Gaza yang Ditinggalkan untuk Mati!

MUSTANIR.net – Sudah 5 bulan genosida Gaza berlangsung. Sudah sekitar 40.000 nyawa melayang dibantai entitas penjajah Yahudi laknatullahi alayhim. Dan Palestina pun ditinggalkan sendiri untuk dibantai tanpa bantuan apa pun yang berarti. Tiap hari hanya menunggu kematian antara dibom atau kelaparan atau sakit tanpa pertolongan.

Setiap muslim memikul dosa atas pembantaian di Palestina. Ya, setiap muslim tanpa kecuali. Tidak terkecuali para penguasa di negeri-negeri muslim maupun rakyatnya. Mengapa? Karena telah membiarkan genosida itu terjadi di depan mata. Sampai-sampai ada penceramah viral di TikTok membuat pernyataan yang sangat menyakitkan dengan mengatakan bahwa Palestina aman-aman saja, tak seperti berita yang ada. Ya Allah, memang bukan mata yang buta tapi hatilah yang buta.

Dosa itu terus mengalir hingga Palestina terbebaskan dari pendudukan entitas penjajah Yahudi laknatullahi alayhim. Kecuali bagi mereka yang telah berusaha maksimal sesuai kemampuan untuk membela Palestina. Khususnya dengan usaha riil membantu dengan tenaga, pikiran, dan opini di sosmed untuk pembebasan Palestina. Bukan “merdeka” ala PBB. Tapi merdeka dalam naungan Islam.

Saat ini Palestina, khususnya Gaza, benar benar ditinggalkan dalam keadaan hancur lebur tanpa bantuan berarti. Diblokade oleh rezim antek penjajah Mesir, Yordania, dan Lebanon sekaligus. Agar muslim Gaza dibantai tanpa pertolongan dalam keadaan terluka, dan lapar tanpa fasilitas rumah sakit, karena semua sudah dihancurkan penjajah. Tanpa bantuan pangan yang berarti. Lapar, haus, sakit, terluka, dikepung, diblokade, dan terus dibom hingga hancur lebur. Belum pernah ada pembantaian sekejam, sebrutal, sesadis itu dalam sejarah.

Sementara para penguasa muslim di sekitar 50 negara bentukan penjajah seperti Saudi, Mesir, Yordania, UEA, dan lain-lain malah mendukung pembantaian itu. Yang lain bisu tanpa suara. Sisanya paling-paling hanya mengecam tanpa tindakan apa pun.

Padahal Allah telah berfirman dalam surah al-Anfal ayat 72:

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَهَاجَرُوا۟ وَجَٰهَدُوا۟ بِأَمْوَٰلِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَٱلَّذِينَ ءَاوَوا۟ وَّنَصَرُوٓا۟ أُو۟لَٰٓئِكَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۚ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَلَمْ يُهَاجِرُوا۟ مَا لَكُم مِّن وَلَٰيَتِهِم مِّن شَىْءٍ حَتَّىٰ يُهَاجِرُوا۟ ۚ وَإِنِ ٱسْتَنصَرُوكُمْ فِى ٱلدِّينِ فَعَلَيْكُمُ ٱلنَّصْرُ إِلَّا عَلَىٰ قَوْمٍۭ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُم مِّيثَٰقٌ ۗ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertoIongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikit pun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”

Tapi para penguasa yang mengaku muslim itu berdiam diri seolah tuli atau buta. Mereka, para penguasa muslim jika dikumpulkan, punya jutaan tentara dan senjata canggih yang sanggup membinasakan penjajah keji itu. Namun mereka malah mendukung pembantaian yang terjadi di depan hidung mereka.

Sungguh, Allah pasti menghisap mereka dengan berat. Allah pasti menghukum para penguasa pengkhianat antek penjajah itu dengan seberat-beratnya. Bukan hanya di akhirat, bahkan di dunia karena kezaliman yang besar itu.

