
Mengapa Gerakan Kebangkitan Gagal Membentuk Perubahan Hakiki?
MUSTANIR.net – Berbagai gerakan kebangkitan yang muncul di dunia Islam mengalami kegagalan karena tidak dibangun di atas pemikiran dan metode yang benar. Persoalan ini semakin rumit ketika pemikiran asing memengaruhi cara umat memahami kehidupan dan menentukan arah perjuangannya.
Sebelum Perang Dunia Pertama, kaum Muslim masih memandang keberadaan Daulah Islam sebagai persoalan penting. Namun, banyak di antara mereka belum memahami hakikat kebangkitan dan metode untuk mewujudkannya. Akibatnya, mereka belum berhasil membentuk gerakan yang terikat oleh pemikiran dan metode yang benar.
Situasi kemudian berubah ketika pemikiran asing masuk ke negeri-negeri Islam. Penjajah memanfaatkan pengaruh tersebut untuk mendorong lahirnya kelompok-kelompok yang menyerukan pemisahan diri dan kemerdekaan dari Daulah Utsmaniyah. Di kalangan bangsa Arab, dibentuk pula kelompok yang mengusung kemerdekaan bangsa Arab dari Daulah Utsmaniyah.
Kelompok-kelompok tersebut disatukan oleh pemikiran asing dan gagasan nasionalisme yang ditanamkan penjajah. Tujuannya adalah kemerdekaan bangsa Arab dari Daulah Utsmaniyah. Setelah tujuan itu tercapai, peran kelompok-kelompok tersebut pun berakhir, sementara penjajahan justru semakin leluasa menguasai negeri-negeri Islam.
Penjajahan Tidak Hanya Menguasai Wilayah, tetapi Juga Pemikiran
Setelah Daulah Islam dihapuskan, penjajah semakin leluasa menguasai negeri-negeri Arab dan memperluas pengaruhnya ke wilayah Islam lainnya. Pengaruh yang paling besar bukan hanya berupa kekuasaan politik dan ekonomi, melainkan juga penyebaran pemikiran asing.
Penjajah membangun sistem pendidikan dan kebudayaan berdasarkan pandangan hidup yang memisahkan agama dari kehidupan publik dan negara. Kebangsaan dijadikan dasar identitas, sedangkan peradaban, pemikiran, sejarah, dan lingkungan umat sendiri ditempatkan seolah-olah tidak layak menjadi sumber pembentukan cara berpikir.
Bahkan, penjajah turut membentuk cara umat memandang dirinya sendiri. Akibatnya, sebagian kaum Muslim mulai menilai keadaan negerinya dengan ukuran asing, bukan berdasarkan pemikiran dan nilai yang bersumber dari Islam.
Kondisi ini membuat pemikiran umat terpisah dari realitas kehidupan dan kebutuhan masyarakatnya. Mereka kesulitan memahami persoalan umat secara tepat, apalagi menemukan metode kebangkitan yang sesuai dengan pemikiran Islam.
Pemikiran Asing Menghambat Terbentuknya Gerakan yang Benar
Ketika pemikiran seseorang terpisah dari realitas masyarakatnya, ia akan kesulitan memahami keadaan masyarakat secara mendalam. Ia cenderung meniru cara orang asing menggambarkan persoalan negeri-negeri Islam tanpa memahami hakikat persoalan tersebut.
Akibatnya, perjuangan sering diarahkan pada kepentingan bangsa, tanah air, atau identitas tertentu, bukan pada landasan pemikiran yang benar. Semangat perubahan mungkin muncul, tetapi tidak disertai pemahaman yang mampu menjelaskan persoalan masyarakat dan menentukan jalan penyelesaiannya.
Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan bahwa keadaan semacam ini tidak cukup diatasi dengan membangkitkan semangat atau mengumpulkan orang-orang yang memiliki keinginan untuk berubah. Yang diperlukan ialah membangun kembali pemahaman yang benar, sehingga pemikiran dan realitas masyarakat dapat dipertemukan.
