Iran Berperang untuk Iran: Antara Narasi Pembebasan Palestina dan Realita Kepentingan Nasional

MUSTANIR.netKetika Rudal Tidak Lantas Membebaskan Al-Quds

Dunia terperanjat. Rudal-rudal balistik Iran menghujam kawasan pendudukan dalam salah satu serangan paling spektakuler yang pernah disaksikan Timur Tengah modern.

Pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat di Bahrain, UAE, Kuwait, Yordania, dan Arab Saudi luluh lantak—setidaknya 14 pangkalan diserang dalam hitungan hari. Kepala Staf Militer Iran bahkan memperingatkan bahwa jika AS menyerang pelabuhan Iran, “tidak ada satu pun pusat ekonomi di Teluk Persia yang akan aman”.

Jutaan Muslim di seluruh dunia bersuka cita. Tagar-tagar meledak di media sosial. Sebagian menyebutnya sebagai “kebangkitan”, sebagian lain menyebutnya “pembalasan yang selama ini dinantikan.”

Namun di balik dentuman rudal itu, tersimpan satu pertanyaan yang menggugat: jika Iran punya kemampuan militer sedemikian dahsyat, mengapa tidak dari dulu digunakan untuk membebaskan Palestina? Dan jika perang ini berakhir dengan kemenangan Iran sekalipun—Palestina tetap berada di bawah pendudukan.

Mengapa Baru Sekarang? Mengapa Bukan Dulu?

Pertanyaan ini hanya bisa dijawab dengan jujur ketika kita memahami motivasi sesungguhnya di balik serangan Iran. Konflik 2026 ini bukan bermula dari kepedulian Iran terhadap nasib rakyat Gaza yang telah menderita bertahun-tahun.

Perang ini bermula karena AS dan Israel menyerang Iran langsung pada 28 Februari 2026—menghantam fasilitas nuklir, infrastruktur militer, dan pusat komando Iran. Itu adalah serangan terhadap tanah air Iran, bukan tanah Palestina. Maka respons Iran pun adalah respons negara bangsa yang mempertahankan dirinya, bukan respons seorang pelindung umat yang membela saudaranya.

Faktanya, selama bertahun-tahun Iran membangun Axis of Resistance—jaringan proksi yang terdiri dari Hezbollah, Hamas, Houthi, dan milisi Irak—yang secara resmi dibingkai sebagai “poros perlawanan demi Palestina”. Namun ketika Israel menggempur Gaza habis-habisan sejak 2023, Iran tidak menggunakan rudal-rudal itu secara langsung untuk membela Gaza. Iran mengirim sinyal, Iran memberikan dukungan logistik, Iran beretorika—namun rudal-rudal balistik jarak jauh yang kini menghujam pangkalan AS itu, tidak pernah diluncurkan untuk Palestina.

Vox dan Carnegie Endowment mencatat dengan tegas: jaringan proksi Iran telah “gagal total sebagai deterren”—Hamas dan Hezbollah melemah drastis, dan ketika Iran diserang pada Februari 2026, tidak ada satu pun anggota Axis of Resistance yang mampu memberikan respons militer signifikan. Iran kini bertempur sendirian—bukan karena memimpin perlawanan umat, melainkan karena terpaksa mempertahankan diri.

Membaca Iran Melalui Lensa as-Siyasah al-Islamiyah

Untuk memahami ini secara lebih mendasar, kita perlu kembali pada definisi politik itu sendiri. Dalam tradisi keilmuan Islam, politik atau siyasah didefinisikan sebagai:

رعاية شؤون الأمة داخليا و خارجيا بحكم معين

“Pengaturan urusan umat di dalam dan di luar negeri dengan hukum-hukum tertentu.”

Kunci ada pada kata “umat.” Siapa yang dimaksud?

Dalam kerangka negara sekuler berbasis nation state seperti Republik Islam Iran hari ini, “umat” yang diurus adalah bangsa Iran—dengan kepentingan nasional (national interest) sebagai kompas tunggal pengambilan keputusan. Dalam kerangka ini, semua kebijakan luar negeri—termasuk perang—diukur dengan satu pertanyaan: apakah ini menguntungkan Iran?

Ini bukan penilaian soal Sunni atau Syiah. Ini tidak ada hubungannya dengan sektarianisme. Ini adalah konsekuensi logis dari sistem negara bangsa (nation state) yang mengikat semua negeri Muslim hari ini—Arab Saudi, Turki, Pakistan, Indonesia, maupun Iran. Semuanya bergerak berdasarkan national interest masing-masing, bukan kepentingan umat Islam secara keseluruhan.

Tiga Syarat Iran: Membaca Kepentingan Nasional Secara Terbuka

Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada 11 Maret 2026 secara resmi menyampaikan tiga syarat Iran untuk menghentikan perang, melalui postingan di akun X pribadinya: “The only way to end this war—ignited by the Zionist regime & US—is recognizing Iran’s legitimate rights, payment of reparations, and firm int’l guarantees against future aggression.”

