
Isu Terorisme sebagai Tameng: Ketika Kritik Didefinisikan sebagai Ancaman
MUSTANIR.net – Narasi terorisme kembali dipentaskan. Lewat layar sinema, dikawal aparat, disambut hangat elite negara. Kali ini film Sayap-Sayap Patah 2: Olivia dijadikan medium kampanye melawan apa yang mereka sebut “radikalisme”. Seolah-olah negeri ini sedang di ambang perang ideologi yang hanya bisa diselamatkan oleh aparat bersenjata dan sinema berkampanye. Namun, publik yang cerdas layak bertanya: apakah ini upaya deradikalisasi, atau justru dekonstruksi akal sehat publik?
Sebab di balik semua kemasan narasi terorisme, negeri ini sedang membusuk oleh racun kekuasaan yang jauh lebih nyata: korupsi sistemik, pembajakan sumber daya, pembungkaman kritik, dan penjajahan ekonomi yang diselimuti jargon pertumbuhan. Oligarki politik-ekonomi telah mengakar, menjadikan kekayaan alam sebagai bancakan segelintir elite, sementara rakyat dicekik utang, pajak, dan harga-harga yang terus melambung. Namun anehnya, semua ini tidak pernah dikategorikan sebagai bentuk ekstremisme. Tidak pernah dicap radikal. Padahal jika ada teror sesungguhnya yang paling merusak bangsa, maka inilah wujudnya yang telanjang.
Lebih ironis lagi, umat Islam yang menyampaikan kebenaran—dengan cara damai, dengan hujjah, dengan seruan kembali pada sistem Islam—malah distigmakan sebagai ancaman. Mereka yang menyeru syariat Islam dipersepsikan sebagai sumber radikalisme, padahal tidak membawa senjata, tidak mengacau negara, dan justru mengusung solusi. Kritik terhadap sistem liberal dianggap subversif. Dakwah ideologis dituduh intoleran. Seolah-olah cinta negeri hanya boleh ditafsirkan sebatas loyal pada sistem buatan manusia, bukan kepada aturan Ilahi yang telah membawa peradaban besar selama berabad-abad.
Dalam skala global, pola ini bukan hal baru. Israel yang nyata-nyata menebar teror terhadap rakyat Palestina malah bebas mencap pejuang kemerdekaan sebagai teroris. Amerika yang menghancurkan Irak, Afghanistan, dan banyak negeri Muslim lainnya masih berani mengklaim diri sebagai pembela hak asasi. Label radikal menjadi senjata kolonialisme baru. Ia tidak diarahkan pada pelaku kezaliman, tapi pada korban yang menyuarakan keadilan. Maka sangat berbahaya jika Indonesia terus menelan bulat narasi ini tanpa nalar kritis. Kita bukan satelit kebijakan asing. Kita bangsa merdeka, dan seharusnya juga merdeka secara ideologis.
Perlu ditegaskan: Islam bukan ancaman, melainkan sistem kehidupan yang telah terbukti membangun peradaban agung sejak masa Nabi Muhammad ﷺ. Syariat Islam bukan penyebab konflik, melainkan solusi bagi krisis multidimensi yang melilit negeri. Ia bukan ide makar, tapi ekspresi kasih sayang Allah subḥānahu wa taʿālā kepada umat manusia. Karena itulah, setiap kali umat Islam berseru untuk berhukum pada syariat, itu bukan ekspresi kebencian, tapi panggilan perubahan menuju keadilan.
Mereka yang menolak Islam sebagai solusi justru terjebak dalam paradoks: di satu sisi mengeluh atas kerusakan sistem, namun di sisi lain tetap mempertahankan akar sistem yang rusak itu. Padahal jalan keselamatan bukanlah menambal sistem sekuler yang retak, tapi mencabutnya dari akarnya lalu menggantinya dengan sistem yang lurus, adil, dan menjamin kemaslahatan umat. Itulah sistem Islam, yang mengatur urusan politik, ekonomi, sosial, dan hukum berdasarkan wahyu, bukan nafsu kekuasaan.
Sudah cukup umat ini menjadi kambing hitam dari sistem yang mereka tidak ciptakan. Sudah terlalu lama Islam dijadikan tertuduh, padahal justru ia yang membawa jalan keluar. Yang kita butuhkan bukan penjara bagi suara kritis, tapi keberanian untuk mendengar dan mengambil pelajaran dari mereka yang menyeru pada kebenaran. Jika negeri ini jujur pada dirinya sendiri, maka ia harus mengakui bahwa syariat Islam bukan ancaman, tapi jawaban. Bukan teror, tapi harapan.
Saatnya membalik narasi. Yang membungkam bukan pahlawan. Yang menyuarakan kebenaran bukan teroris. Dan yang paling berbahaya bagi negeri ini bukan mereka yang menyeru perubahan, tapi mereka yang mati-matian mempertahankan kebusukan.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb. []
Sumber: Ahmad Zen – Jaringan Ulama Ideologis
