Moderasi Beragama Agenda Penjajah Barat

MUSTANIR.net – Indonesia sebagai negeri muslim terbesar di dunia sedang memasuki masa bonus demografi yang akan mencapai puncaknya pada 2030. BPS (2022) memproyeksikan bahwa penduduk Indonesia pada 2045 mencapai 318,96 juta jiwa dengan sekitar 69,3% berusia produktif.

Potensi yang sangat besar ini tentu berpeluang untuk kebangkitan Islam sekaligus juga tantangan dan ancaman bagi penjajahan negara kapitalisme. Penjajah Barat berusaha keras agar potensi pemuda dalam genggamannya. Salah satu caranya dengan proyek moderasi beragama.

Moderasi beragama digaungkan baru pada 2000-an. Atas nama moderasi, ajaran Islam dipaksa tunduk pada nilai-nilai Barat yang sekuler, seperti HAM, inklusivisme, kesetaraan, pluralisme, toleransi, dan sejenisnya.

Narasi radikalisme selalu menjadi alasan utama. Seakan-akan radikalisme adalah akar dari seluruh problem pemuda dan negara sehingga solusinya adalah dengan memoderasi ajaran Islam.

Moderasi beragama tidak lepas dari rancangan penjajah Barat di negeri muslim untuk mengadang kebangkitan Islam. Moderasi beragama digagas oleh RAND Corporation sebagai bagian dari rekayasa global.

Proyek ini merupakan kelanjutan dari proyek War on Terrorism (WoT) yang sejatinya merupakan perang melawan ideologi Islam dan para pengembannya. Melalui proyek ini, mindset umat Islam diubah agar tidak lagi berpandangan buruk terhadap Barat beserta nilai-nilainya.

Pada saat yang sama, mereka kehilangan kepercayaan diri sebagai muslim yang selalu terikat pada agamanya dan siap memimpin dunia. Itulah sebabnya hari ini banyak pemuda muslim yang bangga dengan identitas muslim moderat dan inklusif. Mereka rela berkompromi dengan kekufuran dan kebatilan, bahkan menjadi pelakunya. Namun pada saat yang sama, sangat anti terhadap ajaran Islam kafah dan pengembannya.

Mereka menyebut Islam yang dimoderasi sebagai Islam ramah, inklusif, dan berkemajuan. Sementara itu, Islam kafah distigma sebagai Islam marah, eksklusif, dan terbelakang. Oleh karenanya, alih-alih menjadi solusi bagi problem pemuda, proyek moderasi Islam justru menjadi pengukuh kerusakan dan penjajahan.

Tidak heran, jika di lapangan (atas nama toleransi), kaum muslim yang mayoritas ini harus tunduk bahkan menghinakan diri di hadapan kaum minoritas. Jika ada benturan muslim dan nonmuslim, yang selalu disalahkan adalah umat Islam. Umat Islam yang menginginkan kehidupan diatur sesuai syariat Islam pun dicap radikal dan intoleran yang alasan sering kali tidak masuk akal.

Demikianlah sejatinya moderasi beragama. []

Sumber: Qisthi Yetty H

About Author

Categories