Bunuh Diri Geopolitik

MUSTANIR.net – Kedaulatan ruang udara Indonesia berada di titik nadir menyusul berhembusnya kabar dari Pentagon tentang dokumen pertahanan rahasia Amerika Serikat soal “blanket overflight acces”.

Dokumen ini mengungkapkan manuver pemerintah Amerika melobi dan mendikte Presiden Prabowo untuk mendapatkan izin akses lintas udara menyeluruh bagi pesawat-pesawat militernya melalui wilayah udara Indonesia.

Sebuah manuver yang dimaksudkan Donald Trump untuk memperkuat kehadiran serta memperluas secara signifikan jangkauan operasional militer Amerika di kawasan Indo-Pasifik.

Menariknya, dilaporkan saat ini sedang difinalisasi oleh Menhan Sjafrie Sjamsoeddin dan akan ditandatangani pada 15 April mendatang.

Informasi ini terungkap menyusul pertemuan Board of Peace 18-20 Februari lalu antara Prabowo Subianto dan Donald Trump di Washington DC. Dilaporkan, Prabowo telah menyetujui proposal tentang pemberian izin transit udara yang lebih luas bagi pesawat militer Amerika di Indonesia.

Jika kabar ini benar dan kesepakatan itu diresmikan, maka ke depannya pesawat tempur, pesawat pengintai, hingga pengangkut logistik militer Amerika dapat melintasi wilayah kedaulatan Indonesia “seenak jidatnya”, secara bebas, tanpa harus memperoleh izin keamanan resmi pemerintah Indonesia.

Kesepakatan ini menjadi sejarah baru bagi Indonesia. Prabowo menjadi pionir yang melelang, menjual kedaulatan Indonesia. Entahlah, apa ambisi politiknya menjual kedaulatan ruang udara Indonesia kepada Amerika.

Kita tahu, selama puluhan tahun, Indonesia sangat dan tegas menjaga kedaulatan udara. Sangat tegas memberlakukan prosedur bagi setiap penerbangan asing, terutama militer untuk melintasi langit nasional.

Berdasarkan prinsip ketatanegaraan, politik hukum pertahanan dan regulasi nasional, setiap pesawat militer wajib melalui proses birokrasi diplomatic clearance dan security clearance berlapis.

Proses itu selanjutnya menjadi instrumen utama hal ini. TNI matra udara mengawasi pesawat asing asal negara mana pun yang melintas yurisdiksi Indonesia.

Namun ke depannya, dokumen itu disepakati dan ditandatangani pada 15 April mendatang akan menandai perubahan brutal, prosedur izin, mekanisme menjaga kedaulatan jalur udara nasional, dengan sendirinya menjadi sampah.

Konsekuensi kesepakatan ini sangat mengerikan bagi keamanan rakyat Indonesia. Tanpa adanya prosedur pemeriksaan per kasus, militer Amerika bebas masuk dan keluar wilayah udara Indonesia hanya dengan bermodalkan notifikasi singkat.

Jelas brengsek!

Model kesepakatan tersebut, praktis melenyapkan peluang otoritas pertahanan Indonesia untuk lakukan audit mendalam tentang muatan yang dibawa serta melakukan penolakan atas ancaman dan bahaya.

Apa Prabowo tidak berpikir lebih jauh?

Sebagai mantan perwira TNI harusnya memiliki pemahaman mendalam. Bahwa model kesepakatan seperti ini sangat mencampuri kemanan dalam negeri. Indonesia akan kehilangan kendali atas muatan yang dibawa pesawat-pesawat asing tersebut. Melintasnya di atas rumah warga pula.

Ini adalah bentuk bunuh diri geopolitik, menyerahkan nyawa pertahanan dan kemanan bangsa, kedaulatan dan ketahanan dijual murah di atas meja diplomasi. Konyol!

Jelas langkah bunuh diri karena kita tidak akan pernah tahu apakah pesawat yang melintas itu membawa persenjataan berat, peralatan spionase canggih, atau bahkan hulu ledak nuklir.

Pastinya, lewat kesepakatan ini, Indonesia sedang dipaksa menjadi “tol militer udara”, menjadi basis pangkalan udara pasif untuk mendukung ambisi hegemoni Washington di kawasan Indo-Pasifik dan Timur Tengah.

Jika kabar ini benar, maka Prabowo adalah Presiden yang tidak bermartabat, tidak punya harga diri, beban bangsa berbaju patriot.

Bagaimana mungkin Prabowo dengan entengnya mengambil langkah kompromistis yang secara sistematis membawa bangsa dan rakyat Indonesia ke dalam bahaya pertahanan dan kemanan yang sistematis?

Dengan bahaya sebesar ini, sudah seharusnya rakyat Indonesia bergerak maju, meminta klarifikasi Prabowo. Bersatu gagalkan kesepakatan ini sebelum diresmikan dan ditandatangani pada 15 April mendatang. []

Sumber: Faisal Lohy

About Author

Categories