Perhatikan baik-baik ketiga syarat tersebut:

1. Pengakuan hak-hak sah Iran—yang merujuk pada hak program nuklir dan kedaulatan Iran sebagai negara
2. Pembayaran ganti rugi atas kerusakan yang dialami Iran akibat serangan
3. Jaminan internasional bahwa Iran tidak akan diserang lagi di masa depan

Tidak ada satu kata pun tentang Palestina. Tidak ada tuntutan pembebasan Gaza. Tidak ada syarat penghentian pendudukan.

Ini bukan kebetulan. Kementerian Luar Negeri Iran pun mempertegas: program nuklir dan kapabilitas rudal adalah “red line” yang tidak akan pernah masuk meja negosiasi. Ini adalah agenda kelangsungan rezim, bukan agenda pembebasan Al-Quds.

Bahkan penasihat kebijakan luar negeri Pemimpin Tertinggi Khamenei, Kamal Kharazi, dalam wawancara eksklusifnya dengan CNN pada 9 Maret 2026, menyatakan dengan keras: “Saya tidak melihat ruang untuk diplomasi lagi, karena Donald Trump telah menipu pihak lain dan tidak menepati janjinya”—pernyataan yang sama sekali tidak menyebut Palestina sebagai alasan bertahan dalam konflik.

Palestina: Bahan Bakar Narasi, Bukan Tujuan Perang

Palestina bagi Iran kini berfungsi sebagai legitimasi moral dan alat mobilisasi opini global—bukan sebagai tujuan operasional perang. Ini adalah fakta yang menyakitkan namun harus dibaca dengan jujur.

Iran sangat mengandalkan solidaritas dunia Muslim dan Global South yang sudah memiliki sentimen kuat terhadap penderitaan Palestina sejak 2023 untuk membangun narasi bahwa “perang ke Iran adalah kelanjutan dari genosida Gaza”. Tujuannya: menggalang tekanan internasional agar negara-negara lain memaksa AS berhenti menyerang Iran. Di forum-forum PBB, delegasi Iran secara konsisten mengaitkan isu Iran dengan Palestina—namun ini lebih merupakan strategi diplomatik daripada komitmen operasional nyata.

Iran pun secara aktif memanfaatkan penutupan Selat Hormuz—jalur yang menanggung 20% pasokan minyak dunia—bukan sebagai pembelaan Palestina, melainkan untuk menciptakan tekanan ekonomi global yang memaksa negara-negara besar menekan AS. Harga Brent Crude melonjak dari $70 menjadi $110+ per barel dalam hitungan hari pasca konflik dimulai—angka yang menyentuh dompet warga dunia, bukan hanya warga Gaza.

Lebih ironis lagi: Lemkin Institute mencatat bahwa perang Iran 2026 justru memberikan Israel “cover sempurna” untuk melanjutkan operasi penghancuran di Gaza sementara mata seluruh dunia tertuju ke Teheran. Perang yang diklaim sebagian kalangan sebagai “pembelaan Islam” itu justru mengalihkan perhatian dari Gaza.

Strategi “Menang dengan Bertahan”: Untuk Siapa?

The New York Times menyebutnya sebagai “asymmetric endurance strategy”—Iran menerima kerugian awal sambil mempertahankan kapasitas eskalasi, meluaskan medan perang ke seluruh kawasan, dan mengandalkan tekanan ekonomi global agar dunia memaksa AS berhenti. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran bahkan menyatakan secara eksplisit: “Iran siap untuk konflik yang berkepanjangan, tidak seperti Amerika Serikat”.

Namun pertanyaannya tetap sama: berkepanjangan demi apa? Demi siapa?

Carnegie Endowment secara tegas menyimpulkan bahwa Iran sesungguhnya “mengirim sekutu-sekutunya ke jalan menuju kehancuran” sejak strategi “Unity of the Arenas” dimulai 2023—di mana Hamas meluncurkan serangan 7 Oktober dengan keyakinan Iran akan ikut berperang secara langsung, namun Iran tidak melakukannya hingga situasi memaksa di 2026.

Al Jazeera bahkan lebih keras: “strategic patience Iran selama ini terbukti gagal mencegah perang ini dimulai”—dan yang lebih mengkhawatirkan, kegagalan itu bisa mendorong Iran menuju kalkulasi yang jauh lebih berbahaya: program senjata nuklir sebagai deterren terakhir.

“Senang Dulu, Tapi Jangan Terlalu Senang”

Adalah hal yang sangat manusiawi ketika umat Islam di seluruh dunia merasa ada semacam kepuasan menyaksikan kekuatan militer menghadapi mesin perang yang selama ini seolah tak tersentuh. Tidak ada satu pun negeri Muslim lain yang berani—atau mampu—melakukan apa yang dilakukan Iran secara militer dalam konflik ini.

