Hasil Sudah Ditentukan, Hanya Butuh Partisipasi agar Pemilu Punya Legitimasi?

MUSTANIR.net – “Saya enggak perintah bapak dan ibu untuk nyoblos siapa presiden dan wapres, terserah! Untuk partai juga terserah, yang penting bapak dan ibu nyoblos. Jangan sampai golput”

[Kaesang Pangarep, Ketua Umum PSI]

Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep menghadiri perayaan ulang tahun ke-9 PSI di Kota Madiun, Jawa Timur, Minggu (3/12/2023) malam. Dalam acara tersebut, Kaesang menghimbau warga Madiun untuk ikut nyoblos, terserah nyoblos partai atau capres apa.

Sebenarnya, seruan Kaesang ini mirip dengan seruan lain, yang substansinya sama. Seolah, seruan yang bijak, padahal mengandung racun. Misalnya:

“Jangan golput. Kalau golput, orang jahat akan menguasai politik. Pilihlah yang terbaik di antara yang jelek.”

Pernyataan ini secara logika mengandung beberapa cacat berfikir, yaitu:

Pertama, seruan jangan golput.

Seolah yang menyebabkan negeri ini rusak adalah karena tindakan orang yang golput. Padahal negeri ini rusak karena politisi busuk, dan politisi busuk itu bisa berkuasa karena sistem demokrasi yang busuk pula.

Dalam sistem demokrasi, tak penting orang jujur atau pembohong. Tak penting paham agama atau jahil. Yang penting punya uang, maka berkuasa.

Setelah berkuasa, para politisi akan korupsi merusak negeri, untuk mengembalikan modal politik dan keuntungan yang diinginkan. Lingkaran setan ini, selalu terjadi dari satu musim pemilu menuju musim pemilu lainnya.

Jadi, yang salah bukan golput. Orang golput itu tidak bisa menyebabkan korupsi. Yang korup itu politisi, jangan salahkan rakyat yang tidak berdosa dalam masalah ini.

Ke dua, seolah masih ada pilihan yang baik di antara yang buruk.

Sebuah pengakuan yang menyedihkan, mengaku pilihan yang ada ini semuanya buruk.

Padahal problemnya bukan hanya politisi tetapi juga sistem. Sudahlah politisi buruk, sistemnya buruk pula. Lalu, apa yang bisa diharapkan?

Jadi, seruan ikut memilih di antara yang buruk adalah seruan keputusasaan. Bagaimana mungkin kita akan optimis menatap masa depan, jika pilihan yang diambil didasari rasa pesimis?

Ke tiga, seruan untuk memilih meskipun di antara yang buruk ini adalah pelecehan terhadap akal sehat.

Seolah tak ada jalan perjuangan selain ikut pemilu. Dahulu, saat republik ini belum berdiri, para pejuang tetap berjuang, meski tanpa melalui pemilu.

Dan hari ini, jika tujuan perjuangan adalah meraih ridlo Allah subḥānahu wa taʿālā, menerapkan hukum Allah subḥānahu wa taʿālā, maka dakwah adalan jalan perjuangannya. Dakwah yang mencontoh Nabi ﷺ, bukan dakwah yang mencontoh Yahudi.

Karena itu, hari ini ada jalan perjuangan dakwah untuk menegakkan khilāfah. Jalan ini adalah pilihan terbaik di antara yang terbaik, karena tidak terkontaminasi oleh demokrasi dan sekulerisme.

Kembali kepada logika Kaesang, meminta memilih, meski tidak nyoblos PSI atau Gibran sebagai capresnya. Kenapa demikian? Bukanlah itu merugikan? Bagaimana jika yang nyoblos tidak milih PSI dan Gibran?

Nah, di sinilah letak potensi kecurangan. Dalam pemilu curang, yang dibutuhkan dari rakyat itu hanya partisipasi, sedangkan hasil pemilu sudah didesain secara rapih. Kelak, jika hasil pemilu tak sesuai, maka yang ikut nyoblos tidak bisa protes.

Akan ada narasi kalau yang kalah biasanya tuding lawan curang. Yang ikut nyoblos, tak bisa ikut menuduh curang, karena dia juga ikut milih dan kalah.

