(BNPB)

Indonesia Takut Lockdown, Rakyat Dikorbankan

MUSTANIR.net – Corona, saat ini masih menjadi topik panas pembicaraan dunia. Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah meningkatkan status corona atau Covid-19 secara global menjadi Pandemi pada Kamis (12/3). Pemerintah Indonesia diharapkan ikut meningkatkan kewaspadaan terutama dalam hal mencegah penyebaran kasus. Konteks pandemi mengisyaratkan kepada seluruh dunia bahwa penyakit Covid-19 bisa menyerang negara mana saja. Terlebih virus ini merupakan virus baru yang belum diketahui karakternya.

Menanggapi hal ini beberapa negara menerapkan status lockdown untuk negaranya, semisal Malaysia yang menyusul China, Italia, Denmark, Irlandia, El Salvador, Polandia, Spanyol, Selandia Baru, Filipina, Lebanon, Prancis, dan Venezuela. Hal ini, menjadi pertimbangan yang diambil untuk benar-benar bisa meminimalisir penularan dari corona. Harapannya, pasien yang ditemukan sebagai pasien positif Covid-19 atau yang statusnya masih Orang Dalam Pemantauan (ODP) hingga Pasien Dalam Pengawasan (PDP) bisa tertangani oleh fasilitas medis. Sehingga mereka bisa menjalani proses terapi hingga dinyatakan sembuh.

Menurut data Worldometers, kasus infeksi yang disebabkan virus corona jenis baru (Covid-19) terus meningkat yakni mencapai angka 182.457 kasus pada Selasa (17/3/2020). Di mana total kematian sudah sebanyak 7.158 orang dan pasien sembuh sebanyak 79.211 orang. Data ini pun, menjadikan banyak orang yang menyimpulkan jika sebenarnya virus corona kemungkinan besar lebih bisa sembuh daripada menyebabkan kematian. Yang perlu digarisbawahi, semua yang dinyatakan sembuh adalah mereka yang dirawat di RS. Pertanyaannya, seberapa siap fasilitas negeri ini untuk menangani corona?

Seperti kita lihat bagaimana diumumkan jika pasien corona 01,02,03 di Indonesia dinyatakan sembuh. Meski, sebenanarnya masih terlalu dini melakukan siaran pers dikarenakan wabah ini masih terjadi dan belum berlalu. Masih ada kemungkinan mengalami re-infection. Namun, dipercaya oleh-oleh jamu Jokowi sudah sangat cukup untuk mencegah terjadinya infeksi kembali. Semoga ini bukan candaan. Karena candaan ini akan sangat mengkhawatirkan bagi mereka yang tidak faham.

Presiden Jokowi juga mengumumkan jika Indonesia belum memilih untuk melakukan lockdown. Meskipun memang pilihan lockdown sebenarnya sudah sangat terlambat. Harusnya hal ini sudah dilakukan Indonesia sejak Januari lalu ketika di China mewabah corona. Dengan lockdown berupa larangan tegas masuknya WNA ke Indonesia, termasuk melarang tenaga kerja China kembali ke Indonesia. Padahal wabah ini di daerah sumber asalnya belum dinyatakan benar-benar teratasi. Namun, jajaran pemerintah nampaknya masih sangat slowdown. Menganggap hal ini baik-baik saja.

Padahal, virus corona begitu cepat menyebar tanpa bisa dicegah bahkan banyak riset yang menyatakan bahwa penularan bisa terjadi pada penderita tanpa gejala klinis (asimtomatik). Maka seharusnya segala upaya preventif harus dilakukan untuk mencegah penularan serta bisa mendiagnosanya secara tepat. Sayangya alat diagnostik yang ada saat ini justru sering false-positive. Ada beberapa kasus yang sangat jelas mengarah pada infeksi Covid-19, didiagnosa positif baru setelah 4 kali pemeriksaan. Artinya apa? Jumlah kasus sebenarnya kasus corona dipastikan jauh lebih banyak dari yang sudah terdata.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan jika penanganan Covid-19 harus secara komprehensif dilakukan oleh setiap negara. Menurutnya, penerapan pembatasan sosial atau social distancing tidaklah cukup dalam mengatasi penularan penyakit yang disebabkan oleh virus corona, hal tersebut ia sampaikan kepada media pada Senin (16/03/2020). (tirto.id)

Tedros juga mengatakan penerapan social distancing seperti meliburkan sekolah dan pembatalan kegiatan olahraga untuk mengendalikan penyebaran virus corona belakangan meningkat. Tindakan pembatasan sosial dapat membantu mengurangi penularan dan memungkinkan sistem kesehatan untuk mengatasinya. Namun, itu saja tidak cukup untuk menumpas pandemi ini. Cara paling efektif untuk mencegah infeksi dan menyelamatkan jiwa adalah harus melakukan pendekatan secara komprehensif dengan memutus rantai penularan. Oleh karena itu, melakukan pemeriksaan dan karantina perlu dilakukan.

Jadi, menurut sistem keilmuan saat ini konsep lockdown sejatinya adalah konsep yang harus dipilih untuk menanggulangi pandemi Covid-19. Namun, mengapa di Indonesia justru menjadi perdebatan? Bahkan, sebagian besar rakyat menolak konsep ini. Padahal nyawa mereka menjadi taruhannya. Terutama mereka yang memiliki penyakit bawaan. Penolakan banyak terjadi dari masyarakt yang memiliki penghasilan tidak tetap. Wajar, karena selama ini saja mereka harus banting tulang untuk bertahan hidup, terlebih bagaimana jika lockdown ditetapkan. Siapa yang akan menjamin kehidupan mereka? Jelas jawabnya tidak ada. Sebab pemerintah Indonesia di bawah demokrasi selama ini hanya sebagai regulator, tak mau menanggung beban rakyat.

