
Menteri Perang Menyatakan Musuh Amerika adalah Para Penganut Ideologi Islam
MUSTANIR.net – Dalam pernyataan yang mengejutkan dunia, Menteri Perang (Secretary of War) Amerika Serikat, Pete Hegseth secara terbuka mengidentifikasi penganut ideologi Islam dari kalangan Sunni maupun Syiah sebagai musuh utama negara tersebut (19/3).[1] Pernyataan ini bukan sekadar retorika politik, melainkan cerminan dari ketakutan mendalam kekuatan hegemonik dunia terhadap kebangkitan kembali kesadaran Islam yang murni.
Pernyataan Menteri Perang yang secara eksplisit menyebut bahwa musuh Amerika Serikat adalah “Islamis” merupakan sebuah pengakuan geopolitik yang sangat krusial di era modern.[2] Hegseth menegaskan bahwa ideologi Islam yang dipegang teguh oleh Muslim dianggap sebagai ancaman langsung yang tidak akan ditoleransi, terutama jika kekuatan tersebut mendekati kapabilitas strategis.
Secara geopolitik, pernyataan ini bukan sekadar retorika perang biasa, melainkan cerminan dari ketakutan besar kekuatan hegemonik dunia terhadap kebangkitan kesadaran ideologis umat Islam yang mulai mengarah pada nubuat akhir zaman.[3] Dalam perspektif eskatologi Islam, ketegangan ini dipandang sebagai bagian dari fase mulkan jabariyyah (kepemimpinan yang memaksakan kehendak) yang sedang menuju titik jenuh sebelum kembalinya kepemimpinan Islam yang lurus.
Amerika dan sekutunya menyadari bahwa Islam bukan sekadar agama ritual, melainkan sebuah ideologi komprehensif yang memiliki sistem politik, ekonomi, dan pertahanan sendiri yang mampu menantang sistem liberal-kapitalisme global.[4]
Ketakutan Amerika terhadap Muslim yang berideologi Islam berakar pada fakta bahwa ideologi ini menolak tunduk pada aturan main internasional yang dianggap tidak adil. Ketakutan Amerika bukanlah pada ritual ibadah umat Islam, melainkan pada kembalinya Islam sebagai sebuah ideologi yang mengatur tatanan kehidupan secara menyeluruh, yang secara inheren mengancam dominasi kapitalisme global dan tatanan sekuler yang mereka paksakan.
Ketika seorang Muslim berpegang pada ideologi Islam yang murni, ia tidak lagi dapat dikendalikan melalui utang luar negeri atau ketergantungan budaya, karena orientasi hidupnya adalah kedaulatan Tuhan (tauhid), bukan kedaulatan materi.[5]
Untuk meredam potensi ledakan ideologis ini, diluncurkanlah strategi global berupa deradikalisasi dan moderasi agama yang sering kali bias kepentingan Barat. Dalam konteks geopolitik, agenda ini sering kali bertujuan untuk “menjinakkan” ajaran Islam agar hanya tersisa dimensi spiritual pribadinya saja, sementara dimensi politik dan pembelaan terhadap kedaulatan umat (izzah) dipangkas.
Strategi ini dirancang untuk memastikan tidak ada lagi Muslim yang memiliki cita-cita tegaknya sistem Islam yang mandiri. Melalui narasi moderasi yang dipaksakan, Amerika berusaha menciptakan profil “Muslim ramah” yang kompromistis terhadap penjajahan ekonomi dan politik, sehingga potensi ancaman terhadap dominasi mereka dapat diredam dari dalam pikiran umat itu sendiri.[6]
Analisis geopolitik menunjukkan bahwa Amerika Serikat tengah berupaya keras menghambat laju sejarah yang mengarah pada penyatuan umat di bawah panji Islam. Strategi yang dijalankan meliputi kampanye deradikalisasi dan promosi moderasi beragama yang telah disimpangkan maknanya. Melalui proxy pemerintah nasional di berbagai negeri Muslim, mereka memaksakan agenda yang mencegah kaum Muslimin untuk menjadikan Islam sebagai landasan ideologis dalam bernegara dan berpolitik.
Moderasi yang mereka inginkan adalah Islam yang “jinak”—yang hanya terbatas pada ruang privat, tidak kritis terhadap ketidakadilan global, dan tunduk pada norma-norma internasional buatan Barat. Upaya ini dilakukan dengan memberi label negatif terhadap setiap aspirasi penerapan syariat secara kaffah, menyamakannya dengan ancaman keamanan nasional.[7]
Mengapa Amerika begitu takut jika semakin banyak Muslim kembali pada ideologi Islam?
Jawabannya terletak pada kekuatan persatuan (ukhuwah) yang melintasi batas-batas negara bangsa. Sebagaimana disinggung dalam pernyataan Hegseth, meskipun terdapat perbedaan antara Sunni dan Syiah, bagi kekuatan luar, identitas Islam tetaplah musuh tunggal selama mereka berpegang pada ideologi yang melawan hegemoni.
