Apakah Benar Bahwa Shalat Tarawih Lebih Dari 11 Rakaat Adalah Bid’ah

sholat-tarawih

Apakah Benar Bahwa Shalat Tarawih Lebih Dari 11 Rakaat Adalah Bid’ah

Lagi-lagi bilangan shalat tarawih. Iya, memang para ulama sejak dahulu sampai saat ini berbeda terkait jumlah bilangan shalat tarawih. Saya kira umat Islam saat ini sudah cukup dewasa dalam menyikapi perbedaan model seperti ini.

Tapi beberapa waktu lalu ada pertanyaan baru, “Katanya shalat tarawih lebih dari 11 rakaat itu bid’ah ya?” Katanya Nabi dan para shahabat dahulu belum pernah menambahi shalat tarawih lebih dari 11 rakaat.

Wah, dari awalnya hanya berbeda pendapat antara 20 dan 36 rakaat, malah sekarang lebih dari 11 rakaat jadi bid’ah.

Sebenarnya sih tak masalah mau berapa rakaat shalat tarawih. Mau tidak shalat tarawih juga tidak berdosa.

Ikhtilaf Bilangan Shalat Tarawih Terdahulu

Sepertinya masalah ini menjadi melebar, awalnya dahulu para ulama berbeda pendapat antara 20 rakaat dan 36 rakaat. Kita bisa baca tulisan Ibnu Rusyd (w. 595 H) bahwa perbedaan itu berkisar pada 20 dan 36 saja.

Ibnu Rusyd al-Qurthuby (w. 595 H) dalam kitab Bidayat al-Mujtahid menyebutkan:

واختلفوا في المختار من عدد الركعات التي يقوم بها الناس في رمضان: فاختار مالك في أحد قوليه، وأبو حنيفة، والشافعي، وأحمد، وداود: القيامبعشرين ركعة سوى الوتر، وذكر ابن القاسم عن مالك أنه كان يستحسنستا وثلاثين ركعة والوتر ثلاث.

Para ulama berbeda pendapat terkait berapakah bilangan shalat tarawih yang dipilih. Imam Malik dalam salah satu pendapatnya, Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal dan Daud ad-Dzahiri memilih bahwa shalat tarawih itu 20 rakaat. Sedangkan Ibnu al-Qasim meriwayatkan dari Imam Malik bahwa beliau memilih 36 rakaat tarawih. (Ibnu Rusyd al-Qurthuby w. 595 H, Bidayat al-Mujtahid, h. 1/ 219)

Dari pernyataan Ibnu Rusyd (w. 595 H) dalam kitab yang kita pelajari di Fakultas Syariah Universitas al-Imam Muhammad bin Saud, memang tak disebutkan ada yang berpendapat 11 rakaat.

Artinya mayoritas ulama tak ada yang memilih 11 rakaat sebagai jumlah bilangan shalat tarawih. Setelah itu malah ada yang menyatakan bahwa lebih dari 11 rakaat adalah bid’ah. Mulai kapan?

Setelah menelusuri literatur kitab para ulama, ternyata memang ada yang menganggap bahwa shalat tarawih lebih dari 11 rakaat itu tak ubahnya melebihkan jumlah bilangan shalat Istisqa’ dan shalat gerhana. Atau dengan bahasa lain, menambahi jumlah bilangan shalat tarawih lebih dari 11 adalah perkata bid’ah. Hal itu bisa ditemukan dalam tulisan Syeikh Nashiruddin al-Albani (w. 1421 H) dalam kitabnya Shalat at-Tarawih.