Memang tak ada satu pun institusi yang akan membela dan membebaskan Palestina kecuali khilafah. Khilafahlah yang telah membebaskan Palestina pertama kali di masa Umar bin Khattab raḍiyallāhu ‘anhu. Dan membebaskan ke dua kali dari penjajah pasukan salib pada masa panglima Sholahuddin al-Ayyubi rahimahullah. Dan khilafah pula yang akan membebaskan nya ke tiga kalinya insya Allah.

قَرَأْتُ بِخَطِّ أَبِي الْحُسَيْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الرَّازِيِّ ، أنا أَبُو الْحَسَنِ أَحْمَدُ بْنُ عُمَيْرِ بْنِ جَوْصَا ، أَنْبَأَنَا أَبُو عَامِرٍ مُوسَى بْنُ عَامِرٍ ، أَنْبَأَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ ، أَنْبَأَنَا مَرْوَانُ بْنُ جَنَاحٍ ، عَنْ يُونُسَ بْنَ مَيْسَرَةَ بْنِ حَلْبَسٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” هَذَا الأَمْرُ كَائِنٌ بَعْدِي بِالْمَدِينَةِ ، ثُمَّ بِالشَّامِ ، ثُمَّ بِالْجَزِيرَةِ ، ثُمَّ بِالْعِرَاقِ ، ثُمَّ بِالْمَدِينَةِ ، ثُمَّ بِبَيْتِ الْمَقْدِسِ ، فَإِذَا كَانَ بِبَيْتِ الْمَقْدِسِ فَثَمَّ عُقْرُ دَارِهَا ، وَلَنْ يُخْرِجَهَا قَوْمٌ فَتَعُودَ إِلَيْهِمْ أَبَدًا ” . يَعْنِي بِقَوْلِهِ بِالْجَزِيرَةِ : أَمْرٌ مَرْوَانَ بْنَ مُحَمَّدٍ الْحَمَّارَ ، وَبِقَوْلِهِ بِالْمَدِينَةِ : بَعْدَ الْعِرَاقِ ، يَعْنِي بِهِ الْمَهْدِيَّ يَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ ، ثُمَّ يَنْتَقِلُ إِلَى بَيْتِ الْمَقْدِسِ وَبِهَا يُحَاصِرُهُ الدَّجَّالُ ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ

“Perkara ini (khilafah) akan ada sesudahku di Madinah (Yatsrib), lalu di Syam, lalu di Jazirah, lalu di Irak, lalu di Madinah (Konstantinopel), lalu di al-Quds (Baitul Maqdis). Jika ia ada di al-Quds, pusat negerinya akan ada di sana dan siapa pun yang memaksanya (ibu kota) keluar dari sana (al-Quds), ia tak akan kembali ke sana selamanya.”

Hadis ini dikeluarkan oleh Ibnu Asakir dalam kitab tarikhnya (Tarikh Dimasyq, 1/185) dan Nu’aim bin Hammad dalam kitabnya (al-Fitan, 276). Jika kita perhatikan sanad hadis tersebut, kita bisa menyimpulkan: (1) rawi hadis tersebut terdiri dari rawi tsiqah, shaduq, dan ada yang disebut mudallis; dan (2) sanadnya mursal, yakni seorang tabi’in senior mengatakan bahwa Rasulullah bersabda demikian. (Demikian penjelasan Ustadz Yuana Ryan Tresna)

Mereka, antek-antek penjajah boleh saja meninggalkan Palestina. Membiarkan Gaza diblokade untuk dibantai oleh penjajah tanpa pertolongan. Namun Allah subḥānahu wa taʿālā tak akan membiarkan hamba hamba-Nya tanpa pertolongan. Dan orang-orang beriman pasti akan tetap membela dengan segenap daya upaya yang ada. Hingga hari kemenangan itu tiba dengan izin Allah subḥānahu wa taʿālā.

Wallahu a’lam. []

Sumber: Abu Zaid

About Author

Categories