Indonesia (Belum) Merdeka

MUSTANIR.net – Hari kemerdekaan yang selalu diperingati setiap tahun tidak memberikan kesan yang sangat berarti untuk kemerdekaan Indonesia. Peringatan kemerdekaan hari ini hanya berupa seremonial belaka. Sebuah candu yang memberikan persepsi kalau kita sudah merdeka dan patut disyukuri. Padahal, semua peringatan ini akan sia-sia belaka karena kita belum merdeka secara penuh. Seremonial tahunan ini hanya memalingkan kita dari kondisi kita yang sedang terjajah.

Hari-hari yang dilalui semakin menambah tetesan air mata di bumi pertiwi. Jelas kita masih dijajah, kebijakan ekonomi masih merujuk pada kapitalisme, tragisnya hukum kita pun masih didominasi oleh hukum-hukum kolonial. Akibatnya kemiskinan menjadi ‘penyakit’ umum rakyat. Negara pun gagal membebaskan rakyatnya dari kebodohan. Rakyat juga masih belum aman. Pembunuhan, penganiayaan, pemerkosaan, pencabulan, dan kriminalitas menjadi menu harian rakyat negeri ini.

Bukan hanya tak aman dari sesama, rakyat pun tak aman dari penguasa mereka. Hubungan rakyat dan penguasa bagaikan antar musuh. Tanah rakyat digusur atas nama pembangunan. Pedagang kaki lima digusur di sana-sini dengan alasan penertiban. Pengusaha tak aman dengan banyaknya kutipan liar dan kewajiban suap di sana-sini. Para ulama dan aktivis Islam juga tak aman menyerukan kebenaran Islam. Mereka bisa ‘diculik’ aparat kapan saja dan dituduh sebagai teroris, sering tanpa alasan yang jelas. Menyuarakan kebenaran dituduh radikalis, intoleran, ekstremis hingga bibit teroris.

Sehingga nyatalah bahwa Indonesia belum merdeka secara non-fisik. Karena ternyata penjajah itu masih ada, yakni kekuatan asing dan aseng yang menjajah negeri ini dengan jajahan gaya baru yakni neo-imperialisme yakni memanfaatkan kaki tangannya para komprador sebagai pengkhianat bangsa yang telah menjual berbagai macam aset negara.

Karena itu, kunci agar kita benar-benar bangkit dari penjajahan non-fisik yang menimpa bumi pertiwi adalah dengan bersatu mewujudkan kemerdekaan yang hakiki, dengan melepaskan diri dari: (1) Sistem kapitalisme-sekuler dalam segala bidang; (2) Para penguasa dan politisi yang menjadi kaki tangan negara-negara kapitalis. Selanjutnya kita harus bersatu untuk mewujudkan kemerdekaan hakiki.

Kemerdekaan yang hakiki merupakan kemerdekaan yang dimulai dari bangkitnya pemikiran, kemerdekaan tersebut telah dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ kepada para sahabatnya. Orang-orang Qurasy Makkah yang awalnya merupakan bangsa jahiliah, tetapi setelah mendapatkan dakwah Rasulullah ﷺ bisa menjadi bangsa yang menguasai dunia. Orang-orang Quraisy telah mendapatkan kemerdekaan yang hakiki, yakni kemerdekaan yang diawali dengan bangkitnya pemikiran, sehingga orang-orang Quraisy memiliki ketinggian taraf berfikir. Kebangkitan tersebut telah diakui di dunia Barat dengan terwujudnya peradaban Islam, yakni peradaban terbesar di dunia.

Peradaban Islam sanggup menciptakan negara adidaya dunia (super-state) terbentang dari satu samudera ke samudera yang lain; dari iklim utara hingga tropis dengan ratusan juta orang di dalamnya, dengan perbedaan kepercayaan dan suku (Carleton: Technology, Business and Our Way of Life: What’s Next).

Peradaban Islam telah memberikan rahmat bagi seluruh alam, Maha Benar Allah subḥānahu wa taʿālā yang berfirman:

“Tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad ﷺ) melainkan agar menjadi rahmat bagi alam semesta” (QS al-Anbiya’ [21]: 107).

Menurut Kurnia (2002, hlm. 5), pengertian rahmatan lil ‘âlamîn itu terwujud dalam realitas kehidupan tatkala Muhammad Rasulullah ﷺ mengimplementasikan seluruh risalah yang dia bawa sebagai rasul utusan Allah subḥānahu wa taʿālā. Lalu bagaimana jika Rasul telah wafat? Rahmat bagi seluruh alam itu akan muncul manakala kaum muslimin mengimplementasikan apa yang telah beliau bawa, yakni risalah syari’at Islam dengan sepenuh keyakinan dan pemahaman yang bersumber pada al-Qur’an dan as-sunnah.

Manakala umat Islam telah jauh dari kedua sumber tersebut (beserta sumber hukum yang lahir dari keduanya berupa ijma’ sahabat dan qiyas syar’iyyah) dan telah hilang pemahamannya terhadap syariah Islam, maka tidak mungkin umat ini menjadi rahmat bagi seluruh alam. Justru dunia rugi lantaran kelemahan pemahaman kaum muslimin terhadap syariah Islam. Oleh kerena itu, berbagai upaya untuk menutupi syariah Islam dan upaya menghambat serta menentang diterapkannya syariat Islam pada hakikatnya adalah menutup diri dan menghalangi rahmat bagi seluruh alam.

Maka dari itu, pentingnya semua elemen umat ini mulai dari ulama, intelektual, pengusaha, pemuda, mahasiswa, santri dan pelajar untuk bersatu dalam rangka mewujudkan kemerdekaan yang hakiki di bumi pertiwi. Kita harus bahu membahu khususnya peran para pemuda dan mahasiswa untuk melanjutkan estafet perjuangan para leluhur yang telah mengusir penjajah secara fisik, bukan malah melanjutkan estafet penjajahan.

Kita teruskan perjuangan para leluhur untuk menuju kemerdekaan membebaskan negeri ini dari neo-imperialisme. Kita harus melakukan usaha mencerdaskan di tengah-tengah umat untuk segera menerapkan aturan-aturan Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Karena hanya dengan syariah Islamlah, kita dapat lepas dari aturan-aturan penjajahan. Hanya dengan syariah Islam pula kita bisa meraih kemerdekaan yang hakiki. sehingga ketika Islam diterapkan akan terwujudlah Islam rahmatan lil ‘âlamîn.

Wallahu a’lam bi ash-shawab. []

Sumber: Tatang Hidayat – Ketua Badan Eksekutif Koordinator Daerah Badan Koordinasi Lembaga Dakwah Kampus (BKLDK) Kota Bandung

About Author

2 thoughts on “Indonesia (Belum) Merdeka

  1. É muito difícil ler os e-mails de outras pessoas no computador sem saber a senha. Mas mesmo que o Gmail tenha alta segurança, as pessoas sabem como invadir secretamente a conta do Gmail. Compartilharemos alguns artigos sobre crackear o Gmail, hackear qualquer conta do Gmail secretamente sem saber uma palavra.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories