Akar Masalah Ekonomi Kapitalis Terletak pada Kesalahan Mereka dalam Mendefinisikan Persoalan Ekonomi

MUSTANIR.net – Jika kita melihat dasar-dasar yang menjadi landasan sistem kapitalisme, kita akan mendapati bahwa dasar-dasar tersebut sangat berbeda dengan dasar-dasar yang menjadi landasan sistem ekonomi dalam Islam.

Karena itu, mari kita menyoroti secara singkat beberapa prinsip utama yang menjadi fondasi sistem kapitalisme. Sistem kapitalisme dibangun di atas beberapa asas berikut:

• Asas pertama berkaitan dengan cara pandang terhadap masalah ekonomi; yaitu bagaimana para perancang ekonomi kapitalis mendiagnosis persoalan ekonomi.

• Asas ke dua berkaitan dengan konsep manfaat; apa yang dianggap bernilai atau bermanfaat dalam pandangan kapitalisme? Barang seperti apa yang dianggap memberikan manfaat bagi manusia?

• Sedangkan asas ke tiga yang sangat penting adalah mekanisme harga, yaitu sistem yang digunakan untuk menentukan nilai barang dan jasa.

Mari kita mulai dengan asas pertama, yaitu cara kapitalisme mendiagnosis masalah ekonomi. Setiap sistem hukum atau aturan dibuat untuk menyelesaikan suatu masalah.

Sistem kapitalisme juga dirancang untuk mengatasi masalah yang menurut para pemikir kapitalis merupakan masalah utama ekonomi, yaitu apa yang mereka sebut sebagai kelangkaan relatif barang dan jasa.

Apa maksudnya?

Menurut pandangan kapitalis, kebutuhan manusia sangat banyak, terus bertambah, berkembang, dan tidak terbatas. Sementara itu, barang dan jasa yang tersedia bersifat terbatas. Karena itu, menurut mereka, masalah ekonomi utama adalah bagaimana memenuhi kebutuhan manusia yang tidak terbatas dengan sumber daya yang terbatas.

Atas dasar itulah sistem kapitalisme berfokus pada peningkatan kekayaan masyarakat. Pertanyaan utama bagi kapitalisme adalah: bagaimana memperbesar kekayaan? Bagaimana melipatgandakan produksi agar kebutuhan manusia dapat dipenuhi sebanyak mungkin?

Karena itu, perhatian utama para perancang ekonomi kapitalis selalu berputar pada pertumbuhan ekonomi dan peningkatan produksi. Maka tidak mengherankan jika dalam literatur ekonomi modern kita sering mendengar istilah seperti pertumbuhan ekonomi, pembangunan ekonomi, pengembangan ekonomi nasional, dan sebagainya.

Semua itu berfokus pada bagaimana meningkatkan jumlah barang dan jasa yang diproduksi agar semakin banyak kebutuhan masyarakat yang dapat dipenuhi. Namun, pendekatan ini menimbulkan persoalan mendasar.

Sistem kapitalisme pada akhirnya menjadikan uang dan kekayaan sebagai pusat perhatian, bukan manusia. Padahal, masalah ekonomi yang sebenarnya bukanlah sekadar memperbanyak produksi, meskipun peningkatan produksi tentu merupakan hal yang baik. Persoalan utama ekonomi manusia bukan terletak pada banyak atau sedikitnya produksi.

Masalah peningkatan produksi dan pertumbuhan kekayaan lebih tepat ditempatkan dalam ranah ilmu ekonomi, bukan dalam sistem ekonomi yang mengatur kehidupan masyarakat.

Pada dasarnya, Allah SWT telah menciptakan berbagai sumber daya alam yang cukup untuk memenuhi kebutuhan manusia. Selain itu, manusia juga diberi kemampuan untuk menghasilkan berbagai layanan dan saling bertukar manfaat di antara mereka.

Karena itu, persoalannya bukan terutama bagaimana memperbanyak kekayaan, melainkan bagaimana mendistribusikan kekayaan tersebut secara adil kepada manusia.

Kebutuhan manusia sendiri terbagi menjadi dua:

1. Kebutuhan pokok, yang harus dipenuhi agar manusia dapat hidup dengan layak.
2. Kebutuhan pelengkap (sekunder dan tersier), yang pemenuhannya memerlukan perkembangan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan.

