Hendaklah Tentara Kaum Muslim Merebut Kembali Negeri Mereka dari Tangan Musuh-musuhnya

MUSTANIR.net – Media massa dan media sosial beredar rekaman yang memperlihatkan detik-detik syahid Syaikh Faruq Adnan Ramadhan berhasil merebut senjata seorang petugas keamanan permukiman Israel, lalu menembaki para pemukim dan tentara pendudukan yang menyerang Desa Tal di barat daya Nablus.

Dalam aksi tersebut, ia berhasil menewaskan seorang perwira dan seorang prajurit tentara pendudukan serta melukai beberapa lainnya. Setelah itu, ia gugur bersama tiga sepupunya yang juga syahid.

Adegan kepahlawanan yang ditorehkan para syuhada Desa Tal di Nablus, khususnya syahid Faruq Ramadan, merupakan salah satu dari sekian banyak kisah heroik yang telah dan terus ditorehkan oleh para pejuang dari umat Nabi Muhammad ﷺ, termasuk rakyat Palestina.

Namun, peristiwa ini secara khusus mengandung pelajaran akidah dan keimanan yang mendalam, yang mungkin tidak disadari oleh banyak orang, bahkan oleh sebagian kaum Muslim.

Ketika syahid Faruq mengambil keputusan untuk merebut senjata tentara lalu menyerangnya serta menyerang tentara dan para pemukim lainnya, ia mengetahui dengan penuh keyakinan bahwa itulah saat-saat terakhir kehidupannya di dunia dan bahwa ia akan segera menghadap Allah sebagai seorang syahid.

Hal itu hampir dapat dipastikan karena ia menyaksikan sendiri bahwa tidak ada lagi jalan untuk menyelamatkan diri; tentara-tentara lain telah mengepungnya dari segala arah. Keadaannya berbeda dengan seseorang yang telah membawa senjatanya sendiri, menyergap musuh, lalu menyiapkan rencana mundur untuk kembali melanjutkan perlawanan.

Terlebih lagi, rakyat Palestina, khususnya di Tepi Barat, berada di bawah kendali penuh tentara pendudukan sehingga tidak memiliki tempat berlindung yang aman untuk menghindar dari kejaran mereka. Dengan demikian, pada saat Faruq berhasil merebut senjata tentara itu, ia sadar sepenuhnya bahwa syahadah telah menantinya, hembusan angin surga telah menyambutnya, dan bahwa ia telah menjual dirinya kepada Allah SWT.

Pemandangan agung seperti ini seharusnya menjadi penyemangat bagi umat jihad, yakni umat Nabi Muhammad ﷺ, terutama bagi para tentaranya. Jika seorang lelaki yang tidak memiliki senjata sama sekali berani merebut senjata yang diarahkan ke dadanya, lalu menggunakannya untuk melawan musuh meskipun harus mengorbankan nyawanya, maka terlebih lagi bagi tentara kaum Muslim yang telah memegang senjata.

Mereka semestinya menggunakan senjata itu untuk merebut kembali kekuasaan dari tangan rezim-rezim yang berkuasa dan mengembalikannya kepada umat. Mereka juga semestinya menggunakan senjata yang ada di tangan mereka untuk melucuti setiap persenjataan musuh yang didatangkan guna menguasai negeri-negeri kaum Muslim, mendudukinya, menumpahkan darah penduduknya, atau untuk mendukung dan melindungi entitas yang merampas tanah tempat Isra Nabi Muhammad ﷺ.

Sudah sepatutnya para tentara kaum Muslim membulatkan tekad, mengangkat senjata mereka, merebut senjata musuh, lalu melangkah sambil melantunkan firman Allah Ta’ala:

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang yang beriman diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu. Dan itulah kemenangan yang agung.” (QS At-Taubah: 111) []

Sumber: أ. عبد الله حمد الوادي

About Author

Categories