
Indonesia Malah Merapat ke AS Membentuk Kemitraan Pertahanan Baru
MUSTANIR.net – Warga dikagetkan dengan keluarnya dokumen rencana diizinkannya ruang udara Indonesia untuk dilewati secara bebas oleh pasukan AS sebagai tindak lanjut kesepakatan antara Prabowo dengan Trump. Hal tersebut mendapat reaksi penolakan cukup intens.
Akhirnya Kementerian Pertahanan mengatakan bahwa itu baru draft yang belum final. Apa pun alibinya, yang jelas jika masyarakat tidak ‘peka’ maka bisa jadi itu bukan draft lagi. Tapi sudah merupakan agenda utama pertemuan.
Dan benar, Senin (13/4) Menhan RI Sjafrie diterima oleh Menhan AS Pete Hegseth.
Yang perlu dicatat adalah apa yang disampaikan oleh Menhan AS Pete. Dia mengatakan dalam sambutannya, “Kemitraan ini menandakan kekuatan dan potensi hubungan keamanan kita, memperkuat pencegahan konflik regional, dan memajukan komitmen bersama kita terhadap perdamaian melalui kekuatan.”
Apa yang dikatakan oleh Pete sangat aneh. Ingin menjaga perdamaian namun justru apa yang dilakukan oleh AS dan Israel kepada Iran jelas bertolak belakang. Dengan barbar, AS mengobarkan perang. Langsung serang dan perangi Iran. Saat perundingan deadlock maka tidak bisa dibenarkan langsung main hajar. Jadi, di mana mau menjaga perdamaian itu?
Juga pernyataan bahwa pertemuan tersebut untuk mencegah konflik regional, jelas omon-omon juga. Apa yang dilakukan oleh AS ke Iran justru menyulut ketegangan dan konflik kawasan dan regional. Saat ini imbasnya politik maupun ekonomi sudah terasa. Bukan hanya kawasan Timur Tengah saja yang merasakan, namun dirasakan oleh masyarakat dunia. Jadi, di mana pencegahan konflik regional itu?
Dan yang lebih penting lagi adalah pertemuan ini dan apa yang disampaikan oleh Kemhan AS menunjukkan bahwa Indonesia ‘bergantung’ pada AS.
Hal ini tampak dalam rancangan implementasi dari kerja sama ini, yakni kedua negara akan mengeskplorasi berbagai inisiatif teknologi pertahanan mutakhir, termasuk pengembangan bersama kemampuan asimetris, serta kerja sama pemeliharaan dan perbaikan alat utama sistem persenjataan untuk meningkatkan ksiapan operasional.
Pertanyaan pentingnya adalah: apakah posisi Indonesia dengan AS itu ‘seimbang’? AS negara adidaya. Indonesia negara berkembang. Jauh sekali.
Tanpa meremehkan posisi Indonesia, jelas kesepakatan yang ada sangat menguntungkan AS. Apalagi poin pemeliharaan dan perbaikan alat utama sistem pertahanan. Bukankah itu yang jadi kendala selama ini?
Punya alutsista canggih dari AS tapi suku cadang dicekik. Persenjataan pendukungnya tidak ready stock apalagi berlimpah. Dan masih banyak lagi. Banyak aturan yang akhirnya menjadikan alutsista itu ada tapi bisa berguna jika dan hanya jika ‘bermesraan’ dengan AS. Jika berseberangan maka alamat lama kelamaan bisa menjadi besi tua rongsokan. Bukankah ini namanya ‘bergantung’?
Ketika Negara-negara Arab Sudah “Tidak Percaya” pada Perlindungan AS
Jadi, sungguh ironi. Ketika banyak negara-negara Timur Tengah kecewa kepada AS atas ‘janji’ memberikan perlindungan ke mereka, Indonesia justru membuat kerja sama pertahanan yang jika ditarik kesimpulannya adalah mencari aman dengan bergabung dengan AS.
Tidakkah sikap AS dalam perang Amerika-Israel dengan Iran sudah layak menjadi pelajaran yang berharga? Kenapa masih bergantung pada AS walau saat ini sudah menjadi ‘the sickman from USA’? Sungguh aneh.
Dalam Islam sudah jelas aturannya haram hukumnya berhubungan dan menjalin hubungan dengan negara yang jelas-jelas memusuhi, memerangi, dan membantai umat Islam.
Tidakkah jelas bahwa AS itu benar-benar memusuhi umat Islam? Ada penutup tabir apakah sehingga menjadi begitu samar membaca kalau AS itu memusuhi umat Islam? []
Sumber: Gus Uwik
