Kediktatoran Seorang Wanita Yang Menghancurkan Dirinya

Kediktatoran Seorang Wanita Yang Menghancurkan Dirinya

Kisah seorang wanita yang menghancurkan rumah tangganya karena ulahnya sendiri. Dia telah mengeksploitasi kebaikan dan kesabaran suaminya kepadanya. Dia terlena oleh sikap diam suaminya terhadap semua tingkah lakunya. Dia tak henti-hentinya berada dalam kesesatan dan perlakuannya yang jelek kepada suaminya. Wanita ini menuturkan kisahnya,

“Dulu, sewaktu aku menikah, aku adalah seorang gadis kembang yang masih muda belia. Allah telah mengaruniaiku bisa melahirkan sejumlah anak laki-laki. Ketika aku dikaruniai anak, maka hatiku penuh kebatilan dan kebohongan.

Melahirkan anak-anak lelaki memberiku kekuatan dan kepercayaan diri, dan menanamkan dalam diriku suka berkuasa dan menang sendiri. Sebagian besar wanita di sekitarku pada umumnya melahirkan anak-anak perempuan. Orang yang pertama-tama tergerus oleh api kesewenang-wenangan dan keterlenaanku adalah suamiku yang malang. Aku selalu memanfaatkan pengertian, kesabaran dan kebaikannya. Hal itu lebih karena dilandasi dua hal: kecantikanku dan tingkat kesuburan genku yang tinggi untuk melahirkan anak laki-laki.

Cemeti keterlenaan dan kebodohanku telah mencambuk punggung semua orang di sekelilingku, tanpa kubeda-bedakan antara sanak, kerabat, teman ataupun tetangga. Akibatnya, semua orang memusuhi dan menjauh dariku karena takut oleh kejahatanku.

Kini, putra-putraku beranjak dewasa, sedang aku selalu mencekoki telinga mereka dengan kisah tentang suamiku yang miskin dan zhalim; ialah ayah mereka yang menimpakanku dua perkara di awal-awal kehidupanku. Padahal, realitas dan kebenarannya, dia tidak pernah berbuat demikian. Bahkan, dia contoh tipe seorang ayah yang baik dan sekaligus suami yang penyabar.

Hanya saja, kutampakkan kepada putra-putraku dia seorang ayah yang kasar dan zhalim, agar aku bisa merebut keberpihakan hati mereka dan kasih sayang mereka kepadaku, dan kutanamkan kebencian terhadap ayah mereka di dalam hati mereka. Karena itu, mereka tidak mau melihat kecuali dengan kaca mataku, tidak mau mendengar selain dengan telingaku, dan tidak memukul melainkan dengan tanganku. Karena itu pula, berkat asuhan tanganku, muncullah sosok pemuda yang diktator, bengis, lalim, gagal dalam karir pendidikan mereka, angkuh pada semua orang dan dendam terhadap ayah mereka. Sampai-sampai mereka berani mengintimidasi ayah mereka jika dia membuat kemarahanku.

Hari-hari terus berlalu, dan atas kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala aku ditimpa penyakit permanen (tak bisa diobati). Pada saat itu, aku butuh bantuan khusus dalam semua urusanku hingga masalah yang sangat privasi sekali-pun. Di sini, aku tidak pernah melihat di depanku selain suamiku yang baik hati dan penyabar yang tidak pernah setengah hati dalam melayani dan membantuku, meski dia membantuku dengan terpaksa karena apa yang telah dirasakannya dariku sepanjang hari. Akan tetapi, kebaikannya tidak pernah menghalanginya untuk menunaikan kewajibannya terhadapku.

Sedang anak-anak lelakiku yang pernah kujadikan sandaran, mereka telah mengecewakanku dan membiarkanku dalam kondisi terpuruk dengan dalih mereka sibuk dengan keluarga dan urusan-urusan pribadi mereka, dan tidak ada seorang pun dari mereka yang berguna bagiku.

Nah, kini suamiku mencari seorang wanita yang bisa menyertainya selama sisa-sisa hidupnya untuk dijadikan sebagai tambatan, penolong dan kasih sayang baginya; itu merupakan haknya.”

Begitulah, wanita malang ini mengakhiri cerita-nya dengan penuh sesal atas semua perilakunya yang jelek terhadap suaminya. Dia telah berbuat jahat kepada suaminya. Dia telah tertipu oleh kecantikannya dan bahwa dia bisa melahirkan banyak anak laki-laki. Dia juga terlena oleh kebaikan perlakuan suaminya kepadanya. Maka sebagai ganti dari rasa terima kasihnya kepada suaminya atas kebaikan perlakuannya, sebaliknya dia malah berbuat jahat kepadanya dan justru menanamkan kebencian di hati putra-putranya terhadap ayah mereka.

Nah, sekarang, dia mengucurkan air mata penyesalan atas penyia-nyiaannya dalam menghormati suaminya akibat keterlenaannya. Maka dari itu, janganlah terlena, karena akibatnya sangat buruk.

Ummul mukminin, Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah ditanya, “Siapakah wanita terbaik?” dia menjawab,

“Wanita yang mengetahui aib dari apa yang diucapkan, dan tidak terbimbing untuk memperdayai kaum lelaki karena kegersangan hatinya, melainkan sebagai perhiasan bagi suaminya dan senantiasa menjaga keluarganya.”

Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Seyogyanya bagi orang yang berwajah baik (tampan) agar tidak mencoreng mukanya dengan keburukan amalannya, dan seyogyanya bagi orang yang buruk rupa agar tidak malah menggabungkan di antara dua keburukan.”

Categories