat tersebut, yakni selama mereka:

a). Beriman kepada Allah, yang mengandung konsekuensi iman terhadapsegala hal yang datang dari-Nya, ajaran-ajaran-Nya.
b). Menyuruh kepada yang ma’ruf
c). Melarang dari yang mungkar

Ulama tabi’in, Imam Mujahid r.a. 9w. 104 H) menjelaskan bahwa kalian (umat Islam) menjadi umat yang terbaik, selama memenuhi syarat-syarat yang Allah sebutkan dalam ayat, yakni menyuruh kepada yang ma’ruf, melarang dari yang mungkar dan beriman kepada Allah.[1] Yakni menjadi umat terbaik yang dikeluarkan untuk umat manusia pada masa kalian.[2]

Ketiga pesan ini pun diungkapkan dengan al-fi’l al-mudhâri’ (kata kerja saat ini atau yang akan datang), yang menunjukkan keberlangsungan proses tersebut, tiada henti-hentinya, menunjukkan bahwa beriman kepada Allah, menyuruh kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar, harus senantiasa tegak di tengah-tengah kaum Muslim, dari masa ke masa, tak boleh diabaikan karena ketiganya menjadi sebab kemuliaan kaum Muslim.

Ketiga pesan agung ini pun dihubungkan dengan wâw al-’athf, yang berfaidah menunjukkan penyatuan (li muthlaq al-jam’i).[3] Dalam ayat ini yakni penyatuan ketiga karakter umat terbaik, yang tak terpisahkan mencakup akidah dan syari’ah (akhlak). Dimana ayat ini mengisyaratkan kepada kita, keunggulan akidah dan ajaran akhlak kaum Muslim, sehingga menjadi umat terbaik yang dilahirkan untuk umat manusia.[4]

Maka keterpurukan yang menimpa kaum Muslim merupakan sesuatu yang harus dievaluasi secara mendalam. Keterpurukan yang menimpa kaum Muslim, ditandai dengan terjadinya berbagai tragedi memilukan secara bertubi-tubi, dan berada pada puncaknya ketika kaum Muslim -bagaikan anak ayam yang kehilangan induknya- kehilangan institusi pemersatu kaum Muslim, al-Khilafah al-Islamiyyah. (mustanir.com)

Nantikan kajian lengkap mengenai pembahasan ini, dalam buku kajian tafsir & balaghah ayat motivasi dakwah.

والله أعلم بالصواب

? Catatan Kaki:
[1] Abu Ja’far Muhammad bin Jarir al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, Ed: Ahmad Muhammad Syakir, Beirut: Mu’assasat al-Risâlah, cet. I, 1420 H/2000, juz VII, hlm. 102.
[2] Ibid.
[3] Abu al-Hasan Sayyiduddin ‘Ali bin Abi ‘Ali al-Amidi, Al-Ihkâm fî Ushûl al-Ahkâm, Ed: Dr. Sa’id al-Jamili, Beirut: Dâr al-Kitâb al-‘Arabi, cet. I, 1404 H, juz I, hlm. 96; Syihabuddin Ahmad bin Idris al-Qarafi, Nafâ’is al-Ushûl fî Syarh al-Mahshûl, Ed: Adil Ahmad, Riyadh: Maktabat Nazzâr Mushthafa al-Bâz, cet. I, 1416 H, juz III, hlm. 989.
[4] Dr. Mushthafa bin Husni al-Siba’i, Min Rawâi’i Hadhâratinâ, Beirut: Dâr al-Warrâq, cet. I, 1420 H, hlm. 22-23.

Penulis : Irfan Abu Naveed (Penulis Buku Menyikap Jin & Dukun “Hitam Putih” Indonesia)

Categories