Karena itu, pembentukan gerakan yang benar harus didahului proses pembinaan yang membangun kebudayaan dan pemikiran Islam secara mendasar. Tanpa proses tersebut, gerakan mudah terjebak dalam gagasan asing dan kehilangan kemampuan untuk memahami persoalan umat secara tepat.
Berbagai gerakan yang muncul di tengah umat Islam tidak semuanya berhasil mewujudkan kebangkitan. Selain gerakan yang dibangun atas dasar pemikiran yang tidak jelas, terdapat pula gerakan yang bertumpu pada kepentingan sementara, hubungan pribadi, dan kegiatan sosial yang tidak mengantarkan umat pada perubahan mendasar.
Kegiatan Sosial Tidak Otomatis Melahirkan Kebangkitan
Pada masa penjajahan, berkembang berbagai perkumpulan lokal dan regional. Sebagian bergerak di bidang pendidikan, kesehatan, pembangunan rumah sakit, serta pelayanan sosial lainnya. Perkumpulan tersebut bahkan memperoleh dukungan dan berkembang menjadi kegiatan yang menarik perhatian masyarakat.
Namun, menurut Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, kegiatan semacam itu tidak dengan sendirinya menghasilkan kebangkitan umat. Bahkan, perkumpulan tersebut dapat menjadi tempat menyalurkan kepedulian dan perasaan umat tanpa mengubah kepedulian itu menjadi pemikiran yang mendorong perubahan.
Ketika seseorang membantu membangun sekolah, mendirikan rumah sakit, atau menyumbangkan tenaga untuk kegiatan sosial, ia merasa telah melakukan sesuatu yang bermanfaat. Akan tetapi, apabila kegiatan itu justru membuatnya merasa cukup dan tidak terdorong membangun gerakan yang benar, kegiatan tersebut dapat menghambat lahirnya kebangkitan yang hakiki.
Kekeliruan Menjadikan Akhlak sebagai Dasar Perubahan
Sebagian perkumpulan lainnya berusaha membangkitkan umat melalui pendidikan akhlak, nasihat, ceramah, dan tulisan. Mereka beranggapan bahwa akhlak merupakan dasar kebangkitan, sehingga perbaikan individu dipandang sebagai jalan utama untuk memperbaiki masyarakat.
Mereka juga mendasarkan pandangannya pada hadis tentang penyempurnaan kemuliaan akhlak:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”
Namun, pembahasan kitab ini menegaskan bahwa kerusakan masyarakat tidak semata-mata disebabkan oleh kerusakan individu. Masyarakat tersusun atas manusia, pemikiran, perasaan, dan peraturan yang berlaku di dalamnya. Karena itu, kerusakan masyarakat juga berkaitan dengan kerusakan pemikiran, perasaan, dan peraturan yang membentuk kehidupan bersama.
Bangsa-bangsa tidak dibangun hanya oleh akhlak individu, tetapi juga oleh berbagai keyakinan, pemikiran, dan sistem yang mereka anut. Oleh sebab itu, memperbaiki individu saja tidak cukup untuk memperbaiki masyarakat.
Seseorang yang berakhlak baik memang dapat menjadi pribadi yang lurus, aktif, produktif, serta berusaha melakukan kebaikan. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki arah pemikiran yang benar dapat terjebak dalam pemenuhan keinginan pribadi dan kepentingannya sendiri.
Akan tetapi, perubahan masyarakat tidak dapat diwujudkan hanya dengan menjadikan akhlak sebagai sarana utama. Perbaikan harus menyentuh pemikiran, perasaan, dan peraturan yang membentuk masyarakat.
Perbaikan Masyarakat Harus Menyentuh Akar Kerusakannya
Kitab ini menjelaskan bahwa kerusakan masyarakat muncul dari rusaknya pemikiran, perasaan, dan peraturan yang berlaku. Karena itu, perbaikannya harus dilakukan dengan membangun pemikiran yang benar, membentuk perasaan yang sesuai dengan pemikiran tersebut, serta menerapkan peraturan yang benar.
Hal itu menuntut terbentuknya suasana pemikiran dan perasaan yang benar, sekaligus penerapan peraturan oleh negara. Dalam kerangka pemikiran penulis, suasana tersebut harus dibangun berdasarkan Islam dan pemahaman yang benar terhadap Islam.
