Hakikat Hamba Allah

Hakikat Hamba Allah

Diriwayatkan bahwa manakala Rasulullah saw. sampai ke derajat dan tingkat yang paling tinggi pada malam Mi’raj, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman kepada beliau, ‘Duhai Muhammad, dengan apa Aku memuliakan kamu?’ Rasul saw. menjawab, ‘Tuhanku, (Engkau memuliakan aku) saat Engkau menisbatkan aku kepada Diri-Mu sebagai hamba (hamba-Mu).’ Lalu turunlah ayat yang berbunyi: SubhanalLadzi asra bi ‘abdihi layla…” (Al-Khazin, Lubab at-Ta’wil fi Ma’ani at-Tanzil, 4/227). .

Demikianlah, bagi Baginda Nabi saw., status sebagai seorang hamba Allah SWT itulah yang menunjukkan pemuliaan, pengagungan dan penghormatan Allah SWT kepada beliau. Mengapa demikian? Karena penghambaan (ibadah) identik dengan ketaatan (ath-tha’ah), kepatuhan (al-inqiyad) dan ketundukan (al-khudhu’) kepada Zat yang disembah (Al-Alusi, Ruh al-Ma’ani, 19/133). Dengan kata lain, dalam pandangan Nabi saw., keagungan, kemuliaan dan kehormatan seseorang terletak pada ketaatan, kepatuhan dan tundukannya kepada Allah SWT sebagai seorang hamba. .

Terkait penghambaan pula, Imam Ja’far ash-Shadiq, sebagaimana dikutip oleh Imam al-Ghzali dalam Al-Ihya’, juga oleh Syaikh Abdul Qadir Jilani dalam Fath ar-Rabbani, menyatakan bahwa penghambaan (ibadah/ubudiah) sejati mengharuskan tiga perkara:

(1) Seorang hamba menyadari bahwa apa saja yang ada pada dirinya bukan miliknya, tetapi milik Tuannya (Allah SWT);

(2) Seorang hamba senantiasa taat dan tunduk tanpa membantah sedikit pun kepada Tuannya (Allah SWT) dalam perkara apa saja yang Dia titahkan kepada dirinya;

(3) Seorang hamba tidak membuat aturan sendiri selain aturan yang telah Tuannya (Allah SWT) tetapkan untuk dirinya. Inilah bentuk penghambaan sejati seorang hamba Allah SWT.

Categories