Islam Bukan Agama Lemah yang Mengajarkan Sabar hingga Luluh Tertindas

MUSTANIR.net – Kenapa sebagian para ustadz/asatidz dan penceramah mencari posisi aman dalam berda’wah?

Mereka menyampaikan kisah hidup Rasululloh ﷺ hanya pada bagian sisi sunnah yang mudah dan yang lembut-lembut saja. Tidak berani dengan jelas dan gamblang menceritakan kisah tindakan tegas Rasululloh dalam berbagai kasus ketegasan yang pernah dilaksanakannya.

Walloohu a’lam mengapa sebagian ustadz-ustadz takut menyampaikan dan menerangkan kisah ketegasan Rasululloh ﷺ dalam syari’at di hadapan ummat. Mungkin apakah supaya mereka dibilang ustadz toleran ataukah hanya berlagak tegas dalam tauhid tapi takut menjelaskan pelaksanaan tauhid yang sebenarnya karena takut ancaman kekuasaan?

Padahal syari’at agama harus disampaikan segala sisinya secara utuh sesuai apa yang dilaksanakan Rasul dan para sahabat, walau dengan penuh risiko dan kesulitan apa pun. Di sinilah cara penyampaian yang pandai dan bijak harus dapat dikuasai oleh para da’i dengan tidak mendistorsi atau menyelewengkan inti ketegasan pada masalah hukum agama yang harus ditegakkan. Itulah da’wah Islam yang baik dan benar sesuai perintah Alloh dan Rasul-Nya.

Para asatidz akhir zaman berceramah di YouTube atau di hadapan jama’ah firqohnya hanya dengan menceritakan kisah-kisah kelembutan Rasululloh ﷺ saja, seperti kisah Rasululloh ﷺ mengunjungi orang kafir yang meludahi beliau setiap kali mau pergi shalat, ketika si kafir sakit. Atau kisah Rasululloh ﷺ menyuapi seorang wanita Yahudi buta yang sudah tua renta, yang kerjaannya sehari-hari menghina Rasululloh.

Pada akhirnya ummat penuntut ilmu menyangka bahwa Islam itu harus selalu lembut, harus selalu mengalah, dan harus selalu sabar terus menerus hingga luluh bagai lilin yang menerangi. Sungguh cara berda’wah seperti ini keliru dalam penyampaiannya,

Maka akhirnya hasil da’wah dari para ustadz culas pengagum pendapat hawa nafsunya sendiri itu ummat Islam hasil didikannya menjadi ummat yang timpang aqidahnya, lamban dalam mencegah kemungkaran, penuh keraguan dan kebingungan dalam pemahaman tauhidnya, dan kacau dalam pelaksanaan syari’at agamanya.

Memang benar ada kisah Rasululloh mendo’akan kebaikan untuk penduduk Thaif yang mengejar beliau dengan lemparan batu sampai kaki beliau berdarah-darah. Ada kisah-kisah kelembutan Rasululloh buat umat yang belum terbuka hati mereka untuk menerima dakwah Islam. Tapi jangan berhenti sampai di sana. Seharusnya dikupas, diterangkan dan dijelaskan kepada ummat, kapan Rasululloh ﷺ harus berbuat seperti itu, bagaimana situasinya, dan kenapa beliau bersikap seperti itu?

Kemudian sampaikan, terangkan dan jelaskan juga kepada ummat kisah tentang tindakan ketegasan Rasululloh kepada orang-orang yang memusuhi agama Alloh ﷻ, seperti ada 72 kali perperangan terjadi semasa Rasululloh hidup, 28 kali di antaranya dipimpin langsung oleh baginda Rasululloh ﷺ.

Sampaikan kejadian ini sebagaimana yang diriwayatkan secara shahih bagaimana Rasululloh ﷺ mengusir Yahudi bani Nadhir dan bani Qainuqa’ dari Madinah. Jangan sungkan, jangan ragu, dan jangan takut untuk menyampaikan riwayat tentang bani Quraizhah yang semua laki-laki dewasanya dipancung dalam satu malam, dan dikuburkan dalam sebuah lubang, jumlah mereka antara 600-700 orang. Hal itu dilakukan Rasululloh ﷺ karena pengkhianatan mereka ketika perang Khandaq.

Kenapa harus takut menceritakan kepada kaum Muslimin bahwa Rasululloh pernah mengutus Muhammad bin Maslamah dengan empat orang sahabat lainnya untuk membawa kepala Ka’ab bin Asyraf, seorang Yahudi yang menghina Rasululloh ﷺ dan mengompori kafir Quraisy untuk menyerang kaum muslimin? Apakah para ustadz culas takut dituduh teroris? Ini bukan kisah abal-abal, tapi terdapat dalam Shahih Bukhari.

Apakah kalian tidak tahu atau pura-pura tidak tahu bahwa Rasululloh ﷺ pernah mengutus Abdullah bin ‘Atik dengan empat orang sahabat lagi untuk membunuh Salam bin Abi Rafi’, gembong Yahudi Khaibar yang sangat jahat? Apakah para ustadz/asatidz culas takut dicap radikal bahkan teroris kalau menceritakannya? Kisah ini juga ada di Shahih Bukhari.

Dan ada banyak lagi kisah heroik yang mesti kita sampaikan dan ajarkan kepada ummat Islam secara utuh sebagaimana mestinya agar ummat Islam paham bahwa agama mereka adalah agama Alloh yang tegas dan benar, dan berjalan di atas aqidah serta dilaksanakan sesuai syari’at di atas manhajur rasul yang harus dilaksanakan oleh setiap Muslim yang mengaku Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Sebagaimana para sahabat radhiyallohu ‘anhum berkata, “Kami mengajari anak-anak kami tentang strategi dan peperangan Rasululloh ﷺ, sebagaimana kami mengajari mereka surat dalam al-Qur’an.” Di sanalah akan terasa, agama Islam ini penuh kelembutan namun bukan berarti agama Islam ini tidak tegas atau harus sabar terus menerus hingga meleleh binasa. Agama Islam tidak selemah dan sebodoh pendapat dan pikiran hawa nafsu para asatidz suu’ (ulama jahat) penakut yang sedang cari popularitas dan cari aman.