Di sisi lain, tentu Indonesia tak siap menghadapi situasi ini. Pengeluaran pasti membengkak. Belum lagi beban utang yang kian melambung. Hingga Januari 2020, utang Indonesia mencapai 410,8 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 5.612 triliun. Dan kini, rupiah makin melemah menembus angka Rp 15.000. Bukankah ini pertanda kas negara sedang krisis? Miris, Indonesia yang kaya raya nyatanya saat ini sedang diserang penyakit yang cukup komplikatif. Jangan sampai corona mempercepat ajalnya.

Butuh obat yang ampuh untuk Indonesia. Sampai kapankah negeri yang mayoritas muslim ini harus kehilangan arah di bawah kapitalis-demokrasi. Indonesia harusnya berani mengambil Islam sebagai pilihan tuntas untuk menyelesaikan setiap problematika termasuk wabah corona. Karena Islam ada bukan untuk satu umat semata. Namun Islam adalah Rahmat bagi seluruh alam raya. Maka ketika Islam hadir maka Islam akan memberikan solusi untuk semua permasalahan manusia, tak membedakan muslim ataukah non-muslim.

Lockdown adalah konsep yang sudah dikenal di dalam Islam sebagai upaya menanggulani penyakit yang sedang mewabah. Sebagaimana hadist, “Jika kalian mendengar tentang wabah-wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika terjadi wabah di suatu tempat kalian berada, maka janganlah kalian meninggalkan tempat itu” (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim). Namun konsep ini saat itu berhasil karena didukung oleh pemimpin yang negarwan dan negara yang menerapkan sistem Islam.

Lockdown dipastikan akan memberikan pengaruh yang besar terhadap kehidupan masyarakat dalam ‘sementara’ waktu. Maka sistem lockdown harus didiringi dengan pengurusan nagara terharap secara totalitas. Beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain sebagai berikut.

Pertama, Negara harus memberikan pemahaman secara utuh dan menyeluruh kepada rakyat tentang pentingnya lockdown, bahkan memberikan sanksi bagi anggota masyarakat yang masih berada di luar melakukan aktivitas.

Kedua, Pemerintah harus menjamin kebutuhan pokok masyarakat selama proses lockdown tersebut, terutama kebutuhan pangan. Karena mereka tidak diperbolehkan keluar rumah maka negara menyipakan satgas khusus untuk bisa membantu distribusi makanan tersebut. Pasti ini membutuhkan pembiayaan yang besar. Negara Islam mempunyai anggaran berbasis baitulmal dan bersifat mutlak.

Baitulmal adalah institusi khusus pengelola semua harta yang diterima dan dikeluarkan negara sesuai ketentuan syariat. Sehingga negara memiliki kemampuan finansial memadai untuk pelaksanaan berbagai fungsi pentingnya termasuk fungsinya sebagai pembebas dunia dari penderitaan bahaya wabah. Bersifat mutlak, maksudnya adalah ada atau tidak ada kekayaan negara untuk pembiayaan pencegahan dan penanggulangan pelayanan kemaslahatan masyarakat, maka wajib diadakan negara. Bila dari pemasukan rutin tidak terpenuhi, diatasi dengan pajak temporer yang dipungut negara dari orang-orang kaya sejumlah kebutuhan anggaran mutlak.

Dengan demikian, negara benar-benar memastikan tugasnya untuk memastikan tersampaikannya kebutuhan pokok pada rakyat orang per orang. Bukan sekadar dirata-rata yakni pendapatan per kapita sebagaimana konsep kapitalisme saat ini. Terlebih di masa ketika wabah masih melanda maka hal ini mutlak dijamin oleh negara. Dengan seperti ini, masyarakat tidak akan menolak dilakukan lockdown.

Ketiga, ada himbauan yang terstruktur dari negara untuk menghindari kemaksiatan dan menutup segala tempat yang mengantarkan kepada kemaksiatan. Sebagaimana di dalam kitab al Bidayah wa an Nihayah, 11/140. Disampaikan oleh Dr. Ali Muhammad Audah al Ghamidi, sejarawan Islam bahwa pernah negeri muslim dilanda demam dan wabah lainnya terkhusus di Iraq, Syam dan Hijaz. Penyakit itu digambarkan bisa menyebabkan kematian tiba-tiba.

Kemudian, Khalifah al Muqtadi Billah mengeluarkan perintah kepada seluruh jajaran gubernur dan umat Islam selain mengoptimalkan pengobatan, agar juga menegakkan perkara ma’ruf dan sama-sama memerangi kemungkaran di setiap desa dan kota. Mereka mengadakan agenda menghancurkan tempat-tempat maksiat, membuang khamr dan mengeluarkan para ahli maksiat besar dari negeri muslimin. Setelah perintah itu dilaksanakan oleh segenap rakyat, wabah sakit dan musibah bencana alam tersebut teredam.

Demikianlah, segala penderitaan dan kerusakan termasuk mewabahnya virus corona harusnya menjadikan manusia mau untuk bermuhasabah. Corona, harusnya menjadikan manusia tersadarkan dan bersegera kepada ampunan Allah SWT. Bersegera kembali kepada aturan Allah SWT secara totalitas. Wallahu a’lam bi showab.

Sumber: Ifa Mufidah, Praktisi Kesehatan dan Pemerhati Kebijakan Publik

Categories