
Umat Islam dan Revolusi
MUSTANIR.net – Umat Islam tidak hanya harus berhenti pada doa dan dzikir di balik mihrab. Umat ini harus bergerak, berderap, dan menghentakkan kaki menuju satu titik, revolusi pemikiran dan politik!
Bergerak menuju revolusi bukan berarti sekadar menentukan tanggal di kalender atau menyiapkan senjata di kegelapan malam. Revolusi bukan barang dagangan yang dipesan lewat nota. Revolusi adalah ledakan dari sebuah kesadaran yang telah mencapai titik didih.
Tugas kita hari ini, di tengah krisis yang menganga dan penguasa yang khianat, bukanlah duduk diam menunggu keajaiban. Tugas kita adalah mengambil posisi tempur yang paling strategis. Mempersenjatai akal umat dengan pemikiran Islam, menginspirasi jiwa mereka dengan kerinduan akan syariat, dan mengirimkan sinyal di setiap barisan bahwa waktu fajar telah tiba!
Apakah ini hanya sekadar diskusi di ruang-ruang sunyi? Apakah ini hanya manuver kata-kata?
Ya! Ini adalah manuver revolusioner! Namun, ketahuilah, ada perbedaan jurang antara manuver kaum pecundang dengan manuver kaum ideologis. Setiap kata yang kita tancapkan di benak umat hari ini adalah peluru yang akan menghancurkan berhala-berhala sekularisme besok.
Situasi hari ini sudah akut, ia mengandung ledakan dahsyat yang tak terbendung. Kapan ia akan meledak? Itu tergantung pada seberapa kokoh gerakan kita, seberapa luas dukungan umat, dan seberapa besar pengaruh kebenaran yang sanggup meluluhkan hati para pemegang kekuatan (ahlul quwah).
Harus ditegaskan, revolusi kita berdiri di atas tiga pilar yang tak tergoyahkan:
1. Kekuatan Umat yang Sadar
Jutaan umat ini telah muak dengan hukum buatan manusia. Kita harus memanggil mereka keluar dari zona nyaman, menyatukan mereka dalam satu derap langkah, dan mengikat mereka dengan satu slogan abadi: La ilaha illallah, Muhammad Rasulullah!
2. Membongkar Topeng Kaum Liberal dan Nasionalis
Seluruh elemen rakyat merasakan penderitaan yang sama, namun mereka disesatkan oleh para penjual janji demokrasi. Kita harus menjadi pelopor yang membongkar kemunafikan ini! Kita harus memaksa kaum liberal mengakui bahwa solusi mereka hanyalah racun yang penuh tipu daya dan kerakusan. Tarik simpati rakyat agar mereka melihat bahwa hanya Islamlah satu-satunya ideologi yang mampu memerdekakan mereka dari perbudakan global.
3. Meluluhkan Hati Para Pemegang Senjata
Tentara adalah saudara dan anak-anak kita. Mereka adalah bagian dari umat. Saat ini, mereka diperalat untuk menjaga tahta para tiran. Kita harus menjelaskan kepada mereka. Untuk siapa kalian bertempur? Untuk perut para kapitalis atau untuk kemuliaan Allah? Kita harus menciptakan situasi di mana mereka tak lagi sanggup menatap mata umatnya sebagai musuh, melainkan sebagai saudara yang harus dilindungi.
Namun tetaplah waspada. Jangan terpedaya oleh ketenangan di permukaan. Di kedalaman hati umat, sedang terjadi manuver kesadaran. Kemarahan yang tertahan, kemiskinan yang mencekik, dan harga diri yang diinjak-injak sedang menumpuk menjadi energi raksasa.
Kaum liberal mencoba membendung arus ini dengan isu-isu palsu dan legalitas semu. Mereka ingin umat tetap berada di jalur sempit yang mereka ciptakan. Jangan biarkan itu terjadi! Kita harus mengambil kepemimpinan! Ubah keresahan ini menjadi revolusi Islam global!
Pusat medan pertempuran kita adalah kesadaran umum (wa’yul amm). Tanpa kesadaran, massa hanya akan menjadi kerumunan yang mudah dibubarkan oleh gas air mata dan pentungan. Namun dengan kesadaran, setiap individu adalah singa yang tak gentar menghadapi moncong senapan.
Kita akan terus meneriakkan slogan-slogan: Tegakkan syariat, kembalikan khilafah! Disertai langkan rencana aksi kita:
• Mulai dari Kutlah (Kelompok)
Satukan pemikiran, tentukan arah strategi, padukan langkah.
• Terjun ke Tengah Umat
Bicara di pasar, di kampus, di masjid, di media sosial. Jangan biarkan ada satu telinga pun yang tidak mendengar tuntutan kita.
• Bongkar Tipu Daya Kekuasaan
Jelaskan bahwa penguasa hari ini hanyalah agen-agen yang gemetar ketakutan di balik tembok istana mereka. Mereka tidak punya masa depan.
Sejarah telah melakukan tugasnya dengan meruntuhkan martabat sistem rusak hari ini. Sekarang, giliran kita, kekuatan revolusioner yang sadar, untuk menyelesaikannya! Jangan biarkan energi ini menguap sia-sia. Satukan kemarahan kita dalam satu panji. Barisan panji hitam dari timur. []
Sumber: Pepei Dwipangga — Revolt and Rise