Beliau menyatakan:

فإذا استحضرنا في أذهاننا أن السنن الرواتب وغيرها كصلاة الاستسقاء والكسوف التزم النبي صلى الله عليه وسلم أيضا فيها جميعا عددا معينا من الركعات وكان هذا الالتزام دليلا مسلما عند العلماء على انه لا يجوز الزيادة عليها فكذلك صلاة التراويح لا يجوز الزيادة فيها على العدد المسنونلاشتراكها مع الصلوات المذكورات في التزامه صلى الله عليه وسلم عددا معينا فيها لا يزيد عليه

Jika kita angan-angan lebih jauh, shalat sunnah rawatib dan lainnya seperti shalat istisqa’ dan shalat gerhana itu Nabi menjalankannya dengan bilangan tertentu, dan hal in menandakan bahwa menambahi apa yang selalu dijalankan oleh Nabi itu tidak boleh hukumnya, maka sebagaimana menambahi jumlah bilangan shalat tarawih itu juga tidak boleh. (Muhammad Nashiruddin al-Albani, Shalat at-Tarawih, h. 32)

Lebih jauh lagi, beliau cukup percaya diri menyatakan bahwa pendapatnyalah yang sesuai dengan nash. Jika ada ikhtilaf ulama, maka harus dikembalikan kepada nash. Dan pendapat beliaulah yang sesuai nash itu.

أقول: فكما أن الاختلاف في هذه المسألة ونحوها لا يدل على عدم ورود نص ثابت فيها فكذلك الاختلاف في عدد ركعات التراويح لا يدل على عدم ورود نص ثابت فيه لأن الواقع أن النص وارد ثابت فيه فلا يجوز أن يرد النص بسبب الخلاف بل الواجب أن يزال الخلاف بالرجوع إلى النص

Adanya perbedaan pendapat dalam masalah ini bukanlah menjadi indikator tidak adanya nash tsabit (shahih) yang menjelaskannya. Karena nyatanya dalam masalah jumlah bilangan shalat tarawih ada nash yang tsabit (shahih), maka jika ada nash yang tsabit, harusnya perbedaan itu dihilangkan dengan kembali kepada nash (Muhammad Nashiruddin al-Albani, Shalat at-Tarawih, h. 28)

Artinya, beliau menganggap bahwa sebenarnya jumlah bilangan shalat tarawih itu sudah ada nash shahihnya. Maka semua harus tunduk kepada nash itu.

Dalil-Dalil yang Dipakai

Tentu pernyataan bahwa sudah ada nash yang shahih terkait jumlah bilangan shalat tarawih itu pernyataan pribadi dari al-Albani (w. 1421 H). Beliau bisa benar dan mungkin masih bisa salah dalam ijtihadnya.

Dalam menulis buku tersebut, memang beliau banyak mengambil dari tulisan al-Mubarakfuti (w. 1353 H) dalam kitab Tuhfat al-Ahwadzi dan as-Shan’ani (w. 1182 H) dalam kitabnya Subul as-Salam.

Sebelum membahas tepat tidaknya pernyataan dari al-Albani (w. 1421 H) tentang tidak boleh shalat tarawih lebih dari 11 rakaat, yang perlu dipahami di awal bahwa membahas pernyataan ulama lain, bukan berarti menjelek-jelekkannya, atau karena hasad terhadap ulama tersebut.

Menjadi hal yang lumrah dalam wacana ilmiyyah Islam, meneliti ulang tulisan ulama lain. Justru yang tidak lumrah itu mau mengkritik tapi tidak mau dikritik. Penulis disini hanya memaparkan sudut pandang lain dari ulama-ulama lain pula yang muktabarah atau diakui.

Al-Albani (w. 1420 H) dalam kitab Shalat at-Tarawih menuliskan point-point, yaitu:

  1. Shalat tarawih sunnahnya adalah berjamaah
  2. Nabi tidak pernah shalat tarawih lebih dari 11 rakaat
  3. Nabi tidak pernah shalat tarawih lebih dari 11 rakaat menandakan bahwa menambahi 11 rakaat itu tak boleh
  4. Umar bin Khattab dahulu shalat tarawih 11 rakaat
  5. Tak ada riwayat yang shahih bahwa shahabat dahulu shalat lebih dari 11 rakaat
  6. Shalat tarawih 11 rakaat adalah wajib

Dalil-dalil yang dipakai oleh al-Albani, secara umum dapat dipetakan menjadi dua: Selanjutnya klik

Categories