(eamhc.org)

Berbagi Peran dalam Memperjuangkan Islam

MUSTANIR.net – Perjuangan mengembalikan kejayaan Islam ini tentu membutuhkan proses yang panjang. Juga membutuhkan kesolidan dari kaum muslimin itu sendiri. Umat Nabi Muhammad ini diharapkan bisa bekerja sama dalam perjuangan di setiap lini.

Rasulullah pun telah mencontohkan bagaimana cara membangun masyarakat dari awal mula dakwah Islam. Masyarakat Mekkah yang dulu diacuhkan oleh Romawi dan Persia, berhasil melibas habis dua imperium adikuasa ini. Orang arab yang dulu dikenal ‘kampungan’ dan jauh dari peradaban, pada akhirnya muncul menjadi pemenang karena ada cahaya Islam di hati mereka.

Banyak faktor yang patut dijadikan pelajaran dalam hal ini. Namun, dalam kesempatan ini kita hanya akan menitikberatkan dalam masalah kolaborasi setiap muslim dalam perjuangan. Bagaimana para sahabat Rasulullah menggunakan potensi yang dimilikinya untuk kejayaan Islam. Andil Rasulullah pun sangat besar karena beliau selalu menempatkan dan menugaskan para sahabat sesuai dengan kelebihannya.

Kolaborasi Sahabat Rasulullah dalam Perjuangan

Syaikh Aidh al-Qorni dalam sebuah kicauan Twitter berkata, “Para sahabat berbagi peran dalam khidmah terhadap Islam. Ada yang bertugas untuk azan, ada yang jadi Imam, ada yang berfatwa, ada yang mengajar, ada yang berdakwah da nada yang berjihad. Mereka tidak berteori, tapi langsung mebuktikan dengan amal nyata.”  

Sudah menjadi sunnatullah bahwa setiap person memiliki kelebihan dan kekurangan. Tidak ada seorang manusia yang sempurna dan mampu melakukan segala hal dengan kelebihannya. Maka, dari itu Rasulullah mengetahui potensi-potensi sahabatnya dan menempatkan mereka sesuai dengan potensinya.

Sebagai contoh Rasulullah menunjuk Mush’ab bin Umair sebagai duta Islam pertama. Nabi memilih Mush’ab sebagai utusan ke Madinah untuk mengajarkan Islam kepada orang Anshar yang masuk Islam dan berbaiat di bukit Aqabah. Sekaligus, pemuda tampan yang dulu menjadi primadona di Mekkah ini bertugas mengajak penduduk Yatsrib kepada Islam serta mempersiapkan Madinah sebagai tempat hijrah yang agung.

Pertanyaannya adalah mengapa Rasul memilih Mush’ab  bin Umair? Padahal saat itu sebenarnya masih banyak tokoh yang lebih berpengaruh dan lebih dekat hubungan kekeluargaannya dengan Rasul. Nabi Muhammad mengetahui potensi Mush’ab yang memiliki bekal kearifan pikir, kemuliaan, kezuhudan, kejujuran dan kesungguhan hati.

Kalau kita tarik ke belakang, dulunya Mush’ab adalah primadona di masa jahiliyah. Setiap pertemuan dan perkumpulan yang diadakan pasti mengharapkan kedatangannya. Penampilannya yang anggun serta otaknya yang cerdas membuat orang yang bercakap dengannya tertegun dan mudah membukakan hati untuknya.

Kezuhudan dan kesungguhan hati Mush’ab pun tidak perlu diragukan karena mampu meninggalkan gemerlap dunia menuju cahaya Islam. Sekalipun ibunya menggunakan segala cara untuk menggoyahkan hatinya, Mush’ab tetap teguh dan menjawab, “Wahai Bunda, Saya ingin menyampaikan nasihat kepada bunda dan ananda merasa kasihan kepadamu. Saksikanlah bahwa tiada Ilah selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”

Inilah potensi yang dilihat Nabi dan apa yang diharapkan Rasul pun terwujud. Perangai yang halus dan ketenangan Mush’ab dalam berdakwah mampu meluluhkan tiga tokoh besar Yatsrib, Usaid bin Hudhair, Saad bin Muadz serta Saad bin Ubadah. Masuk Islamnya ketiga tokoh ini membuat warga Yastrib mendatangi Mush’ab dan mengucapkan kalimat syahadat. Allahu akbar! 