Tapi berbeda jika semua tidak ikut nyoblos. Maka tidak akan ada pemilu curang. Suara rakyat tidak bisa dijadikan legitimasi untuk berkuasa, dengan mendesain pemilu curang.

Hanya yang Golput yang Berhak Menyatakan Pemilu Curang

Mahfud MD saat menjadi Ketua MK, menyatakan bahwa umumnya semua pemilu itu curang. Hal ini sejalan dengan tugas MK yang  tidak hanya mengadili pemilu atau pilpres curang, melainkan memeriksa adakah korelasi kecurangan pemilu dengan hasil kemenangan.

Misalnya jika ada 3 paslon, yang menang paslon pertama dengan suara 70%, paslon ke dua 20% dan paslon ke tiga 10%. Lalu, paslon ke dua menggugat ke MK karena merasa paslon nomor pertama curang. Namun, kecurangan itu hanya bisa menambah 10% suara paslon ke dua.

Kalaupun dikabulkan, suara paslon ke dua bertambah menjadi 30% dan suara paslon pertama berkurang menjadi 60%. Nah, yang begini ini adalah contoh kecurangan yang tidak memengaruhi hasil pemilu, dan pasti gugatan akan ditolak oleh MK.

Ketika gugatan ditolak, bukan berarti tidak ada kecurangan. Kecurangan tetap ada, tetapi tidak memengaruhi hasil akhir kemenangan.

Dalam pemilu, secara psikologi, sosiologi, dan politis, biasanya yang kalah akan tuding lawan curang. Sementara yang curang, kalau sudah menang pasti akan bungkam.

Karena itu, apa pun hasil pemilu atau pilpres, pasti akan ada yang menuduh curang. Pernyataan tuduhan curang ini tidak bernilai, jika disampaikan oleh kontestan atau pemilih yang ikut nyoblos.

Yang nyoblos biasanya juga akan menuduh jagoan lawan curang, kalau jagoannya kalah. Sementara itu jika jagoannya menang, meskipun curang dilakukan di depan matanya, dia akan diam.

Karena itulah, yang punya hak dan kewenangan untuk menyatakan pemilu atau pilpres yang curang itu hanya mereka yang golput, didasarkan oleh beberapa alasan:

Pertama, karena ada keyakinan pemilu atau pilpres akan curang, didasari pada preseden pemilu sebelumnya dan gelagat pemilu saat ini (misalnya putusan MK no. 90 dan perubahan format  debat pilpres), maka golput adalah satu-satunya cara untuk melawan pilpres curang.

Kenapa? Karena ikut dalam pilpres yang diyakini curang hanya akan dijadikan legitimasi kecurangan oleh otoritas KPU.

Kecurangan akan diabaikan, saat partisipasi pemilu tinggi. Baru menjadi masalah dan akan terkoreksi jika partisipasi pemilu rendah, bahkan mendekati angka nol.

Ke dua, orang yang golput akan mudah menyampaikan argumentasi pemilu atau pilpres curang. Karena tidak punya kepentingan dan tidak terlibat dalam kontestasi.

Ada pun mereka yang terlibat, kalau bersuara tentang kecurangan itu hanya karena jagoan mereka kalah. Kalau menang, mereka pasti akan puji-puji KPU sudah benar dan pemilu sudah sesuai UU.

Ke tiga, yang golput sejak awal tidak akan menjadi bagian dari timses atau pendukung. Sehingga setiap kritikan terhadap pemilu curang lebih objektif ketimbang dari kontestan pemilu.

Misalnya, kelompok Ganjar-Mahfud serang Prabowo-Gibran curang. Tapi begitu ada fakta Walikota Sorong bikin pakta integritas dukung Ganjar, timses Ganjar-Mahfud kelabakan.

Jadi, jika nanti hasil pemilu dan pilpres tidak sesuai harapan, jangan pernah berteriak pilpres curang. Kecuali yang golput, karena pilihan golput sejak awal adalah bentuk perlawanan terhadap pemilu curang. []

Sumber: Ahmad Khozinudin

About Author

Categories