Kembalinya umat pada ideologi Islam berarti ancaman bagi kontrol sumber daya alam di wilayah-wilayah strategis Muslim. Mereka sangat memahami bahwa jika umat Islam bersatu di bawah panji ideologi yang sama, maka sistem riba global akan runtuh dan peta kekuatan dunia akan berubah secara drastis sebagaimana yang telah dikabarkan dalam tanda-tanda akhir zaman.[8]
Secara esensial, Islam sebagai ideologi menawarkan alternatif tatanan dunia yang berbasis pada tauhid dan keadilan ilahi, yang sangat kontras dengan sistem riba dan eksploitasi yang selama ini menghidupi ekonomi Barat. Kemandirian ideologis umat Islam berarti hilangnya kontrol Amerika atas sumber daya alam yang melimpah di tanah-tanah kaum Muslimin.
Lebih jauh lagi, dalam eskatologi Islam, akhir zaman ditandai dengan kembalinya kejayaan Islam yang akan mengakhiri masa kepemimpinan yang zalim (mulkan jabariyyah). Kesadaran ideologis inilah yang dianggap sebagai ancaman eksistensial karena ia mampu menyatukan potensi umat yang selama ini terpecah-belah oleh batas-batas nasionalisme semu hasil warisan kolonial.
Menghadapi strategi global ini, umat Islam diingatkan untuk senantiasa berpegang teguh pada tali Allah dan tidak terbelah oleh narasi yang memecah demi kepentingan imperialis. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah rida hingga umat Islam mengikuti millah (jalan/sistem) mereka.[9]
Pernyataan zero tolerance terhadap rezim atau kelompok yang memegang ideologi Islam kuat menunjukkan bahwa panggung dunia saat ini sedang dipersiapkan untuk konfrontasi besar antara nilai-nilai kebenaran dan kebatilan. Sebagai umat yang hidup di fase ini, kesadaran akan ideologi Islam bukan lagi pilihan, melainkan keniscayaan untuk mempertahankan eksistensi.
Di sinilah wajah asli pertarungan itu terlihat tanpa topeng. Ketika ada individu yang begitu giat membantah gagasan ideologi Islam seperti khilafah di ruang-ruang diskusi, atau aktif menghalangi agar dakwah tentang sistem Islam kaffah tidak disampaikan di mimbar-mimbar masjid, pada hakikatnya ia sedang berdiri di barisan yang sama dengan musuh umat—meski ia mengira sedang “meluruskan”. Ia menjadi perpanjangan tangan yang efektif, memadamkan api kesadaran dari dalam sebelum sempat membesar.
Tanpa perlu direkrut, tanpa perlu dibayar, ia telah menjalankan fungsi yang diinginkan oleh kekuatan hegemonik: memastikan umat tetap tercerai-berai, jauh dari ideologinya, dan aman untuk terus dikendalikan. Jika ada yang pantas mengucapkan terima kasih atas peran ini, maka itu adalah Amerika Serikat—karena melalui tangan-tangan inilah ketakutan terbesar mereka berhasil ditunda: bangkitnya kesadaran ideologi Islam yang mampu meruntuhkan dominasi mereka.
Muslim yang berideologi Islam akan selalu dianggap “radikal” oleh mereka yang ingin tetap menjajah, namun di mata Allah, itulah bentuk istiqamah yang sesungguhnya. Geopolitik hari ini adalah bukti nyata bahwa musuh-musuh Islam tidak akan pernah berhenti memerangi identitas kita hingga kita melepaskan prinsip-prinsip Islam yang murni dari dalam hati dan sistem kehidupan kita.
Oleh karena itu, konsistensi dalam memegang teguh ideologi Islam di tengah gempuran moderasi semu dan upaya deradikalisasi adalah bentuk jihad intelektual dan politik yang paling utama di masa kini. Kesadaran ini adalah kunci untuk menghadapi fitnah akhir zaman dan menyongsong janji Allah akan kemenangan agama ini di masa depan, meski orang-orang kafir tidak menyukainya. []
Sumber: Arman Tri Mursi
Catatan Kaki
[1] US Department of War, Secretary of War Pete Hegseth and Chairman of the Joint Chiefs Air Force Gen. Dan Caine Hold a Press Briefing, 2026, transkrip resmi, bagian pembukaan (paragraf 1–3).
[2] US Department of War, Remarks by Secretary of War Pete Hegseth at Reagan National Defense Forum, 2025, hlm. 4–6.
[3] John L. Esposito, Islam and Politics, Syracuse University Press, 1998, hlm. 314–320.
[4] Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism, ISTAC, 1993, hlm. 37–45.
[5] Samuel P. Huntington, The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order, Simon & Schuster, 1996, hlm. 209–218.
[6] U.S. Department of War, Remarks by Secretary of War Pete Hegseth at Rocket Lab in Los Angeles, 2026, hlm. 2–3.
[7] U.S. Department of War, Secretary of War Pete Hegseth and Adm. Brad Cooper Hold Press Briefing (CENTCOM), 2026, hlm. 1–2.
[8] Critical Threats Project, Iran Update Evening Special Report, 2026, hlm. 1–3.
[9] Al-Qur’an, Surah Al-Baqarah ayat 120.