Contoh lain tentu kita tahu ketika orang-orang menanyakan kebaikan kepada Rasul, tetapi sahabat ini justru menanyakan tentang kejahatan karena takut terlibat di dalamnya. Ya, dia adalah Hudzaifah ibn Yaman. Sosok sahabat yang anti kemunafikan dan mampu melihat jejak dan gejala-gejalanya. Setelah Hudzaifah masuk Islam, ia selalu mendampingi Rasul dan selalu turut bersama-sama dalam setiap peperangan yang dipimpinnya, kecuali dalam Perang Badar.

Hudzaifah adalah sahabat yang diberi kepercayaan sebagai pemegang rahasia Rasulullah. Hingga ia digelari oleh para sahabat dengan ‘Shahibu Sirri Rasulullah’ (Pemegang Rahasia Rasulullah). Rasulullah memberikan  daftar nama orang munafik di Madinah. Hal itu dilakukan Rasul karena beberapa tantangan yang dihadapi kaum Muslimin. Yaitu hadirnya kaum Yahudi, munafik dan sekutu-sekutunya yang selalu membuat isu, fitnah dan muslihat. Hudzaifah menjadi agen intelijen pribadi Rasul untuk mencermati setiap gerak-gerik dan kegiatan mereka.

Mengapa Rasul memberikan tugas berat itu pada Hudzaifah? Karena Rasulullah menilai dalam pribadi Hudzaifah Ibnul Yaman terdapat tiga keistimewaan yang menonjol. Pertama, cerdas, sehingga dia dapat meloloskan diri dalam situasi yang serba sulit. Kedua, cepat tanggap, berpikir cepat, tepat dan jitu, yang dapat dilakukannya setiap diperlukan. Ketiga, cermat memegang rahasia, dan berdisiplin tinggi, sehingga tidak seorang pun dapat mengorek yang dirahasiakannya.

Bahkan ketika Rasul telah wafat, Amirul Mukminin Umar bin Khattab juga mengandalkan pendapat dan ketajaman pandangan Hudzaifah dalam memilih tokoh dan mengenalinya.

Begitulah cara Rasulullah menempatkan kelebihan sahabatnya. Tentu terlalu panjang lebar jika kita harus menuliskan semuanya di sini. Contoh masyhur lainnya adalah Khalid bin Walid yang ditugaskan Rasul sebagai panglima tertinggi terakhir pada perang Mu’tah, Zaid bin Tsabit yang diangkat menjadi sekretaris Rasulullah, Bilal bin Rabah dan Abdullah bin Umi Maktum sebagai muadzin Rasulullah dan lainnya.

Esensi penting dalam hal ini adalah para sahabat berjuang menegakkan kalimatullah sesuai dengan pos dan kelebihan masing-masing. Mereka saling bahu membahu dalam perjuangan, tidak saling mencela, tidak merasa lebih dari orang lain justru saling menguatkan. Terbukti Islam telah tersebar ke seluruh Jazirah Arab sebelum Rasul mangkat.

Kolaborasi hebat ini juga tidak berhenti di situ. Islam terus tersebar luas hingga menggerus dua kekuatan besar saat itu, Romawi dan Persia. Kepemimpinan Rasul dilanjutkan para khulafaurrasyidin dan generasi setelahnya.

Perjuangan di Abad ini

Tak terkecuali dengan perjuangan umat Islam abad ini. Tantangan yang dihadapi justru semakin kompleks dan beragam. Pasca runtuhnya khilafah Utsmaniyah, maka sudah menjadi kewajiban bagi setiap muslim untuk menegakkan kembali pemberlakuan syariat Islam di muka bumi. Karena tanpa adanya kepemimpinan dalam Islam, kaum Muslimin bagaikan anak yang kehilangan induknya. Teraniaya dan terdzalimi jika menjadi minoritas di suatu daerah, dan dikebiri haknya jika menjadi mayoritas.