Dengan demikian, kebangkitan tidak cukup diwujudkan melalui kegiatan sosial, nasihat akhlak, atau perbaikan individu yang terpisah dari persoalan masyarakat. Semua itu tidak dapat menggantikan kebutuhan terhadap gerakan yang dibangun berdasarkan pemikiran dan metode yang benar.
Mengapa Berbagai Perkumpulan dan Partai Mengalami Kegagalan?
Menurut penulis, kegagalan berbagai gerakan yang dibangun atas dasar perkumpulan, kepentingan sementara, atau ikatan pribadi dapat dipahami dari landasan pembentukannya.
Sebagian perkumpulan terbentuk karena keadaan tertentu yang bersifat sementara. Ketika keadaan itu berubah, perkumpulan tersebut kehilangan alasan keberadaannya. Sebagian lainnya terbentuk karena persahabatan dan hubungan pribadi, sehingga aktivitasnya berakhir ketika hubungan tersebut tidak lagi menjadi pengikat.
Ada pula perkumpulan yang dibangun berdasarkan kepentingan individu atau peluang memperoleh manfaat dari keanggotaan. Dalam keadaan seperti ini, ikatan di antara para anggota tidak bertumpu pada pemikiran dan metode yang menyatukan mereka.
Akibatnya, perkumpulan tersebut tidak menjadi gerakan ideologis yang kokoh. Bahkan, keberadaannya dapat menghambat lahirnya gerakan yang benar karena masyarakat merasa telah memiliki wadah perjuangan, padahal landasan perubahan yang mendasar belum terbentuk.
Anggota perkumpulan pun cenderung dipilih berdasarkan kedudukan sosial, hubungan keluarga, kekayaan, profesi, atau pengaruhnya, bukan berdasarkan kesesuaian pemikiran dan kemampuannya dalam menjalankan metode gerakan.
Keadaan ini membuat ikatan antaranggotanya tidak cukup kuat. Mereka dapat terpecah ketika kepentingan pribadi berbenturan, sementara perkumpulan tersebut tidak memiliki landasan pemikiran yang menyatukan mereka secara kokoh.
Dasar Pembentukan Gerakan yang Benar
Setelah membahas kegagalan berbagai bentuk gerakan, penulis menegaskan bahwa kebangkitan umat membutuhkan pengelompokan yang dibangun berdasarkan sebuah mabda, yakni ideologi yang memiliki pemikiran dan metode yang jelas.
Pengelompokan yang benar tidak boleh hanya bertumpu pada kegiatan sosial, persahabatan, kepentingan sementara, atau kesamaan tujuan yang bersifat umum. Gerakan tersebut harus mempunyai pemikiran mendasar yang menjadi landasan seluruh aktivitasnya.
Dalam uraian kitab ini, gerakan yang benar dibangun berdasarkan mabda Islam. Pemikiran menjadi ruh gerakan, sedangkan metode yang jelas menjadi jalan untuk merealisasikan pemikiran tersebut.
Tahap awal pembentukannya dimulai dengan hadirnya tiga unsur: pemikiran yang mendalam, metode yang jelas, dan individu-individu yang memahami serta meyakini keduanya.
Individu-individu tersebut kemudian membentuk kelompok awal. Ketika kelompok awal ini berkembang, terbentuklah kelompok kepartaian yang memiliki ikatan ideologis. Ikatan tersebut bukan sekadar hubungan pribadi, melainkan ikatan yang lahir dari kesamaan pemikiran dan metode.
Dengan berjalannya proses pembinaan dan aktivitas dakwah, pemikiran kelompok menjadi semakin matang, metodenya semakin jelas, dan ikatan di antara anggotanya semakin kuat. Kelompok itu kemudian mampu menjalankan aktivitas dakwah secara nyata sebagai sebuah gerakan yang bertujuan mewujudkan kebangkitan hakiki.
Inilah pokok penjelasan penulis mengenai pengelompokan yang benar: pemikiran yang mendalam, metode yang jelas, dan individu-individu yang menghayati keduanya merupakan unsur dasar pembentukan gerakan ideologis. []
Sumber: Ahmad Zen T