Pertumbuhan ekonomi memang dapat membantu memenuhi kebutuhan pelengkap tersebut, tetapi pemenuhan kebutuhan pokok tidak selalu memerlukan pertumbuhan ekonomi yang besar dan terus-menerus.

Menurut pandangan ini, sistem kapitalisme terlalu fokus pada peningkatan produksi dan kekayaan, tetapi tidak memberikan perhatian yang memadai terhadap cara distribusi kekayaan tersebut. Padahal, persoalan ekonomi yang sesungguhnya adalah bagaimana mendistribusikan kekayaan sehingga setiap individu dalam masyarakat dapat memperoleh kebutuhan pokoknya berupa makanan, pakaian, dan tempat tinggal.

Setelah kebutuhan pokok terpenuhi, barulah setiap orang diberi kesempatan untuk memenuhi kebutuhan pelengkapnya sesuai kemampuan dan keinginannya.

Inilah aspek yang menurut kritik tersebut diabaikan oleh sistem kapitalisme. Kapitalisme menyerahkan distribusi kekayaan kepada mekanisme harga dan kemampuan seseorang untuk membayar harga tersebut.

Bagaimana caranya?

Mereka menetapkan bahwa harga adalah alat untuk menentukan nilai barang dan jasa. Siapa yang memiliki uang lebih banyak, ia dapat memenuhi lebih banyak kebutuhan. Sebaliknya, siapa yang memiliki sedikit uang, ia hanya mampu memenuhi sedikit kebutuhan.

Dalam sistem ini tidak ada pembedaan antara kebutuhan pokok yang seharusnya dijamin bagi setiap individu dan kebutuhan pelengkap yang bergantung pada kemampuan masing-masing. Semuanya diserahkan kepada mekanisme pasar, persaingan bebas, serta hukum permintaan dan penawaran.

Akibatnya, distribusi kekayaan ditentukan oleh kemampuan ekonomi masing-masing orang. Mereka yang memiliki modal, kekuatan, kecerdasan, peluang, atau kekuasaan dapat menguasai bagian terbesar dari kekayaan masyarakat. Sementara mereka yang tidak memiliki faktor-faktor tersebut harus berbagi sisa kekayaan yang ada.

Karena itulah, negara-negara yang menerapkan kapitalisme, bahkan yang memiliki ekonomi terbesar di dunia, sering kali menunjukkan kesenjangan yang sangat besar. Sebagian kecil penduduk menguasai sebagian besar kekayaan negara, sedangkan mayoritas masyarakat hanya memperoleh bagian kecil dari kekayaan tersebut. Bahkan sebagian dari mereka masih kesulitan memenuhi kebutuhan pokoknya.

Sebagai contoh, ketika Tiongkok menjadi salah satu ekonomi terbesar di dunia, hal itu tidak otomatis berarti seluruh rakyat Tiongkok hidup sejahtera dan seluruh kebutuhan pokok mereka terpenuhi. Menurut pandangan ini, meskipun Tiongkok memiliki ekonomi yang sangat besar, kemiskinan tetap ada dan sebagian besar kekayaan terkonsentrasi pada kelompok kecil pemilik modal.

Demikian pula di Amerika Serikat, yang sering dianggap sebagai kekuatan ekonomi terbesar dunia. Meskipun kekayaan negaranya sangat besar, masih terdapat orang-orang yang hidup di jalanan, tidak memiliki rumah, dan kesulitan memenuhi kebutuhan dasar mereka.

Dengan kata lain, kekayaan memang melimpah, tetapi distribusinya tidak merata dan tidak menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok setiap individu.

Menurut kritik ini, itulah salah satu kelemahan utama sistem kapitalisme. Sistem tersebut menghasilkan pertumbuhan produksi yang luar biasa dan peningkatan layanan yang besar, tetapi pada saat yang sama juga melahirkan kesenjangan sosial yang tajam dan konsentrasi kekayaan pada segelintir orang.

Bahkan pernah disebutkan bahwa kekayaan beberapa miliarder terbesar di dunia setara dengan total kekayaan miliaran manusia yang termasuk dalam separuh penduduk termiskin di dunia.

Inilah yang dianggap sebagai salah satu dampak utama kapitalisme terhadap umat manusia: produksi yang melimpah, barang dan jasa yang berlimpah, tetapi tetap disertai kemiskinan yang luas, baik di negara-negara kapitalis maupun di dunia secara keseluruhan. []

Sumber: الأستاذ أحمد القصص

About Author

Categories