Mereka berkata, “Kita harus sabar dan sabar saja, walau ditindas dan disakiti.” Sungguh sangat keliru. Islam tidak mengajarkan ‘bila pipi kananmu ditampar, berikan pipi kirimu’. Tapi agama Islam adalah agama yang betul-betul telah disempurnakan Alloh untuk keadilan dan kesejahteraan seluruh manusia. Di samping lembut dan bijak penuh rahmah, Islam juga agama yang tegas dan jelas, pemeluknya punya harga diri dan kewibawaan, kesatria dan jantan di hadapan para musuh-musuh agama yang memusuhi Alloh dan Rasul-Nya.

Sampaikan agama ini apa adanya dengan ilmu agama yang ber-nash shahih secara benar, jelas, tepat, bijak, dan kaffah kepada ummat. Jangan karena ada apa-apanya untuk kepentingan diri atau untuk kepentingan kelompok firqoh tertentu. Jangan memutarbalikkan makna dan maksud dalil shahih untuk menutupi rasa takut jihad yang disembunyikan. Alloh Ta’ala berfirman,

إِنَّ ٱلَّذِینَ یَكۡتُمُونَ مَاۤ أَنزَلۡنَا مِنَ ٱلۡبَیِّنَـٰتِ وَٱلۡهُدَىٰ مِنۢ بَعۡدِ مَا بَیَّنَّـٰهُ لِلنَّاسِ فِی ٱلۡكِتَـٰبِ أُو۟لَـٰۤىِٕكَ یَلۡعَنُهُمُ ٱللَّهُ وَیَلۡعَنُهُمُ ٱللَّـٰعِنُونَ

“Sungguh, orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami jelaskan kepada manusia dalam Kitab (al-Qur’an), mereka itulah yang dilaknat Alloh dan dilaknat pula oleh mereka yang melaknat.” (QS al-Baqarah: 159)

إِنَّ ٱلَّذِینَ یَكۡتُمُونَ مَاۤ أَنزَلَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلۡكِتَـٰبِ وَیَشۡتَرُونَ بِهِۦ ثَمَنࣰا قَلِیلًا أُو۟لَـٰۤىِٕكَ مَا یَأۡكُلُونَ فِی بُطُونِهِمۡ إِلَّا ٱلنَّارَ وَلَا یُكَلِّمُهُمُ ٱللَّهُ یَوۡمَ ٱلۡقِیَـٰمَةِ وَلَا یُزَكِّیهِمۡ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِیمٌ

“Sungguh, orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Alloh, yaitu Kitab, dan menjualnya dengan harga murah, mereka hanya menelan api neraka ke dalam perutnya, dan Alloh tidak akan menyapa mereka pada hari Kiamat, dan tidak akan mensucikan mereka. Mereka akan mendapat azab yang sangat pedih.” (QS al-Baqarah: 174)

وَإِنَّ مِنۡهُمۡ لَفَرِیقࣰا یَلۡوُۥنَ أَلۡسِنَتَهُم بِٱلۡكِتَـٰبِ لِتَحۡسَبُوهُ مِنَ ٱلۡكِتَـٰبِ وَمَا هُوَ مِنَ ٱلۡكِتَـٰبِ وَیَقُولُونَ هُوَ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِ وَمَا هُوَ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِ وَیَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَ وَهُمۡ یَعۡلَمُونَ

“Dan sungguh, di antara mereka niscaya ada segolongan yang memutarbalikkan lidahnya membaca Kitab, agar kamu menyangka (yang mereka tafsirkan) itu sebagian dari Kitab, padahal itu bukan dari Kitab dan mereka berkata; ‘Itu dari Alloh,’ padahal itu bukan dari Alloh. Mereka mengatakan hal yang dusta terhadap Alloh, padahal mereka mengetahui.” (QS Ali Imran: 78)

Amalkan dan da’wahkan agama Alloh secara keseluruhan. Jangan mengkhianati Rasululloh ﷺ dengan memutar balik makna dan maksud hadits yang sebenarnya. Jangan beragama setengah-setengah. Jangan menyepelekan agama untuk suatu alasan tertentu. Ummat Islam wajib berpolitik Islam dan harus wafat dalam keadaan Islam. Alloh Tabarokta wa Ta’ala berfirman,

.. ۗ وَمَنْ لَّمْ يَحْكُمْ بِمَاۤ اَنْزَلَ اللّٰهُ فَاُولٰٓئِكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ

“Barang siapa tidak berhukum atau memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Alloh, maka mereka itulah orang-orang zalim.” (QS al-Ma’idah: 45)

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْـتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Alloh sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS Ali ‘Imran: 102)

Penutup, penulis ingin menukil perkataan al-Allamah Fadhilatush Syaikh Dr. Abdul Qadir bin Abdul Aziz hafizhahulloh —fakkallohu asroh —, “Al irhaabu minal Islam faman dzalika faqod kafaro.” (Menggentarkan musuh-musuh Islam adalah bagian dari Islam, barang siapa yang mengingkarinya, dia kafir) Walloohu yahdii man yasyaa’u ilaa shirootin mustaqiim. []

Sumber: Dr. Abu Fayadh Muhammad Faisal, M.Pd – Dewan Syuro’ (Penasihat) di ICMI Orsat Bekasi Timur

About Author

Categories