Getty Images/iStockphoto

Kritik Itu Ditanggapi, Bukan Ditangkapi

MUSTANIR.net – Satu hari Umar bin Khattab berdiri dan berkhutbah sesaat baru dilantik menjadi khalifah pengganti Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Beliau berkata di depan hadirin yang baru membai’atnya menjadi khalifah:

“Apa yang akan kalian perbuat jika aku melakukan tindakan yang melanggar aturan Allah dan Rasul-Nya?”

Tidak ada yang menjawab. Semua mata hanya menatap beliau. Sejurus kemudian beliau mengucapkan kalimat yang sama. Kembali tidak ada yang menjawab, karena semua yang hadir yakin, mustahil beliau akan melakukan hal tersebut. Dan, untuk ketiga kalinya beliau mengulangi pertanyaannya:

“Apa yang kalian perbuat, jika aku sebagai pemimpin kalian melakukan tindakan yang melanggar aturan Allah dan Rasul-Nya?” 

Sontak seorang pemuda berdiri, mengacungkan pedang, dan berseru:

“Jika engkau bertindak melanggar aturan Allah dan Rasul-Nya, maka pedang ini akan kukalungkan ke lehermu!”

Sayyidina Umar bin Khattab tersenyum lega. Alhamdulillah. Beliau memuji Allah dan bersyukur atas seorang pemuda yang berani mengontrol tindakannya ke depan, selama menjadi pemimpin tertinggi.

Sangat mengagumkan perilaku Khalifah Umar. Dan kaum beliau Bani Adiy pun tidak ada yang kemudian mem-bully pemuda itu dengan mengatakan, “Ente radikal, anti-persatuan, penyebar kebencian,” dan lain-lain ungkapan yang kini justru lazim dilontarkan kepada para pengkritik. Di mana manusia zaman ini di mana-mana berteriak bangga, “Kami demokrasi, kami menghormati hak setiap orang untuk bicara.” Omong kosong!

Sungguh kritik sekeras apapun yang dialamatkan oleh para pengkritik kepada penguasa mestinya ditanggapi, bukan ditangkapi. Sekali lagi ditegaskan,“Kritik mesti ditanggapi, bukan ditangkapi.” Kritik dimaksudkan untuk membangun peradaban, dan muncul dari orang yang punya rasa tanggung jawab atas kemashlahatan negerinya. Bukan pengkhianat penjual negara demi ambisi.

Sungguh hebat pemimpin yang menanggapi kritik dengan memperbaiki kinerja. Itu menunjukkan betapa berkualitasnya sang pemimpin tersebut. Di zaman modern ini pemimpin model Fir’aun dan Namrudz yang anti kritik tidak akan laku, dan, pasti akan tenggelam dikubur oleh ulahnya sendiri. []

Sumber: KH Tengku Zulkarnain

Categories