Libanon Sebut Tembok Perbatasan Israel Langgar Kedaulatan

Ilustrasi bendera Israel. foto: cnn


MUSTANIR.COM, Jakarta — Libanon menyatakan tembok yang hendak dibangun oleh Israel di perbatasan merupakan bentuk pelanggaran kedaulatan. Hal tersebut disampaikan dalam pertemuan militer kedua negara yang dipimpin penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa, Senin (6/2).

Ketidaksepakatan soal tembok tersebut, ditambah rencana Libanon untuk mencari minyak dan gas alam di perairan sengketa, membuat ketegangan antara kedua negara meningkat.

Militer Israel sebelumnya menyatakan pekerjaan konstruksi tembok itu dilakukan di wilayah berdaulat negaranya.

Pemerintah Libanon menyatakan tembok itu melintasi wilayah negaranya. Namun, lokasi itu berada di sisi Israel, jika merujuk pada garis biru PBB yang menandakan penarikan Israel dari Libanon selatan, 2000 lalu.

Membahas sengketa ini pada pekan lalu, menteri pertahanan Israel menuding Hizbullah melakukan provokasi. Dia menyatakan negaranya telah menarik diri sesuai dengan perbatasan yang diakui internasional.

Kedua pihak bertemu di bawah pengawasan pasukan penjaga perdamaian PBB, UNFIL, dalam pertemuan rutin di posisi PBB di Ras al-Naqoura di perbatasan.

“Pihak Libanon meninjau masalah tembok yang hendak dibangun musuh-musuh di Israel … mengonfirmasi posisi pemerintah Libanon menolak pembangunan tembok yang melanggar kedaulatan Libanon itu,” kata tentara Libanon usai pertemuan, sebagaimana dikutip Reuters.

Libanon adalah rumah bagi kelompok Hizbullah yang didukung oleh Iran. Organisasi tersebut berperang dengan Israel dalam konflik besar pada 2006 lalu.

UNIFIL menyatakan pertemuan itu mendapatkan perhatian besar “karena pekerjaan di selatan Garis Biru yang sebelumnya diumumkan oleh pihak Israel.” Komandan UNIFIL Mayor Jenderal Beary mencatat bahwa sempat ada “periode relatif tenang” sejak pertemuan tiga pihak sebelumnya.

“Walau demikian, ada aktivitas besar di sepanjang Garis Biru. Saya mengakui kedua pihak menahan diri sehingga bisa mengurangi ketegangan dan mempertahankan stabilitas. Tidak ada yang ingin kembali ke periode tegang,” ujarnya.
(cnnindonesia.com/6/2/18)

Categories