Musuh-musuh Islam masuk dari berbagai lini. Sisi pendidikan, mereka mencoba menjauhkan umat Islam dari tarbiyah Islamiyah yang benar, sehingga generasi umat Islam jauh, bahkan cendrung abai dengan agamanya. Dari sisi politik mereka menjauhkan uma Islam dari politik Islam, ide khilafah dibungkam, upaya penydaran umat akan pentingnya syariat diberangus.

Dari sisi wala’ wal bara’ mereka sedikit demi sedikit mencoba mengikis kepedulian kaum muslimin terhadap saudara seagama dengan menyerukan fanatisme kebangsaan, dari sisi hiburan umat Islam disuguhkan hiburan-hiburan yang makruh bahkan menjurus haram. Ini menandakan bahwa umat Islam sedang terpuruk.

Maka sudah sepantasnya seluruh kaum muslimin bangkit dan berbagi peran dalam perjuangan. Tidak harus semua berkecimpung di garis depan. Di semua lini dibutuhkan tenaga-tenaga yang ikhlas dalam mengarungi lautan tantangan.

Ada yang bergerak di dunia pendidikan guna mempersiapkan generasi yang siap menempa kerasnya perjuangan. Ada yang berjuang di dunia politik untuk memperjuangkan hak kaum muslimin semaksimal mungkin. Ada yang berjuang di dunia kesehatan untuk membantu kaum muslimin yang terluka karena penindasan. Serta ada yang berada di medan pertempuran untuk membela darah umat Islam yang telah ditumpahkan dan lini perjuangan yang lainnya.

Orang yang diberi Allah harta yang berlimpah menggunakannya untuk fi sabilillah. Sedang hamba Allah yang tidak diberi keluasan rizki ikut andil perjuangan dengan tenaga dan pikirannya. Sebagaimana ketika Rasulullah menghasung para shahabat untuk infaq di jalan Allah semasa perang Tabuk. Maka para shahabat segera datang dengan apa yang mereka punyai. Ada yang datang dengan 1000 ekor unta beserta muatan di atasnya, ada yang datang dengan membawa seluruh hartanya, ada yang datang dengan separuh harta, ada yang datang dengan membawa satu mud kurma dan ada yang datang hanya dengan jiwa raganya.

Sekali lagi para sahabat tidak saling mencela dan justru saling menguatkan. Inilah teladan yang patut ditiru dari para pendahulu kita.

‘Pekerjaan’ umat Islam saat ini justru lebih berat karena tantangan yang lebih kompleks. Dr Abdullah Nashih Ulwan dalam kitabnya Asy-Syabab Al-Muslimu fii Muwaajahati At-Tahaddiyati menuliskan ada lima tantangan yang harus dihadapi, yaitu tantangan syetan, diri sendiri dan hawa nafsu, tantangan ghazwul fikri, tantangan krisis moral, tantangan pemerintah sekuler dan tantangan pesimisme terhadap amal Islami.

Untuk menghadapi semua tantangan itu selain dengan membekali diri dengan ilmu dan kemampuan juga diperlukan pembagian peran dalam perjuangan. Setiap muslim berjuang di lini masing-masing sesuai dengan kelebihannya dan tidak saling mencela.

Juga yang menjadi catatan di sini adalah hendaknya setiap  perjuangan dilandasi dengan niat yang lurus. Karena tanpa adanya niat yang lurus perjuangan itu akan menjadi sia-sia bagi dirinya sendiri dan umumnya umat Islam. Bagi diri sendiri perjuangan tanpa kelurusan niat justru berbuah dosa. Seandainya di dalam proses perjuangan ia merasa telah melenceng karena godaan harta dan dunia, segeralah sadar dan kembali meluruskan niat.

Sedangkan bagi umat Islam, perjuangan tanpa niat yang lurus dapat menghambat datangnya pertolongan Allah dan ditundanya kemenangan. Maka, dari itu bangkitlah wahai umat Islam. Berjuanglah sesuai dengan apa yang mampu kita kerjakan. Berperanlah sesuai dengan apa yang kita kuasai. Janganlah mencela perjuangan saudara kita selama masih dalam koridor syariat. Dan sertakan selalu niat yang lurus agar perjuangan ini menelurkan pahala untuk diri dan kemenangan untuk umat Islam. Wallahu A’lam bi shawab.

Sumber: Kiblat

Categories