Namun kepuasan itu harus diletakkan dalam proporsi yang tepat. Iran bertempur karena Iran diserang, bukan karena Palestina diserang. Iran bertahan karena rezim Iran terancam, bukan karena umat Islam terancam. Dan Iran bernegosiasi—jika pun terjadi—untuk hak-hak Iran, bukan hak-hak Palestina.

Ini adalah konsekuensi dari sistem dunia yang memaksa semua negeri Muslim—tanpa terkecuali—untuk berpikir dalam kerangka perbatasan, bendera, dan kepentingan nasional masing-masing.

Siapa yang Sesungguhnya Dapat Mewakili Kepentingan Umat?

Di sinilah titik fundamental yang membedakan antara negara bangsa dan negara yang menerapkan Islam secara kaffah. Dalam sebuah sistem di mana siyasah dijalankan bukan untuk satu bangsa melainkan untuk seluruh umat Islam—di mana “umat” dalam definisi رعاية شؤون الأمة mencakup setiap Muslim dari Maroko hingga Mindanao—barulah kepentingan Palestina, dan semua kepentingan Muslim di mana pun, benar-benar terwakili dalam kebijakan negara.

Negara seperti itulah yang secara historis menjalankan fungsi perlindungan umat lintas batas—tanpa perlu mempertimbangkan apakah intervensi itu “menguntungkan secara nasional” atau tidak. Karena “nasional”-nya adalah umat Islam itu sendiri. Negara itu adalah khilafah Islam.

Sementara sistem nation state tetap menjadi kerangka operasi semua negeri Muslim hari ini, kita akan terus menyaksikan skenario yang sama berulang: ada kekuatan militer, ada keberanian, ada rudal—namun Palestina tetap terjajah, karena kemerdekaan Palestina tidak masuk dalam national interest negara mana pun yang cukup kuat untuk mewujudkannya.

Perang Iran 2026 adalah cermin bening dari realita itu. Bukan cercaan terhadap Iran, melainkan refleksi jujur tentang batas-batas sistem yang mengikat semua kita hari ini. []

Oleh: Boni Shallehuddin

Daftar Rujukan
• Institute for the Study of War (ISW). “Iran Update Special Report: US and Israeli Strikes, February 28, 2026.” understandingwar.org, 28 Februari 2026.
• Antara News. “Presiden Iran ungkap syarat untuk akhiri perang dengan AS-Israel.” antaranews.com, 11 Maret 2026.
• Kompas. “Iran Ajukan 3 Syarat Akhiri Perang dengan AS dan Israel.” kompas.com, 12 Maret 2026.
• Middle East Institute. “Iran’s Axis of Resistance after the 12-day war: Adaptation, Restructuring, and Reconstitution.” mei.edu, 18 Desember 2025.
• Vox. “October 7 was a strategic disaster for Iran.” vox.com, 4 Maret 2026.
• Carnegie Endowment for International Peace. “Axis of Resistance or Suicide?” carnegieendowment.org, 1 Maret 2026.
• The Logical Indian. “Iran Proposes 3 Conditions to End War With US and Israel.” thelogicalindian.com, 11 Maret 2026. (Sumber primer: postingan akun X resmi @drpezeshkian, 11 Maret 2026)
• Modern Diplomacy. “Iran and the Limits of Maximum Pressure.” moderndiplomacy.eu, 27 Februari 2026.
• Bloomberg. “Iran Says Truce Depends on US, Israel Pledging Not to Strike.” bloomberg.com, 11 Maret 2026.
• The New York Times. “The Goals of the War.” nytimes.com, 4 Maret 2026.
• CNN. “Exclusive: Iran is ready for a long war with the US and only sees one way out.” edition.cnn.com, 9 Maret 2026. (Wawancara langsung dengan Kamal Kharazi)
• Palestine Chronicle. “Iran and Palestine: A War That May Decide the Final Struggle for Liberation.” palestinechronicle.com, Maret 2026.
• UN Security Council Press. “Consolidate Gaza Ceasefire, Halt Escalating Violence.” press.un.org, 27 Januari 2026.
• ANews. “Iranian official says ‘no room for diplomacy,’ signals prolonged war with US.” anews.com.tr, 9 Maret 2026.
• FDD Analysis. “Why Iran’s Gulf Pressure Strategy Won’t Work.” fdd.org, 3 Maret 2026.
• Wikipedia. “Economic impact of the 2026 Iran war.” en.wikipedia.org, diperbarui 2 Maret 2026.
• Lemkin Institute. “Red Flag Alert: Israel-U.S. War of Aggression against Iran.” lemkininstitute.com, Maret 2026.
• The New York Times. “Iran’s Strategy: Expand the War, Increase the Cost, Outlast the Enemy.” nytimes.com, 3 Maret 2026.
• Al Jazeera. “Iran’s strategic patience tactic failed, what comes next could be far worse.” aljazeera.com, 11 Maret 2026.

About Author

Categories