@HalimSatu

Analisis Kegagalan ‘Pembunuhan’ FPI dan HTI

MUSTANIR.net – Setelah ketinggalan oleh aktivis FPI dan HTI, sekarang ketinggalan juga oleh Corona.

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS at-Taubah [9]: 111)

Seorang guru pernah berkata kepada saya: “BIla ingin hancurkan partai figur, ‘bunuh’ karakter figurnya. Bila ingin hancurkan partai kader, maka ‘bunuh’ organisasinya.” Maka, jangan heran bila HRS ‘dibunuh’ karakternya dengan kriminalisasi agar FPI dibenci. Adapun HTI yang notabene adalah partai kader, ‘dibunuh’ organisasinya agar tidak bisa melakukan kegiatan. Thariqah (metode) ‘pembunuhan’ keduanya sama, kesewenang-wenangan.

Namun, setelah beberapa tahun berlalu, kedua organisasi tersebut justru makin populer di tengah-tengah umat. Alih-alih dibenci, FPI justru semakin melekat di hati dengan aksi pasukan senyapnya.

Saya beberapa kali menjadi saksi langsung betapa sigapnya para prajurit FPI di lokasi-lokasi bencana. Militansi mereka dalam keterlibatan penanganan masalah kemanusiaan sangat luar biasa. Mereka mengolah berbagai framing jahat terhadap mereka menjadi bahan bakar untuk berkontribusi bagi umat, mengubah energi negatif menjadi energi positif.

Adapun HTI, yang di-framing sebagai organisasi terlarang, tampak tidak menyurutkan aktivitasnya. Banjir dukungan melalui berbagai medsos senantiasa mewarnai opini negeri. Tidak mungkin opini syariah tetap menggema di jagat maya bila tidak ada aktivitas tatsqif (pembinaan) dan tafaul ma’al ummah (interaksi dengan umat) dari para aktivisnya. Bila FPI memiliki prajurit, maka HTI memiliki profesor-profesor rekayasa sosial.

Kenapa ‘pembunuhan’ terhadap dua organisasi ini gagal?

Sebagaimana penanganan Corona, upaya ‘pembunuhan’ kedua organisasi ini juga dinilai sangat terlambat. HRS dan FPI sudah terlanjur dicintai, dan HTI sudah kadung didukung. Oleh siapa? Oleh umat. Buktinya apa?

  1. Terjadinya kanalisasi musuh FPI dan HTI. Bila tujuan ‘pembunuhan’ FPI dan HTI adalah merontokkan kredibilitasnya di mata umat, Maka mestinya umat sudah sejak dulu menangkapi aktivis FPI dan HTI. Alih-alih seperti itu, kedua organisasi ini hanya dimusuhi oleh penguasa dan kaki tangannya. Bagaimana dengan umat? Mereka ‘dingin’ saja. Bahkan kehadiran FPI dan HTI di tengah-tengah umat justru membuat umat ‘tenang’. Sebab, kedua organisasi ini selalu menghadirkan Islam dan solusinya. Bukan menghadirkan janji dan mengingkarinya.
  2. Setiap terjadi upaya ‘pembunuhan’ terhadap kedua organisasi ini, termasuk kepada beberapa aktivis yang dinilai penguasa sebagai ‘pentolannya’, selalu ada reaksi pembelaan dari umat yang bersifat masif. Artinya, musuh FPI dan HTI tidak bersama umat, tapi justru berhadapan dengan umat.
  3. Tidak seperti koruptor, penahanan atau kriminalisasi aktivis FPI dan HTI selalu banjir pembelaan. Alih-alih terhina, mereka justru menjadi lebih mulia dan mendapatkan banyak doa. Dukungan datang dari berbagai kalangan. Mulai dari pelajar, mahasiswa, ibu rumah tangga, pekerja, pengusaha, ulama, bahkan hingga para pengacara.

Mengapa si ‘pembunuh’ selalu terlambat?

Karena mereka digerakkan oleh uang. Adapun uang, bergerak sangat lambat. Menunggu cair lah, Belum ditransferlah, mesti diangsurlah, Dan hal-hal merepotkan lainnya. Apalagi, uang juga tidak dibawa mati.

Adapun aktivis FPI dan HTI, digerakkan oleh iman. Ia tidak memerlukan makelar, Tidak memerlukan cek, tidak memerlukan buku tabungan, tidak memerlukan catatan, Tidak memerlukan kartu dan mesin ATM. Pembayarannya langsung oleh Allah SWT, pencatatnya adalah para malaikat yang luar biasa akurat. Transaksi jual-beli mereka dengan Allah SWT, dan keberkahan di dunia itu baru ‘uang mukanya’ saja. Pahala yang luar biasa jauh lebih baik dari dunia dan isinya menanti mereka di surga.

Jadi, para anggota FPI dan HTI, saya fans berat kalian hanya ingin menyampaikan, saya iri kepada kalian. Berharap semoga suatu saat bisa seikhlas dan semilitan kalian. Berharap para santri dan anak-anak kami bisa setangguh kalian.

Aamiinn yaa mujibas saailiinn. []

Sumber: Tachta Rizqi Yuandri

Categories